Sang Musafir

29 Juni 2012 11:29:00 Dibaca :
Sang Musafir

Mohamad Sobary punya resep sendiri untuk membuat pembaca bukunya (baca : saya) merasa nyaman untuk terus menerus mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri.  Merenung, menimbang, lalu berlanjut dengan melemparkan pertanyaan berikutnya. Tak banyak buku yang membuat saya seperti itu. Tak banyak pula buku yang membuat saya bolak-balik menempel kertas kecil warna-warni di banyak halamannya, sebagai penanda kalimat-kalimat yang kena buat saya. Kena di sini tak hanya berarti saya setuju dengan apa yang ditulis Sobary, tapi bisa juga berarti saya kena tendangan pisang, kena sindir dengan pelan tapi tepat sasaran. Ini buku kedua karya Mohamad Sobary yang saya baca. Buku pertamanya yang saya baca adalah Kidung, hadiah ulang tahun dari sahabat saya. Intinya, Kidung membuat saya ketagihan mencari buku lain karya Mohamad Sobary. Ketagihan yang hampir sama dengan ketagihan yang saya rasakan pada cerpen-cerpen karya Gunawan Maryanto. Ketagihan semacam ini membuat pencarian menjadi mendebarkan. Untunglah saya tak lupa singgah di toko buku Taman Ismail Marzuki. Di sana saya temukan Sang Musafir. Sang Musafir adalah kisah tentang pergulatan tokoh Aku yang mendapat mandat untuk menjadi pemimpin umum dan pemimpin redaksi kantor berita milik pemerintah. Dalam buku ini, tokoh Aku bicara banyak hal, mulai tentang masa kecilnya, Tuhan, keluarga, rasa bahagianya ketika bekerja di “rumah kebebasan” Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hingga upayanya untuk menghadapi “politik kantor” di tempat tugas barunya. Ujian yang dihadapinya di kantor baru tak menggoyahkan tekadnya untuk bekerja dengan baik, dengan lurus, sesuai kata nuraninya. Dalam buku ini, Mohamad Sobary seperti sedang bicara dengan dirinya sendiri tentang apa yang dia rasakan ketika menjadi pemimpin. Hal yang sama juga saya dapati ketika membaca novel Kidung yang menceritakan masa kepemimpinan Mohamad Sobary di Partnership. Dua buku ini semacam otobiografi bergaya novel. Kalimatnya mengalir lancar, menghanyutkan, kaya pengalaman. Bagi mereka yang akan (atau ingin) jadi pemimpin untuk orang lain, dua buku tersebut bisa jadi pilihan bacaan. Kalimat-kalimatnya memang tak sebombastis buku-buku motivasi, tapi kesederhanaannya justru membawa perenungan.

Judul            : Sang Musafir Penulis        : Mohamad Sobary Tebal            : 265 hlm Terbit           : Cetakan pertama, 2007 Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?