HIGHLIGHT

Benarkah Sabar Ada Batasnya?

02 Juli 2012 17:30:25 Dibaca :
Benarkah Sabar Ada Batasnya?

Sebagai makhluk sosial yang tak pernah terlepas dari bantuan orang lain, pastinya kita memiliki banyak teman. Dalam menghadapi tingkah laku mereka yang tentunya berbeda dengan kita pribadi dibutuhkan kesabaran. Apalagi tingkah mereka yang amat mengesalkan, rasanya meluapkan emosi dengan marah-marah, minimal saat itu batin kita terpuaskan, bukan? Pastinya kita tak memikirkan dampak dari perbuatan itu.

Terkait dengan judul tulisan ini, Saya jadi teringat oleh kata-kata seorang mantan teman dekat, sebutlah namanya Juna. Ia selalu mengatakan bahwa setiap perlakuan yang kita alami, hadapilah dengan kesabaran.

***

Suatu ketika saya pernah berucap sambil marah-marah ditelepon, “udahlah, jangan pernah bicara lagi sama aku, aku bosan sama kamu, pembicaraanmu tak jelas juntrungnya kemana, dikit-dikit nasehatin aku”. Ia menanggapi saya dengan sikap tenangnya, “da,, sabar ya, jangan marah-marah aja, nanti auda sakit”. Mendengar ucapannya yang saat itu mencoba memberi perhatian kepada saya, saya malah tambah berang dan berkata, “kamu jangan sibuk deh ngurusin aku, jangan sok-sok cari perhatian, sabar apa? Bosan aku, sabarku juga ada batasnya ya Juna”. Dengan tetap memberi perhatian ia pun mengatakan, “ Jangan pernah berkata bahwa sabar itu ada batasnya. Rasa sabar itu tak pernah berbatas. Manusia sendiri yang memberi batas untuk sabar itu”.

Saya akui, saat itu emosi saya masih cukup meledak-ledak dan teramat sering marah-marah kepadanya untuk suatu hal yang tidak terlalu harus diselesaikan dengan amarah. Apalagi memang dasarnya saya tidak suka padanya, jadi apapun perkataannya yang baik, tetap saja selalu salah di mata saya. Namun kalimat terakhirnya itu membuat saya berpikir, memang benar yang ia katakan.

Sabar Membuatmu Mandiri

Ucapan dari Juna cukup menohok saya yang dahulu memang tak pernah sabaran jika mengalami sesuatu hal. Apalagi teman-teman memang terkadang tidak bisa saya andalkan untuk beberapa hal yang menurut saya pribadi sangat penting. Kalau saya ajak si kawan ini ke suatu tempat, dengan berjuta alasan ia pasti menolak. Kini dengan sikap yang mencoba tetap sabar saya hanya mengatakan, “oo.. tidak apa-apa, mudah-mudahan bisa lain kali ya”. Kemana-mana saya selalu berusaha sendiri, bertemu dengan orang-orang baru pun sendiri, bahkan berjam-jam duduk di warung kopi dan cafe pun saya sendiri karena ingin menggunakan fasilitas wifi.

Keseringan sendiri membuat saya berani untuk mencoba hal-hal baru. Misalnya saja saya sendirian pergi ke Berastagi dengan mengendari sepeda motor. Perjalanan kesana bukannya mudah dimana saya terus menemukan jalan yang berkelok, tak lupa jalanan yang curam pun harus saya lewati. Menggunakan sabar, akhirnya saya kembali dengan selamat, walaupun sempat jatuh juga sih disana, hiksss...

Kembali saya teringat pada perkataan si Juna ini, Sabar tak pernah berbatas. Sejak saya mengenalnya di SMP tahun 2000 yang lalu, ia tak pernah mengeluh apalagi balas memarahi saya. Sifat penyabarnya selalu ia bawa kemanapun. Yang lebih jelas, sabarnya itu saya lihat di saat peristiwa Tsunami yang sama-sama kami alami 26 Desember 2004 lalu, Juna ini menjadi salah satu korbannya, dimana ia terhimpit mobil sehingga beberapa bagian tubuhnya mengalami sakit dan mengalami kebocoran pada sebagian kepala sehingga air tsunami itu masuk ke dalam kepalanya.

Pengobatan pun ia lakukan di Medan dan setelah sembuh ia kembali ke Banda Aceh dan melanjutkan pendidikan disana hingga suatu ketika ia mendapat jatah pertukaran pelajar selama beberapa bulan ke negeri Kangguru Australia bersama beberapa teman yang lain. Kembali ke Banda Aceh dan menyelesaikan SMA, ia pun mendapatkan Beasiswa untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di kota Bogor. Hidup jauh dari orang tua dan kampung halaman tercinta adalah bukan suatu hal yang mudah. Dari mulai mengurus diri, kuliah, rumah kostnya ia bisa kerjakan sendiri. Dengan tetap memelihara sikap sabar tadi, ia mampu lewati berbagai cobaan apalagi ia masih sering merasakan perih di tubuh dan pusing di kepalanya akibat tsunami dulu. Hidup sendiri juga membuatnya dapat bertanggung jawab kepada hidupnya. Ia menjadi mandiri. Lulus kuliah ia kembali ke Banda Aceh dan sekarang ia telah bekerja di salah satu Bank Syariah di Sabang.

Tak lupa ia selalu mengingatkan saya agar selalu memelihara sikap sabar dimanapun saya berada. Apalagi sejak Tsunami sampai tahun 2009 saya tidak tinggal bersama ibu saya. Saya tinggal bersama keluarga abang saya, namun semuanya saya yang mengurus sendiri. Baru lebih kurang 3 tahun ini saya tinggal lagi dengan ibu saya.

***

Melalui tulisan ini saya harapkan agar sebagai sesama manusia kita lebih mengedepankan sikap sabar tehadap sesama tiap kita berinteraksi dalam kehidupan nyata maupun maya. Jadi jangan pernah berkata, “sabarku ada batasnya dalam menghadapi seseorang”, sebab sejatinya Sikap sabar tak pernah berbatas, hanya manusia saja yang memberi batasannya sehingga sedikit banyak menghambat keinginan dan kreatifitasnya.

Tapi jika anda bertemu dengan orang yang sabarnya luar biasa dalam menghadapi anda, hendaklah jangan memanfaatkan kesabarannya itu dengan menganggap ringan a.k.a sepele kepada orang itu.

Semoga kebodohan saya dalam menghadapi Juna dulu tak berulang kepada pembaca sekalian.

Selamat Pagi

Auda Zaschkya

1341225983347516551

Auda Zaschkya

/audazaschkya25071988

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Realita adalah Inspirasiku Menulis
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?