HEADLINE FEATURED

Begini Suka dan Dukanya Menjadi Sopir Taksi Online

31 Oktober 2016 12:25:46 Diperbarui: 21 Maret 2017 19:20:44 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Begini Suka dan Dukanya Menjadi Sopir Taksi Online
Koleksi penulis

Mari sejenak dinginkan hati akan kian gerahnya cuaca politik Jakarta. Dan saya menulis lagi. Ya, judulku ini sekenanya. Dan sayalah sopir taksi online di Kota Makassar. Sebuah bisnis aplikasi yang menghubungkan antara sopir dan penumpang. Istilah halusnya mempertemukan antara driver dengan customer di sebuah mobil pribadi. Saya tetap memilih istilah apa adanya bahwa saya memang seorang sopir taksi dan customer-ku tetap kusebut penumpang atau pelanggan, mirip istilah penerbangan. 

Enam bulan telah kulakoni hidup sebagai sopir taksi berbasis aplikasi ini, banyak kutunai suka dan duka, kecap dan ketir, juga antara risiko hidup dan mati di jalanan plus rawannya begal dan modus pencurian mobil pribadi di Kota Marwah Daud ini. Begitu lebar dan panjang yang hendak kutuliskan di sini, namun artikel panjang di Kompasiana akan meminta waktu lebih lama juga bagi pembaca untuk menkonsumisnya. Harapku hanyalah agar pembaca memperoleh informasi primer tentang sepak-terjang dan liku-liku laki-laki selaku sopir taxi online.

Penulis dari Timur Indonesia ini, sekaligus menjumpai aneka perilaku yang variatif di kalangan penumpang, mulai dari gaya tutur sopan hingga teriakan di ruang mobil. Penulis memastikan bahwa pekerjaanku sebagai sopir taxi online sangat lekat aroma antropologi-sosio-psikologik-komunikasi-teknologi. Bauran kelima pilar ini, kusatukan begitu saja hingga penulis menemukan BUDAYA BARU dalam adat-adat dan istiadat-istiadat dalam transportasi daratan.

Kisah Malam Lebaran yang Mengerikanku

Sengaja kutaru sub judul ini di bagian pertama, berharap ada hikmah dan pelajaran serta pengalaman hidup bagi penulis berdarah Mandar Sulawesi Barat ini. Adalah calon penumpang yang telah tiba di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Ia telah meng-order sebayak 11 (sebelas kali) namun tak seorangpun sopir menekan tombol "AMBIL". Isitilah ini amatlah populer di jajaran sopir taksi online (GO-CAR), karena bisnis start up semacam GRAB CAR dan UBER belum 'mendarat' di kotaku yang kumuliakan ini. 

Selanjutnya, calon penumpang yang penulis maksud tadi, sayalah yang menerimanya. Jarak tempuh 48 Km, area pegunungan, destinasi bandara ke pelosok Kabupaten Maros, Kecamatan Tanralili, tepatnya. Maka jadilah ia penumpangku dan ia langsung ketus saat membuka pintu mobil karena tak seorangpun sopir taksi yang mau mengantarnya di malam lebaran (Idul Adha) yang lalu itu.

Sopir taksi (online dan konvensional) enggan memenuhi permintaan sang calon penumpang yang harus berlebaran di kampungnya itu bersama anak istrinya. Pukul 23.05 WITA tertera di jam tanganku. Mobil pribadiku melaju menuju Kota Maros, lalu perlahan berbelok, dan kian menjauhi Kota Maros, hingga akhirnya penulis dan penumpang telah berada di lereng-lereng gunung dan perkampungan dengan listrik seadanya. Udara pegunungan mulai menyapa kulit, ubun dan tulang. Yang kupikir hanyalah bagaimana setelah kuantar penumpang ini, bagaimana pulangku dengan medan yang tak populer ini, bagiku!

Benar saja, penulis dan penumpang telah tiba, di rumah kediaman sang penumpang tadi. Kian dingin terasa, di kaki-kaki gunung. Berikutnya, penulis tak hendak memamerkan sisi kemanusiaanku yang dianugerahkan Tuhan kepadaku tetapi setelah menatap langsung kondisi rumah penumpangku, kumelihatnya secara fisikal bahwa ia tergolong 'orang susah'. Dan dini hari itu, kujumpai kehangatan dan keramahan keluarga alamiah, tutur pedesaan dan suguhan kampung-isme. Ia, istri penumpangku dengan mata haru berucap terima kasih karena ku telah mengantarkan suaminya, di malam spesial bagi kaum muslimin. Malam Lebaran!

