HEADLINE HIGHLIGHT

Rendang Traveler, Menelusur Jejak Bertuah Kuliner Rendang

15 Juni 2012 10:22:11 Dibaca :
Rendang Traveler, Menelusur Jejak Bertuah Kuliner Rendang
inilah buku sebagai debut pertama sang penulis Reno Andam Suri

Siapa tak kenal rendang? Kuliner asli Indonesia dari daerah Sumatera Barat ini popularitasnya sudah mendunia, terlebih sejak dinobatkan sebagai salah makanan terenak versi CNN.go. Namun tentu tak semua orang tahu asal muasal, aneka seluk beluk rendang, keotentikan, terlebih jejak tuahnya.

Menyusuri jejak orisinalitas rendang dari daerah asalnya inilah yang akan saya coba paparkan sebagaimana tertuang dalam buku Rendang Traveler yang dibukukan seorang sahabat saya ini. Menjadi istimewa, kala Reno Andam Suri sang penulis, menorehkan pengalamannya berkeliling Sumatera Barat, dalam sebuah reportase perjalanan budaya. Reno mereportase perjalanannya menguak heritage makanan khas Indonesia ini, langsung dari daerah asalnya.

Reno bukan baru sekarang mengenal rendang. Ia memang perempuan asli minang, yang kebetulan juga menekuni usaha penjualan rendang online. Usahanya yang sudah berjalan 8 tahun lumayan berkibar. Tak heran ia akrab dengan dunia rendang. Harian Kompas Minggu pun pernah meliput usahanya, seperti yang pernah saya tulisdi sini. Kebetulan lagi tulisan saya itu di hybrid di kompas.com dan berkesempatan masuk freez kompas cetak edisi 1 Oktober 2011.

Tak seperti buku yang mengulas kuliner pada umumnya, di sini takkan anda jumpai resep masakan rendang, karena memang bukan itu yang ingin dituangkannya. Kalau resep masakan mungkin sudah banyak aneka buku membahasnya. Penulis mengatakan, tak ada resep paling benar dan paling unggul dari setiap masakan rendang ini. Semua memiliki kekhasannya masing-masing.

Kisah perjalanan Reno ini menguak tentang hal ihwal mengenai filosofi rendang, dan aneka jenis rendang dari setiap daerah yang dikunjunginya. Di mulai dengan bagaimana awal mengolah kuliner ini, mengungkap aneka cara mengolah cabai, bumbu dan cara memasak yang unik dan sangat tradisional, sampai kekhasan rendang di setiap sudut kota-kota di pelosok Sumatra Barat ini. Dilengkapi pula dengan reportase perjalanan wisata dan budaya asli ranah minang.

Menariknya, ternyata rendang tak melulu berbahan baku daging. Di beberapa daerah dijumpai aneka rendang yang mungkin jarang kita temui. Semisal rendang belut, rendang lokan (kerang air tawar), rendang ubi kayu, rendang telur, rendang cubadak (nangka) yang mirip olahan gudeg jogja. Ada juga rendang yang cocok untuk vegetarian, semisal rendang rendang ubikayu dan rendang sapuluik itam. Rendang sapuluik itam, terbuat dari tepung ketan hitam yang dicampur telur, dicetak, dikukus, kemudian hasil jadinya adonan ini menjadi kotak-kotak dan dimasak menjadi rendang. Saat matang rendang sapuluik itam ini rasanya sangat mirip seperti rendang hati sapi lho!

1339039070255517446
rendang daging yang umum kita kenal

.

13390392631149565788
Rendang belut, olahan kreatif lain dari rendang

Cerita seputar bagaimana rendang diolah menjadi bagian paling menarik. Sejak dari pemilihan bahan-bahan, seperti kelapa yang untuk memetiknya menggunakan jasa baruak (monyet) yang dilatih sepintar manusia dalam memilih kelapa, kemudian bagaimana kelapa ini dibuat menjadi santan dengan alat-alat tradional yang sangat unik dan khas. Penggilingan cabai yang menggunakan batu lado asli padang, memilih bumbu-bumbu, hingga memasaknya menggunakan tungku kayu bakar dengan wadah kancah (penggorengan) yang cukup besar.

13390394951251347127
penulis mencoba langsung mengaduk rendang dari kancah super besar diatas tungku kayu

Selain itu, Reno juga menuliskan perjalanannya menyusuri jejak budaya asli minang yang masih dipertahankan di banyak pelosok di wilayah Sumatra Barat ini. Mulai dari wilayah pesisir (laut) seperti Painan, Pariaman, sampai ke daerah darek (gunung), seperti Payakumbuh, Batusangkar, Bukit tinggi. Menjumpai perempuan-perempuan minang asli, yang masih sangat melestarikan keotentikan budaya kuliner disana terutama cara mereka mengolah rendang. Menjelajah dan melihat langsung bagaimana dapur asli mereka yang berdiri di atas rumah panggung bagonjong khas minang. Mendatangi situs-situs budaya seperti istana pagaruyung.

Membaca kisah Reno ini, kita serasa dibawa pada pengalaman bertualang ala back packer. Berisi begitu banyak gambar-gambar apik yang bercerita tentang keindahan dan keunikan alam Sumatera Barat. Dan gambar-gambar yang tersaji ini sesungguhnya sudah cukup bercerita, mengenai setting dimana penulis berada dan segala hal yang ditemuinya.

1339039891865340389
salah satu gambar keindahan wisata di Painan, kota di pesisir Sumatra Barat

Untuk debut pertama, apa yang disajikan Reno ini cukup lengkap, dan patut diapresiasi. Ide tulisannya menarik untuk disimak. Mengangkat tuah dan keotentikan heritage budaya asli kuliner Indonesia. Setidaknya seorang Reno sudah ikut melestarikan budaya tanah kelahirannya. Karena siapa lagi yang akan menjaga budaya negeri ini, kalau tidak kita mulai dari kita sendiri. Jangan sampai saat budaya asli kita diakui negara lain, kita baru tersadarkan. Harusnya ada dukungan penuh pemerintah, untuk membuat budaya apapun yang kita punya, bisa mendunia.

Tak kurang pakar kuliner sekelas Bondan Winarno mengapresiasi karya Reno. Ia bersama Jusuf  Kalla dan Petty S Fatimah, selaku editor in Chief Femina Magazine, juga menuliskan kata pengantar di dalamnya. Direncanakan akan terbit versi bahasa Inggrisnya.

Dan akhirnya, saya rekomendasikan repotase perjalanan ini bagi anda pencinta budaya, traveler, sekaligus penikmat dan pemerhati kuliner. Sebagai wujud kebanggaan dan kecintaan saya pada warisan kuliner nenek moyang di mana saya berasal, Pariaman, Sumatera Barat.

.

Tulisan ini  saya sertakan untuk lomba Daihatsu Jelajah Kuliner Unik Nusantara. Bermimpi saya bisa ikut menjelajah tuah dan jejak kuliner Rendang sebagai warisan budaya tanah leluhur nenek moyang saya ini bersama Daihatsu Indonesia. Semoga!

.

Aulia Gurdi

/auliagurdi

TERVERIFIKASI (HIJAU)

spread wisdom through writing...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?