PILIHAN

Konfusius dan Competitiveness dalam Globalisasi (sebuah pandangan)

17 Juli 2011 15:19:08 Diperbarui: 26 Juni 2015 03:36:24 Dibaca : Komentar : Nilai :

Tahun ini kita patut berbangga diri, karena menurut The global competitiveness report 2010-2011 , world economics forum peringkatcompetitiveness Indonesia meningkat dari peringkat 55 ke peringkat44.Laporan ini diadakan setiap tahun dan melibatkan 144negara maju dan negara berkembang.Terminology competitiveness memang sudah lama dikenal, awal yang terdeteksi dari sejarah pemikiran ekonomiadalah pemikiran David Richardo pada abad ke-18 , lalu semakin berkembang dalam tiga dekade belakangan. Dalam literatur daya saing memiliki interpretasi dan pemahaman yang beragam,seperti yangdinyatakan Michale e. Porter.
“There is no accepted definition of competitiveness. Whichever definition of competitiveness is adopted, an even more serious problem has been there is no generally accepted theory to explain it . . .. “ (Porter, 1990).

“Competitiveness remains a concept that is not well understood, despite widespread acceptance of its importance . . . . “(Porter, 2003, 2002b).
Terlepas dari pemahaman tentang daya saing yang "fleksibel", daya saing menjadi sangat pentingdalam beberapa dekade belakangan merunut pada kerjasama ekonomi internasional yang semakin gencar diadakan sebagai proses dari globalisasi. Apalagi dengan adanya struktur ekonomi yang berbeda dan keterbatasan lainnya yang mengharuskan kita berhubungan dengannegara lain untuk memenuhi kebutuhan.

Pentingnya daya saing dikemukakan oleh IMD ( Intstitute Management Development) , semenjak terbentuknya WTO (world trade organization) pada 1995. WTO beranggapan bahwa resesi yang terjadi dalam beberapa dekade ini termasuk depresi pada tahun 1930 adalah hasil dari ekonomi tertutup dan proteksi, untuk itu WTO sangat menkankan pada perdagangan internasional. Sehingga peranan daya saing sebagai pengukur kemampuan suatu negara untuk bertahan dalam persaingan globalisasi.

Untuk mengukurseberapa kompetitif sebuah negara International Institute for Management setidaknya ada 4 indikator yang dinilai secara kuantitatif yaitu, Kinerja ekonomi , efisiensi pemerintah , efisiensi bisnis dan kondisi infrastruktur. Indikator inilah yang mengantarkan negara-negara seperti China, Singapura, Taiwan, Hongkong,Malaysia, Brunai darussalam, swis, brasildan negara asia lainnya tumbuh dua digit dalam beberapa dekade belakangan.

Jika dilihat pada polanya kita akan menemukan, negara-negara yang sekarang mendominasi ekonomi adalah negara penganut konfusius., China, Taiwan, Singapura, dan Hongkong.Terlepas dari penempatan ganda ajaran konfusius sebagai sebuah filsafat atau sebagai sebuah agama.Perkembangan ajarankonfusius di negara asalanya, China, mengalami pasang surut. Seperti dalam masa kepemimpinan Ma0zedongyang melarang pengamalan ajaran konfusius ,lalu selanjutnya pada masa pembangunan ekonomi ajaran konfusiusjugasempat menyurut setelah kemudian kembali bangkit ketika China menyadari adanya dampak negatif darikebijakan ekonomi pertumbuhan tinggi . Dampak negatifyang ditimbulkan terutamasemakin meradangnya masalah, sosial, moral dan politik .Begitu juga dengan negara-negara konfusius lainnya di Asia.

Dalam kenyataanya di tengah kebangkitan ekonomi negara penganut konfusius , muncul gejala kemerosotan soal tanggung jawab sosial akibat sistem kapitalisme yang secara de facto diterapkan pada masing-masing negara. Ajaran utama Confuciusyang menekankan cara menjalani kehidupan yang harmonis dengan mengutamakan moralitas atau kebajikan menjadi satu-satunya obat dari masalah tersebut. Seseorang dilahirkan untuk menjalani hubungan tertentu sehingga setiap orang mempunyai kewajiban tertentu. Sebagai contoh, kewajiban terhadap negara. kesadaran yang seperti ini jika dijalankan secara konstiunitas maka akan menciptakan keseimbangan dalam sisi makro. Lebih jauhnya lagi, ketika semua masyarakat mematuhi peraturan yang ada serta infrastruktur institusi dibangun dengan baik. Maka semua pelaku ekonomi bisa menjalankan fungsinya dengan efektif. Seperti pemerintah yang menjalankan fungsinya sebagai regulator, para entreprenuer sebagai pelaku usaha dan masyarakat pun turut membantu menciptakan dan merasakan kenyamanan dalam bernegara.

Sebenarnya jika kita lihat dari attitude sebuah negara, negara-negara maju yang memiliki kemapanan ekonomi biasanya memiliki pemikiran yang lebih dewasa baik terhadap memberikan porsi kepercayaan terhadap pemerintah maupun menanggapi masalah-masalah institusi. Tidak seperti negara-negara berkembang yang pemikirannya masih belia dan mudah diadu domba politik, negara-negara maju biasanya cendrung memiliki pertimbangan sendiri jika dihadapkan pada suatu masalah dan tidak mudah digoncang konflik. Selain itu, pemerintah pada negara maju juga memiliki pemikiran yang tidak hanya sekedar politik, authority dan materialistis seperti yang terjadi di negara berkembang, di negara maju pemerintah berpikir bagaimana bisa berperan sebagai penyokongkemajuan bangsanya.

Lebih lanjutnya lagi ketika efisiensi pemerintah tercipta lantaran adanya kepercayaan antar masyarakat dan pemerintah, serta didukung oleh efisiensi ekonomi, maka dua indikator lainnya akan secara langsung mengalami peningkatan. Maka tak heran jika negara-negara penganut konfusius berdiri di kelompok negara papan atasdengan potensi dan kinerja investasi yang tinggi. Meningkatkan investasi merupakan bukti nyata adanya peningkatan daya saing investasi pada tiap negara. Proses globalisasi menjadikan kompetisi diantara perusahaan internasional meningkat, demi menjaga kelangsungan usahanaya kini perusahaan memetingkan penghematan biaya tetap (fixed cost) seperti hara beli/sewa lahan, kualitas infrastruktur, dan non-fisik seperti kemapanan aturan usaha atau perburuan. Hal-hal seperti yang di ekpektasikan diatas hanya bisa diperoleh para investor pada negara-negara berdaya saing tinggi.

Sedikit memberikan opini tentang konsep perdaganagn internasional bahwa perdagangan internasional akan menciptakan surplus baik produsen maupun konsumen, dan kunci untuk memenangkan perdagangan internasional adalah daya saing. Negara-negara konfusius berhasil mengadapsi nilai-nilai agama budaya kong hu cu dalam kegiatan perekonomian kapitalisnya, sehingga mereka menemukan jati diri dan identitasyang kuatuntuk membangun negara tidak hanya dari sisi ekonomi yang menciptakan kesejahteraan tapi juga dari sisi sosiologis yang justru menjadi fondasi utama kebangkitan suatu bangsa.

Padang, 17 juli 2011

21:50

Asti Kumala Putri

/astikumalaputri

tulisan adalah teriakan abadi sepanjang zaman
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Featured Article