HIGHLIGHT

Ketika Cinta Ditolak, Pak Dukunpun Bertindak

28 Mei 2012 20:24:08 Dibaca :

SMS diterima.


“Saya siap berangkat,” begitu bunyinya.


Tampaknya serius juga, pikir saya. Kebetulan hari ini saya sedang punya waktu luang memang. Jadi tidak ada salahnya kalau sesekali berbuat kebajikan buat seseorang. Lagipula ingin membuktikan. Benar atau tidaknya apa yang saya dengar lewat curhatannya di jejaring sosial itu.


Hari ini seorang teman fb-ku minta ditemani untuk menngunjungi orang pintar. Seorang perempuan yang ingin menyembuhkan dirinya dari pesona cinta yang dianggapnya di luar kewajaran. Sebagaimana diakui teman fb saya itu, dia begitu membabi buta mencintai lelaki yang telah meninggalkannya. Sekaligus telah menorehkan luka mendalam di hatinya. Anehnya, akunya, mengapa malah terasa semakin mencintainya saja.


Sungguh. Saya sendiri heran. Masalah cinta, masalah perasaan, mengapa harus dibawa-bawa kepada orang pintar. Apa tidak sebaiknya dikonsultasikan kepada psikolog ? Atau kalau sebagaimana diakuinya sendiri , bahwa dirinya telah menyadari sikapnya itu merupakan sesuatu hal yang tidak wajar, maka supaya kembali wajar, atau kembali normal, mengapa tidak bisa diatasinya sendiri? Bukankah segala perasaan yang ada dalam hati kita, berubah tidaknya tergantung kepada kita juga untuk menyikapinya.


Beberapa waktu lalu, seorang teman yang sedang tergolek lemah di rumah sakit, karena menderita penyakit jantung koroner yang sudah parah, dan oleh dokter telah divonis bahwa penyakitnya itu sudah tidak dapat disembuhkan lagi, malahan tinggal menunggu waktu saja, aneh bin ajaib, tiba-tiba teman itu kembali sehat seperti sediakala. Dan ketika saya tanyakan kepada yang bersangkutan, jawabnya karena dirinya masih ingin hidup. Lalu dalam hatinya dia  tiada henti berkata, aku harus sembuh kembali, karena aku masih ingin hidup lebih lama lagi.


Mungkin teman fb itupun dapat meniru teman yang divonis dokter itu. Kalau selama ini dia merasa begitu mencintai seorang lelaki yang tidak membalas cintanya, dan malahan menyakitinya, kemudian dia sendiri menyadari kalau sikapnya itu merupakan suatu yang sia-sia, mengapa tidak mencoba untuk merubah sikapnya itu, dengan mencoba untuk mengalihkan perasaannya itu dengan membecinya misalnya, atau mencari lelaki lain sebagai penggantinya?


“Tapi saya tidak bisa, Kang!” katanya sebelum kami masuk ke rumah orang pintar itu.


Akupun tertawa saja mendengarnya. Dan kebetulan tuan rumah sedang ada di ruang tamu.


“Wah, mungkin dia sudah tahu kalau akan kedatangan tamu,” kata saya. “Berarti betul kalau dia seorang yang waskita.”


Sebagaimana biasa yang dikatakan orang pintar dimana-mana, kalau seorang pasien meminta pertolongannya, untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya, sudah tentu tidak akan jauh-jauh dari seputar masalah yang  penuh dengan aroma mistis pula. Buktinya teman saya itu pun setelah mengutarakan maksud dan tujuannya, dan dengan gamblang mengatakan permasalahannya, orang pintar itupun langsung mengatakan kalau teman saya itu telah kena guna-guna cinta.


Oleh karena itu, oleh orang pintar itu pun teman saya dianjurkan untuk merapalkan do’a yang diberikannya, lalu melakukan suatu ‘lelaku’ berupa mandi dengan air yang diambil dari tujuh muara.


“Hahaha… “ Saya tertawa. Tapi hanya dalam hati saja.


Ada-ada saja. Cinta ditolak, pergi ke orang pintar lagi.


Apa kira-kira bisa disembuhkan? ***




Cigupit, 2012/05/29

Adjat R. Sudradjat

/arsudradjat

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Orang biasa. Tinggal di desa. Masih sedang terus belajar mengeja aksara, dan seluruh alam dengan segala isinya - tentu saja
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?