HIGHLIGHT

Kisah Ketegaran Suami Mendampingi Istri Penderita Schizophrenia

16 Juni 2012 05:07:42 Dibaca :
Kisah Ketegaran Suami Mendampingi Istri Penderita Schizophrenia
inilah sang ayah hebat dengan 4 buah hatinya yang kini piatu

Apa yang anda lakukan saat anda dijepit masalah berat yang anda begitu sadar tak ada sesiapapun bisa menolong anda? Siapakah tempat bergantung kala segala jalan menyelamatkan diri tertutup tanpa ada sedikitpun celah? Apakah yang anda ingat untuk anda lakukan saat pesawat yang anda sedang tumpangi di ketinggian mengalami masalah pada mesinnya? Cobalah anda buat survey untuk semua pertanyaan ini. Saya akan sangat yakin bahwa mayoritas jawabannya adalah berdoa.

Ya... Doa. Ritual doa menyiratkan makna manusia adalah mahluk Tuhan dengan segala keterbatasan. Manusia punya limit menghadapi hantaman ujian dan cobaan. Dari doa pula tersirat betapa eksistensi ke-Maha-an Tuhan adalah abslout sifatnya. Kita bertekuk lutut padaNya pada satu masa di episode kelam hidup kita.

Terkait doa, saya mengambil hikmah dari sebuah kisah nyata ketegaran seorang suami mendampingi istrinya yang seorang penderita schizophrenia. Ditulis oleh seorang kompasianer bernama Sesotyo ini. Dari awal, judul tulisan yang dibuatnya sudah sangat menarik perhatian saya. Sepertinya ia benar-benar menulis dengan segenap cinta yang ia punya pada almarhumah istrinya. Tulisan yang jujur, yang mengajarkan saya makna ketegaran, ketabahan dan kesetiaan. Membaca kisah hidup  duda beranak 4 ini, saya seperti disuguhkan fragmen kehidupan yang memiriskan hati. Namun semuanya nyata. Kisahnya sukses membuat saya haru biru.

Mas Sesotyo bertutur dengan runut kisah perjalanan cinta dan perjuangan hidup bersama almarhumah istrinya yang seorang penderita schizoprenia. Penyakit jiwa kompleks yang saya tahu persis amat sangat sulit untuk disembuhkan. Kenapa saya tahu? Karena saya mempunyai kerabat yang juga menjadi penderita schizophrenia. Kisahnya pernah saya tuliskan disini.

Mas Sesotyo bertahan untuk tetap menyayangi dan merawat istrinya hingga ajal menjemputnya. Begitu berliku jalan yang dilaluinya. Bertahun didera lelah fisik dan mental. Berurai air mata. Ia mengajarkan kita bahwa setelah begitu banyak ikhtiar yang ia jalani, pada akhirnya hanya doalah yang mampu membuatnya bertahan menghadapi dahsyatnya deraan ujian hidupnya. Doa dan doa. Seburuk apapun keadaan yang menghimpitnya.

Dan Subhanallah...dengan membaca rangkaian kisahnya yang berseri inilah, saya menjadi semakin yakin betapa Tuhan tidak tidur. Gusti Allah mboten sare. Berdoalah. Disanalah akan kita temukan ketenangan. Doa mengalirkan energi baru kedalam jiwa manusia yang memang Tuhan ciptakan sangat rapuh. Serupa fungsi charge. Doa mampu merecharge jiwa bahkan yang signalnya tinggal satu digit sekalipun.

Tak perlu berpanjang-panjang. Simaklah tulisan mas Sesotyo ini yang sarat pembelajaran hidup ini. Semoga anda bisa memetik hikmah dari kisahnya. Membuat anda bisa bersyukur akan anugrah hidup yang Tuhan beri. Terutama untuk mereka keluarga pendamping ODS (Orang Dengan Schizophrenia).

Teriring doa semoga Allah merahmati keluarga kecil mas Sesotyo, seorang ayah hebat  dengan 4 anak-anaknya yang lucu ini. Dan semoga kebahagiaan tak pernah jauh dari kalian meski tanpa sosok ibu disisi...

.

Ini link tulisan bagian pertama

Bagian berikutnya silahkan anda telusur pada profilnya, kebetulan kisahnya belum usai masih karena masih bersambung...

.

Selamat membaca...dan siapkan tissu anda... ^^

.

.

Aulia Gurdi

/auliagurdi

TERVERIFIKASI (HIJAU)

spread wisdom through writing...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?