Beberapa Jenis Manusia di Bulan Ramadhan

17 Juli 2012 15:50:07 Dibaca :

Maksudnya? Iya, manusia berupa-rupa sifatnya, dan bermacam-macam pula tingkah-polahnya di bulan Ramadhan. Ya udah, baca dulu deh biar terang.

Jadi memang ada beberapa jenis manusia yang menjadikan bulan ramadhan sebagai musim tertentu, nih mereka.

Jenis pertama : Yang memenuhi bulan ini dengan ibadah. Mendekatkan diri kepada Rabb dengan bermacam ketaatan, waktu digunakan untuk mengejar kebaikan dan menutup pintu keburukan dan maksiat. Hati bersyukur, lidah berdzikir, menjauhi sifat kikir, anggota badannya sibuk lagi-lagi untuk ibadah.

Jenis ini ibarat kata dunia itu dipunggunginya, di depannya  ada ridha Allah, mengharap rahmat-Nya, takut akan adzab-Nya *dan bilang siapa  beribadah tidak boleh karena takut diadzab? yang tidak boleh itu beribadah "hanya" karena takut diadzab. Oke, lanjut untuk jenis ini mereka bukan berarti hanya di bulan Ramadhan beribadah, tapi mereka meningkatkan intensitas ibadah mereka di bulan suci, bulan penuh berkah dan pahala terbaik bagi yang terbaik.

Kedua : Yang menjadikan bulan ini kesempatan emas untuk bedagang. Jenis ini menunggu bulan Ramadhan dengan sabar. Buat apa? tidak lain tidak bukan untuk mengembangkan hasil dagang mereka, Aji mumpung. Mumpung banyak yang puasa dan ingin berbuka dengan lauk ini itu, mumpung mereka lagi libur dan berkeliaran di mall dan pasar, mumpung mau dekat rayo banyak yang mau beli baju lebaran, dan mas-mas mumpung lainnya. Ah, benar-benar sia.

Ingat Ramadhan, ingat ngumpulin uang pengisi pundi-pundi  fana. Jenis ini kebalikan dari yang tadi, kalo yang tadi dunia dipunggungnya, yang ini maunya dunia, gak penting tuh yang namanya mas rahmat mas ridho mbak pahala, apaan tuh?.

Ketiga : Yang menggunakan waktunya untuk mengikuti perkembangan baru pertunjukan dan hiburan, mulai dari televisi, nonton film-film baru di disk, ke bioskop, opera, stadion bola, yang kalah taruhan geleng-geleng kepala kayak clubbing di rumah orang gila. Beginilah waktunya dihabiskan untuk ngapelin dari satu acara ke acara lainnya, ga puas film baru lanjut film jadul yang belum pernah ditonton, pen"drama"an berantai, ke tempat hiburan, bioskop dan lain sebagainyalah, yang kira-kira dapat ngabisin waktu sampai magrib menjelang.

Jenis ini nih, kalo ingat Ramadhan ya, ingatnya hiburan-hiburan dan permainan yang menyita waktu dan menghabiskan terang.

Trus, masih ada jenis apa lagi? Masih ada ya? Lanjut deh...

Keempat : Yang menggunakan waktu di bulan suci untuk menjorokkan diri. Terserah deh Ramadhan, dia ngerokok, minum, ngisep, nyakau, ngeganja, dan istilah-istilah gak penting lainnya. Di siapkannya tempat ngadem dan merokok. Masa bodoh dengan tarawih, gak ada sholat yang terlaksana, harta yang dijaga, kesehatan yang dipelihara dan digunakan untuk jalan taqwa.

No comment untuk jenis ini.

Kelima : Yang menjadikan bulan Ramadhan musim makan dan minum. Pergi ke pasar setelah berlapar-lapar makan ini dan minum itu kemudian tergelepar, pulang ke rumah melihat istri dengan tatapan sangar karena belum nyiapin kamar, untung-untung istri ga ditampar.*saya mulai lebay, maaf.

Jenis keserakahan ini, ingat bulan Ramadhan dengan bermacam-macam makanan asyik yang berlimpah ruah. Tahunya memenuhi perut dan tak peduli kegemukan.

Keenam : Jenis manusia yang bermalas-malasan. Ya enak kok, ngadem aja dirumah, kalo udah bosan, hengkang kemana kek terserah meluruskan pikiran yang kosong melompong.

Ketujuh : Yang suka berperang dan menimbulkan keributan antar sesama muslim.

Kedelapan : Yang sukanya menebar segala jenis bid'ah, khurafat dan kesesatan.

Wes?

Masih ada yang lain. Sifat manusia dan karakternya beragam.

Wes?

Wes, lah...

Oh ya, tunggu... Karena ayat udah banyak yang hafal. Ini saya tambahkan satu  syair aja dari Rumi tentang Ramadhan.

فَلَيْتَ اللَّيْلَ فيْهِ كَنَ شَهرًا   #   وَ مَرَّ نَهَارُهُ مَرَّ السَّحَابِ




Maka alangkah baiknya jika satu malam bulan Ramadhan itu lamanya sebulan, sedangkan siangnya berjalan secepat perjalanan awan.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?