Ibu muda itu membuatkanku secangkir kopi hitam dan juga dua-tiga sisir pisang di pelana teras, beralaskan apa adanya dan kondisi papan duduk yang mulai rapuh. Deskripsi fisikal ini dengan gambaran aura psikologis tuan rumah, membuat segalanya berubah. Saat pulang, penumpangku menyuguhi uang sebagai jasa taksi. Dengan tak kasar, aku menolaknya. Mantan sopir Go-Jek inipun men-starter mesin ber CC 1.300 buatan Nippon itu. Nampak-nampaknya, penumpang tadi tiada sudi membiarkanku tersesat pulang. Ia mengantarku yang menurutnya saya telah aman.

Kompasianer of The Year 2015 ini, benar-benar 'aman'. Hutan sunyi-senyap, hanya dedaunan yang mengartikulasi bunyi seadanya, gesekan-gesekan dedaunan itu, entah bambu ataukah pohon besar, menemaniku di dini hari itu. Kecepatanku di bawah rata-rata, kuharus pertimbangkan jikalau ada makhluk atau apalah namanya di depanku. Ahay,... se-ekor babi keluar dari sarangnya diikuti oleh kawan-kawannya. Kaki kananku mendadak injak pegal tengah (non matic) dan sepertinya kumesti negosiasi dengan hewan yang diharam-makankan di agamaku ini. Tanyaku, apa maunya sahabat se-makhlukku ini yang sama-sama dicipta oleh Allah SWT. Beberapa menit, kuberdiam diri sembari 'menyimak' gerakan-gerakan tubuh sang hewan berkaki pendek itu. Naluri psikologiku, pun bergerak. Instink-ku mulai bekerja, disertai dengan sahutan ringan bulu kudukku dan bulu lainnya. Ha ha ha.

Hewan-hewan ini nampaknya akan menyerang mobilku, sepertinya mereka tak suka akan kehadiran 'hewan aneh' serupa mobil yang kukendarai seorang diri ini, fakta di malam mengerikan itu, hanya satu unit mobil yang melintas di belantara belukar dan sekauman rimba, ia aku dan mobilku. Lalu, saya teringat pesan ayahku: "Bila bertemu hewan seperti itu, janganlah anakku sampai sesumbar". Lagi-lagi kupilih berdiam diri dan memadamkan mesin dan head-lamp, sisa lampu senja menjadi ajang komunikasi di malam was-was itu nan ngeri-ngeri sedap.

So gimana? Kisah dilanjutkan? Oh begitu! Kukira tak perlu kulama-lamakan karena di malam kelam itu, tak terjadi apa-apa. Aku dan para hewan itu di poros tengah, mereka memilih balik ke hutannya dan kumemilih melanjutkan perjalanan yang masih jauh dari Makassar itu. Penyebab lolosku (barangkali) dari kerumunan mereka karena saya setia menghargainya sebagai pemilik hutan dan jalanan sedang saya hanyalah pendatang yang untuk pertama kali mendaratkan ban mobil di kawasan se-sunyi itu. Lalu ada satu perkara yang hendak kupesankan kepada sahabat-sahabat Kompasiana, bahwa di setiap memasuki kampung asing/kampung baru, ingat-ingatlah memberi salam pembuka dan juga salam penutup.

Momok Bandara

Menjadi pengetahuan publik jikalau armada-armada angkutan bandara, kurang respek dengan hadirnya transportasi berbasis internet. Dua-tiga orang rekan seprofesiku telah mendapat tuahnya. Bodi mobil GO-CAR nya dibenjoli dan surat-surat kendaraan disita. Lalu, apa yang salah atas semua ini? Buatku kedua pihak sama benarnya dan sama salahnya. Sopir taksi online yang mangkal di area bandara adalah kekeliruan tindakan. Itu sama saja mengambil hak-hak hidup sopir taxi konvensional atau armada khusus bandara, itu versiku. Hormatilah para sopir taksi yang doeloe-doeloe, usai mengantar penumpang ke bandara, padamkanlah aplikasi dan keluarlah dari zona milik para pengusaha taksi konvensional. Versi lainku bahwa taxi online dan konvensional, perang dingin ini akan berlanjut. Dan mottoku: Don't look back! 

Yang sudah terperistiwa, ya terjadilah. Yang tersisa cumalah fungsi-fungsi korektif sebab taksi konvensional memiliki wilayah lebih luas ketimbang GO-CAR atau semacamnya. Mau tahu fakta lapangannya? Taksi konvensional sekuasanya mendekati bis-bis besar (angkutan daerah) yang tiba di Makassar, dan banyak-banyak penumpang yang diraihnya di sana. Sedang sopir GO-CAR, hidup matinya terpulang kepada kemauan calon penumpang dalam menekan tombol ORDER. Itupun sopir-sopir GO-CAR kerap-kerap dijahili oleh yang merasa calon penumpang. Kelewat banyak fakta-fakta sosial budaya akan jahilnya masyarakat kota untuk urusan ORDER MAIN-MAIN. Dan sampai kini, belum ada sepotong unit-pun mobil GO-CAR berani atau nekat mendekati bis-bis besar angkutan daerah dalam provinsi.

