HIGHLIGHT

Hapus Komen? Pikir Lagi Deh!

24 September 2012 03:47:50 Dibaca :

Kita yang aktif di blog keroyokan kompasiana ini, pasti pernah ada yang mendapati tulisannya dikomeni negatif atau kontroversi. Tulisan yang kita anggap sejuk saja, terkadang komennya bisa sangat beragam. Dari mulai komen yang pedes, kontroversi, nyeleneh, OOT, juga tak kalah banyak yang provokatif.


Terlebih kalau yang dibahas isu-isu sensitif semisal isu sara dan politik yang aktual. Wehh...bisa lebih seru lagi tuh diskusi dan perdebatannya. Tak jarang ancam mengancam, cela mencela, hujat menghujat mewarnai kolom komentar. Liat deh postingan Pilkada kemarin. Tulisan tentang salah satu kandidat pasti ramai pengunjung. Dikomeni pro dan kontra dari para pendukung kandidat.


Kebetulan saya sering mengikuti diskusi lintas agama di sebuah grup medsos. Disana isu sara menjadi bahan yang dikupas tuntas dan dikuliti habis, lengkap dengan pujian, celaan dan caci makinya. Kalau anda yang bertelinga tipis saya sarankan sebaiknya jangan ikuti, karena saya jamin anda bisa shock dan mendidih dengan dinamika yang ada disana, hehe...


Tapi menghadapi yang demikian, saya melihatnya sebagai sebuah proses pendewasaan dalam belajar berdemokrasi dan berpikir. Kalau setiap kita bisa bersikap bijaksana, harusnya tak mudah terpancing untuk marah dan gusar menghadapi komen yang kita anggap nyeleneh. Karena sejatinya komentar-komentar semiring dan sekontroversi apapun itu adalah sebuah dinamika. Kita jadi tahu aneka karakter pembaca. Ada yang nimbrung komen sekedar memicu kontroversi saja, tak kurang banyak juga yang memang senang berdiskusi. Memaparkan pandangan, mempertahankan pendapatnya. Eyel-eyelan, ngotot-ngototan. Semua lazim adanya di negara yang sudah bereformasi. Bahkan sekaliber orang nomor satu di negeri ini aja, bisa kok dikritik habis. Meski tentu saja, kita harus tetap berhati-hati dengan ad hominem yang menyerang personal, ada hukum yang berlaku, jangan sampai nasib kita malah berakhir di penjara.


Begitulah demokrasi. Berjuta kepala, berjuta pula pemikirannya. Seringkali, kita bisa besar bukan karena pujian yang mengelu-elukan kita ke tempat yang terhormat. Justru sebaliknya sangat mungkin kita menjadi tangguh karena kritikan, celaan, dan hinaan. Dari sanalah kita belajar melihat kekurangan diri. Adakalanya kita perlu bersikap ksatria dan berbesar hati mengakui kesalahan ataupun membenarkan pendapat orang yang menjadi lawan bicara kita, bila akhirnya kita anggap dia benar.


Jadi menurut saya, bijaklah menghadapi komen. Kalau  diskusi sudah OOT, ingatkan saja untuk kembali on the track. Bila dirasa diskusinya sudah mengarah menjadi debat kusir yang berkepanjangan, sudahi saja dengan menjawab seperlunya, kalo masih ngeyel juga ya diamkan. Toh tak ada siapapun yang bisa memaksakan kehendaknya. Nanti orang lain juga yang akan menilainya. Tak perlu dipancung komennya.


Hal baik lainnya yang bisa diambil dari diskusi dalam kolom komentar ini, pembaca lain bisa ikut belajar. Pasti ada banyak hal yang bisa dipetik. Dari sana sangat mungkin akan muncul wacana kritis yang mencerahkan, bahkan bisa menghadirkan inspirasi untuk membuat postingan baru.


Meski menghapus komen adalah hak asasi setiap kita, dan tombol serta fiturnya disediakan admin, namun rasanya untuk menggunakannya perlu dipikir ulang. Karena sebuah tulisan meski itu hanya sebentuk penggalan komen adalah juga sejarah. Menorehkan olah pikir seseorang sebagai apapun kualitasnya. Sebaiknya tindakan menghapus komen ini adalah jalan eksekusi paling akhir yang bisa kita pilih bila kita anggap sudah sangat perlu. Jangan sampai karenanya kita mematikan dialektika demokrasi. Setidaknya itu menurut saya. Entah menurut anda.


Mau komen berbeda? Monggo deh...saya jamin ga akan saya pancung komen anda :)


.


Met Pagiiiii all...


Cemunguuudd yaa ^^


.

Aulia Gurdi

/auliagurdi

TERVERIFIKASI (HIJAU)

spread wisdom through writing...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?