Rela Nggak Merem Demi Green Canyon

13 Juni 2012 20:09:36 Dibaca :
Rela Nggak Merem Demi Green Canyon

Pukul sepuluh pagi kami sampai di sana. Sungguh, ini perjalanan yang  tidak hanya menguras waktu, melainkan juga tenaga. Apalagi bagi mereka yang sama sekali belum tahu di mana letak persisnya Green Canyon. Seandainya Fei, Edi dan Ibo—teman seperjalanan saya ketika itu—bukan merupakan jenis manusia yang pantang menyerah, saya benar-benar ragu bisa sampai ke sana dengan keadaan sehat wal afiat dan hati bahagia (halah!). Untungnya teman-teman saya ini adalah orang yang “ganas” dan “liar”. Mereka adalah pendaki-pendaki gunung yang tangguh, sekaligus taat beribadah (^3^)’ Rasanya hampir tak percaya kami bisa menjadi tim yang solid, meski sebelumnya kami belum saling kenal. Yap, benar! Seorang teman kerjalah yang memperkenalkan mereka kepada saya. Mengetahui bahwa mereka semua adalah para petualang, maka langsung saya ajak saja mereka ngetrip. Dan itu adalah pertemuan pertama kami. Benar. Kemana?” tanya mereka. Ketika saya menawarkan mengajak mereka jalan. “Green Canyon.” “Oke.” Hebat! Tidak pakai banyak cingcong. Baru kali ini saya bertemu dengan orang-orang seperti ini. Yang segera mengiyakan tawaran ngetrip ke tempat yang tidak biasa. Saya benar-benar merasa bersyukur. Hati saya bahagia, serasa terbang di awan-awan ketika itu :D (halah!chapter#2) Wal hasil kami berkumpul pada hari yang telah kami janjikan di Cikarang. Kami sepakat untuk menggunakan motor untuk menempuh perjalanan ke Green Canyon. Sehabis isya’ kami berangkat dari sana lewat Purwakarta. Melewati jalan yang sepi dan dingin menembus Subang dan kemudian Lembang (Bener ga’ ya urutannya? Agak2 lupa soalnya :p). Yang pasti, kami sampai di Lembang sekitar tengah malam. Tempat itu benar-benar dingin, kabut acap kali melintas di jalan-jalan dan mengaburkan pandangan. Kami berhenti di sebuah warung, untuk ngopi-ngopi dan menikmati uli bakar. Sehabis itu, kami lanjutkan perjalanan. Ternyata tidak sesuai prediksi. Meski siangnya saya sudah tidur angkler, malam hari itu saya tetap saja mengantuk. Perjalanan menyenangkan ini jadi rada  berbahaya lantaran kami memutuskan untuk tidak istirahat. Untung driver saya adalah Ibo. Dia benar-benar tangguh. Tinggal kasih dia sebotol kratingda*ng, maka tenaganya akan mengingkat sepuluh kali lipat serupa banteng. Sepertinya memang seperti itu. Ia beberapa kali memergoki saya kebablasan tidur, dan menyuruh saya untuk memeluk tubuhnya erat-erat supaya tidak terjatuh. Sungguh tidak efektif. Andai ketika itu ada jin yang mau mengabulkan permintaan saya, maka saya akan meminta tali rafia untuk mengikatkan tubuh saya ke tubuh Ibo. Supaya tidak jatuh ke belakang, tentu saja. Sejak dari Lembang, kami hanya istirahat sekali di sebuah mushala di pom bensin. Itupun saat hari sudah subuh. Rasa ngantuk amat sangat menguasai kami, tapi mengingat dari tempat itu perjalanan masih harus ditempuh dalam waktu empat jam lagi, maka kami putuskan untuk tidak istirahat lama-lama. Tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Begitulah perasaan bahagia yang saya rasakan saat akhirnya kami sampai di tujuan. Pengorbanan yang kami lakukan benar-benar tidak sia-sia. Maka ketika itu juga kami langsung menuju ke tempat penjualan karcis masuk. Ternyata macam mau naik wahana di Dufan—dan ini seperti ngantri mau naik Tornado atau Roller Coaster—ngantrinya. Panjaaaaang banget. Untungnya sistem antriannya ngga pake sistem labirin seperti di Dufan. Sehingga kami bisa jalan-jalan dulu sesuka hati kemana saja untuk menunggu perahu kami datang. Benar, ngantri ini adalah ngantri perahu. Objek wisata Green Canyon hanya bisa ditempuh dengan menggunakan perahu. Agak lama sih ngantrinya, karena nomer antrian kami ketika itu adalah nomor seratus sekian. Sementara di halo-halo (begini saya biasa menyebut mikrofon) dikatakan bahwa saat ini perahu masih mengantarkan rombongan dengan nomor antrian enam puluh. Seandainya backsound suara informan yang keluar dari halo-halo itu adalah musik dangdut pantura, sungguh, saya benar-benar akan mencatat dalam kamus hidup saya bahwa saat itu adalah saat-saat dalam hidup saya yang paling membuat saya menderita. Satu perahu bisa diisi enam hingga delapan orang ketika itu. Dan masuklah Felix dan satu orang lagi yang saya lupa namanya dalam tim kami. Mereka juga pengunjung yang sama seperti kami, yang ketika itu masuk dalam tim kami dalam rangka patungan perahu ^_^ Begitu melihat wajah Green Cranyon yang sebenarnya, saya jadi merasa bahwa pengorbanan yang kami lakukan tidaklah sia-sia. Rasanya tak percaya. Hari itu adalah lima tahun sejak saya bermimpi ingin berkunjung ke sana. Dan ternyata Tuhan mengabulkannya dengan cara seperti itu. Benar-benar sesuatu :)

Awan Tenggara

/awantenggara

"Jika aku berguru, aku tidak meminta guru yang dapat mengajariku punya kemampuan terbang dan menghilang. Cukuplah bagiku jika sang Guru mau membimbingku untuk belajar menyingkirkan batu di jalan, rela pada keberuntungan orang lain, sabar atas kemalangan diri sendiri, senang melihat tetangganya memiliki barang baru, mencintai anak-anak, menyayangi binatang. Dari guruku, aku tidak mengharapkan pelajaran apapun selain pelajaran untuk merendahkan diri dan merendahkan hati. Jika ada seseorang yang memiliki kualitas kerendahan hati dalam arti yang sebenarnya seperti itu, kepadanyalah aku akan datang berguru."--Prie G.S
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?