Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim WIRAUSAHA

A father, author of 'The Geek Got The Girl' dan 'Rindu yang Memanggil Pulang' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' dan '2045' (Kumpulan Cerpen), totally awesome geek, urban nomad, sinner, skepticist and believer, great pretender, truth seeker, kompasianer, fiction-writer, poet, space dreamer. https://www.inspirasi.co/ayahkasih https://www.wattpad.com/user/IkhwanulHalim

Selanjutnya

Tutup

Dongeng highlight headline

Gelombang Kedua atau Era Industrialisasi Menurut Alvin Toffler

2 September 2017   22:12 Diperbarui: 3 September 2017   17:07 4696 14 6
Gelombang Kedua atau Era Industrialisasi Menurut Alvin Toffler
Ilustrasi: indianexpress.com

Ketika pintu depan rumahnya di ketuk berkali-kali, Sara sedang di dapur mencampur ramuan cinta. Ternyata tamunya seorang pria dari perusahaan listrik. Sudah berminggu-minggu mereka bekerja di lingkungannya. Suara mobil truk mereka menggeram dan terbatuk-batuk lalu-lalang. Orang-orang berteriak memecah keheningan di pagi hari, saat mereka memasang tiang untuk merentang kabel melintasi jalan, kebun dan ladang. Dan ketika malam tiba, satu per satu rumah-rumah yang terhubung dengan kabel mulai bersinar dengan cahaya aneh sementara tanaman rambat mulai memanjat tiang-tiang listrik.

Sara menatap wajah tamunya tanpa ekspresi. Pagi di musim hujan terasa dingin. Angin berembus kencang, dan pria dari perusahaan listrik itu membungkus tubuhnya dengan jaket tebal berlogo petir. Sebuah helm kuning terbenam di kepalanya.

"Bu," dia berkata. "Saya hendak menyambungkan listrik ke rumah ini hari ini."

"Saya tidak mau," jawab Sara. "Mengapa saya harus membutuhkan listrik?"

"Orang-orang desa sebelah berkata seperti itu juga awalnya. Tapi cobalah Anda berkunjung ke rumah mereka dan lihatlah apa yang mereka dapatkan sekarang. Lampu listrik, microwave untuk memasak, mesin cuci dan televisi."

"Saya menggunakan lampu minyak tanah," jelas Sara, "memasak dengan tungku kayu bakar. Tidak nonton televisi."

"Istri saya suka menonton sinetron di televisi. Dia juga tak ketinggalan gosip artis dan selebriti. Anda nanti juga akan menyukai sinetron dan gosip artis."

"Tidak, tidak akan pernah," Sara merengut. "Saya tidak menginginkannya."

"Meskipun Anda tidak mendaftar untuk pemasangan listrik, saya tetap harus menyambungkan kabelnya."

"Siapa bilang?"

"Pemerintah, Bu. Program pemerintah bahwa setiap rumah harus mendapatkan listrik. Menolak mendapatkan listrik akan dianggap melecehkan pemerintah dan bisa dihukum pidana. Setiap rumah harus disambungkan dengan kabel listrik. Jangan khawatir, kami akan selesai dalam dua jam."

Pria itu kembali ke truknya dan Sara membanting pintu. Dia buru-buru kembali ke dapur karena bau sangit gosong, namun terlambat. Ramuan yang telah dikerjakannya dengan susah payah dibuangnya ke dalam bak cucian piring.

Senja hari, Neil, suami Sara, pulang dengan lelah terukir di wajahnya setelah seharian bekerja di tambang batubara. Tapi kelelahannya sirna saat melihat kabel yang terentang dari jalan ke rumah, dan sinar lampu jalan yang dipasang oleh perusahaan listrik itu.

"Kita punya listrik!" soraknya begitu melewati pintu depan. Senyumnya memudar saat melihat tampang cemberut istrinya.

"Ada apa?" dia bertanya.

"Aku tahu kita punya listrik, dan aku membencinya."

"Kamu ngomong apa, sih? Semua orang mendapatkannya. Kita duluan dari pada desa tetangga di utara, padahal mereka sudah mengajukan petisi dua tahun lebih dulu dari desa kita. Sara, inilah masa depan!"