Kisah 10.000 an dan kisah pilu lainnya

Ratusan ORDER tergamit di hand-phoneku, estimasi biaya: 10.000. Di awal-awalnya, penulis kerap-kerap menekan tombol AMBIL, setelah tersadar bahwa rejeki itu bukan milikku, ini milik para sopir BENTOR (Becak Motor, red), lalu penulis tak pernah lagi mau mengambil rejeki dari para sekaumku berbeda jenis kendaraan itu. Ada majas ironi di perspektif ini bahwa kerap-kerap pengguna transportasi tak berbasis rasionalisme. Kalimatku ini berpotensi kontroversi dan standar ganda.

Kisah lainnya, pada 2 (dua) orang ibu, mem-bullyku habis-habisan. Baru saja saya DEAL-kan ordernya, salah seorang darinya menerima telponku: "Pak Sopir, harus cepat ke sini!". Tiada jawaban alternatif kecuali menjawab: "Iya Bu!". Kini baru kusadari, alasan-alasan mengapa para sopir taksi konvensional selama ini, kita sama-sama memperhatikan dari laju lambat, berbelok dan tancap gas mendekati alas kaki mobil, lalu mengendarainya bak seperti mau terbang. Sebabnya, karena ada-ada saja calon penumpang yang menganggap bahwa kami para sopir taksi harus melakukan metode atau teknik apa saja sehingga kami harus tiba di alamat penumpang. 

Dan, ini mematikan! Bisa mematikan mesin karena dipacu paksa, juga bisa mematikanku sebab saya kondisi ugal-ugalan di jalan raya yang sesak kendaraan itu, bukan? Selanjutnya Si Ibu belum puas 'mengolok-olokku', saat kutelpon lagi di mana persis alamat rumahnya. Uhuy, bukan penjelasan akurat yang kutemukan tetapi ucapan-ucapan tak halus yang tiada mungkin kutuliskan di sini, karena itu adalah ghibah (di keyakinanku). The best way hanyalah elus-elus dada, asal gak elus-elus dada orang aja. Ha ha ha.

Apa berhenti sampai di situ? Oh tidak kawan! Berita terakhirnya adalah penumpang itu setiba di tujuan, ia enggan membayarku. Ia memintaku untuk menungguinya sampai selesai urusannya di kantor urusan ke luar negeri itu. Terpaksanya kusuguhkan senyuman sandiwara sebagai tanda persetujaun dan peng-IYA-an. Sekalipun itu sebuah senyuman dramatik, sandiwara dan pseudo. Kuyakin ia tangkap sinyal senyuman berlawanan arah dengan batinku itu, tetapi ia tetap dalam pendiriannya. Ia tak membayarku sebelum saya mengantarkan kembali ke rumahnya lagi. 

Firasatku kian kokoh bahwa penumpang tersebut tetap akan membayarku dan akan membuatku menunggu lama-lama (satu setengah jam, red). Firasatku masihlah aktif, bila nanti ibu itu menemuiku di parkiran yang telah terjanjikan, maka menjadi adatlah bahwa beliau akan memberikan banyak argumentasi yang populer sekaligus tak populer bagiku. Dan benar, hipotesaku terfaktakan, kala itu. Secara sosial saya telah merugi, secara psikologi pun saya merugi, secara material juga saya merugi karena saya relatif tak bisa menerima ORDER dalam proses penungguan penumpang yang rada-rada tak nyaman di hatiku ini.

Gaji PNS/Dosen dan Pendapatan GO-CAR

Adakah di antara PNS atau dosen yang tahu secara akurat akan besaran gaji yang diterimanya per bulan? Mengapa bisa 2 juta, 3 juta, atau 4 juta? Bagaimana detail perhitungannya? Namun di GO-CAR kutemukan itu, jarak tempuh per 1 km=Rp.4.000 (empat ribu rupiah) dan 'buka pintu' Rp.10.000 (sepuluh ribu rupiah). Besaran dan jumlah pendapatanku selaku sopir taxi online kubagi-bagi: beli quota internet, sedekah, bensin, makan dan ngopi, ongkos cuci bodi mobil. Dan yang seru ketika sampai di rumah, 'quota' untuk anak istriku di setiap malamnya telah kusampaikan haknya. Di sinilah, kutemukan kebahagian raya, tak soal seberapa jumlahnya. Yang esensi adalah aku dibayar sesuai kinerjaku.

Salam Kompasiana

Muhammad Armand

/arsyadrahman

TERVERIFIKASI

and The People Choice at Kompasianival-Jakarta, Sultan Hasanuddin University, Makassar-South Sulawesi-Mandar-Moslem, Planet Kenthir, Fiksianer, Public Health, Anthropology, Health Psychology
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL regional

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana