Taubat..., Komunikasi Kecil Mengatasi Perbedaan Agama !

01 Agustus 2012 00:45:33 Dibaca :

Berbagi tentu bisa dilakukan dengan komunikasi sambil lalu hingga curhat habis-habisan. Dan curhat kecil ini bukan hasil rekaman bukan juga hanya rekaan tetapi "catatan" yang mendapat polesan saja. Saling Curhat singkat saat berpapasan sepulang Dhodok dari sholat Subuh diceritakan oleh Doddy kepada penulis.

.........................................................................

Dhodok : = Pagi pak, pagi-pagi mau ke gereja ?

Doddy : =Eeei mas Dodok, sudah pulang dari masjid ? Bagaimana ada kabar berita apa ?

Dhodok : =Apa pak ? Khotbahnya Ustadt lagi soal tobat. Taubat katanya itu niat , harus ada penyesalan dosa biar Gusti Allah mengampuni dosa kita. Kan di gereja pak Doddy juga sering dengar.....Bukan ? Sebenarnya saya juga heran apa tidak ada cerita lain.....

Doddy : =Cerita bagaimana pak, kayak sinetron aja pakai ada cerita....

Dhodok : =Maksudku bahan khotbah itu lho pak ?

Doddy : =Dari jam berapa bapak tadi di masjid ?

Dhodok : =Boleh dibilang dari kemarin pak, orang rumah saya disini dekat masjid ituttuuuu.

Doddy : =Nanti aja kalau begitu saya mampir kerumah anda sepulang dari gereja. Kita omong-omong. Bisa ?

Dhodok : =Ya bisa tooo. Jawabnya denga logat Jawanya yang kental.

Doddy punya cerita. Dia mau menceritakan nanti sepulang dari gereja di pagi itu. Dodok teman akrab dalam pergaulan sehari hari meski beda latar belakang agama maupun pendidikan.

Doddy punya cerita. Bahwa dia mempunyai mas Tarno teman di tugas palayanan umat gereja. Mereka sering beda pendapat, dalam bekerja, dalam mengambil keputusan, dalam memilih cara kerja dan sebagainya.

Doddy mulai curhat. Curhat kepada Dodok teman akrabnya yang beda agama beda pendidikan beda umur tetapi sangat sering sehati dengan Dhodok. Itulah hati orang....

== "Pak Dhodok, saya punya cerita. Saya kira anda tahu kan Mas Tarno. Dengan dia saya sangat sering berantem dengan seribu kata-kata. Padahal kami itu dari dulu kenal. Satu kelas di sekolah. Tetapi ya sejak dulu saya biasa berbeda pendapat. Padahal satu iman satu gereja.. (..mungkin dia tarik napas dulu..)

== "Pak Dhodok, saya tadi bertaubat. Saya menyesal bahwa kemarin dulu saya bertengkar. Saya sampai bilang kagak mau berteman lagi sama dia... Saya kemarin dulu berbeda pendapat, dan Tarno itu marah-marah. Karena saya tidak setuju terhadap rencananya. Dan karena dia marah saya ikut marah."

Dhodok menyambung saja : ==" Terus pak Doddy sekarang sudah tidak marah lagi? Bapak bilang bertobat....?

Doddy berlanjut cerita : == " Betul pak, saya bertaubat kepada Tuhan yang Maha Pengasih. Saya menyesal kenapa saya terlalu cepat menunjukkan perbedaan pendapat. Padahal saya kan bisa mengatakan persamaan pendapat saja dahulu sebelum soal adanya perbedaan. Saya benar menyesal karena saya mengecewakan Tarno."

Dhodok menanggapinya : == "Kalau begitu cocok deh sama khotbahnya pak Ustadt pagi tadi, bahwa Taubat itu mesthi dilanjutkan penyesalan dan penyesalan itu memberi buah kedamaian...."

Doddy setuju dan menyambung : == " ...dan kebahagiaan !!!"

..................................................................

Penulis mencatat : Beda iman agama pendidikan bisa diatasi dengan seringnya komunikasi keseharian yang jujur dan tulus dan berlanjut pada kerja sama nyata. Keakraban didasarkan pada kesesuaian pendapat dalam hal-hal kecil keseharian, memberi kedamaian diri dan hikmah bagi seluruh komunitas.

Emmanuel Astokodatu

/astokodatu

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Syukuri Nostalgia Indah, Kelola Sisa Semangat, Belajar untuk Berbagi Berkat Sampai Akhir Hayat,
Selengkapnya...