"Ini bukan masa depanku. Listrik hanya mengganggu mataku, Neil. Bahkan tadi ramuan cinta yang kubuat untuk anak gadis Nyonya Fina rusak gara-gara tukang listrik."

"Anak gadis Nonya Fina? Mengapa dia membutuhkan ramuan cinta? Bukankah dia cukup cantik?"

"Ini bukan ramuan 'cinta' yang itu, tapi ramuan 'penolak cinta'. Dia jatuh hati pada seorang pemuda anak petani dan ibunya membutuhkan pertolonganku."

"Kamu dan seni sihirmu. Kapan kamu berhenti mencampuri urusan orang lain?"

"Aku tidak mencampuri urusan orang lain, Neil. Orang-orang yang datang padaku meminta bantuan. Aku satu-satunya ahli sihir yang masih hidup di kabupaten ini, atau bahkan mungkin di propinsi ini. Apa yang akan dilakukan orang-orang untuk menyembuhkan penyakit mereka? Mengusir jin yang merasuki tubuh anak-anak mereka? Memperbaiki nasib sial karena garis tangan dan tanggal lahir yang salah? Listrik seperti setitik cuka dalam belanga susu, merusak mantra yang menguatkan ramuan."

"Menurutku sains modern memiliki jawaban untuk semua itu."

Neil berjalan ke dapur, menemukan sebotol soda limun dari dalam peti pendingin sihir, dan membuka tutupnya dengan gigi. Saat menenggaknya, dia melihat ke meja makan yang kosong.

"Kulihat seni sihirmu tidak bisa menyulap makan malam, Sara."

"Huh," dengus Sara kesal, lalu berjalan keluar dari pintu depan menuju pekarangan. Dia menatap bola lampu yang menyala di sisi rumahnya. Cahaya pijar itu seperti mengejeknya.

Akhirnya Sara mengambil sapu dan berjalan mendekati bohlam. Dengan sekali ayun, ujung gagang sapu lidi meledakkan bohlam lampu pecah berkeping-keping, membuat Sara melompat mundur ngeri ke belakang. Dia mencoret tanda pentagram dengan jari telunjuk untuk melindungi dirinya dari ion listrik yang berhamburan di udara.

"Bibi Sara, apa bibi baik-baik saja?" sebuah suara suara memanggilnya.

Sara berbalik melihat ke jalan. Anak gadis Nyonya Fina berdiri di depan pagar.

"Tidak apa-apa, Sayang," sahutnya. "Hanya masalah kecil yang sudah diperbaiki."

Sara turun dari teras menuju ke pagar sambil mengutuk dalam hati aliran listrik dalam kabel di atas kepalanya yang bisa ia rasakan menggelitik urat-urat sarafnya.

"Apa kabar, Nagita?" tanyanya saat ia mendekati gadis itu.

"Oh, saya baru saja dari tempat Ruben, untuk mengantarkan brownies coklat keju stroberi panggang yang saya buat khusus untuknya. Tapi dia tak suka." Nagita menunjukkan keranjang yang penuh dengan kue yang ingin diberikan pada calon pacarnya itu.

"Jangan sedih, Sayang. Lebih baik pulang dan habiskan kue itu. Pasti kamu akan merasa lebih baik," kata Sara.

"Saya berharap ada yang bisa menolong agar Ruben membalas cinta saya," gumam Nagita, dan ia menyusuri jalan pulang menuju rumahnya.

"Beritahu ibumu, bibi akan kerumahmu besok pagi!" Sara berseru, membuat gadis itu berbalik dan menganggukkan kepala.

Dia menatap Nagita menjauh pergi, dan hatinya ikut merasa sakit.

Mungkin jika aku pergi cukup jauh ke dalam hutan, membawa barang-barangku, membuat tungku, dan mengolah ramuan cinta yang membatalkan ramuan penolak cinta. Mungkin...

Dia menoleh ke ujung jalan yang menuju ke tempat petani.

Mantra cinta tidak akan sulit untuk dilemparkan pada bocah lelaki itu, seperti tadi siang, renungnya.

Ah, lebih baik tidak, akhirnya dia mengambil keputusan.

Dia berbalik dan melihat suaminya berjalan mondar-mandir melalui jendela dapur.

"Biarlah Neil yang terakhir mencicipinya," katanya sambil tertawa kecil.


Bandung, 2 September 2017