PILIHAN

Bahkan Susi Pudjiastuti pun Layak Disebut Kartini Masa Kini

20 April 2017 17:41:35 Diperbarui: 20 April 2017 18:48:02 Dibaca : 247 Komentar : 6 Nilai : 10 Durasi Baca :
Bahkan Susi Pudjiastuti pun Layak Disebut Kartini Masa Kini
Susi Pudjiastuti Sumber: Kompas.com

Dalam percakapan di sela istirahat siang, teman sekantor yang masih sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi, curhat atas perlakukan sesama mahasiswa di kampusnya yang acapkali memperlakukannya sebagai anak kepada bapaknya.

“Padahal usia saya ‘kan belum tua-tua amat,” keluhnya. “Rasanya akan lebih baik kalau mereka memanggil Kakak, Akang, atawa yang sesuai dengan usia saya.”

“Ah, itu mah perasaan kamu saja. Siapa tahu mereka memanggilmu Bapak bukan karena menganggapmu sebagai ayah, melainkan sebagai panggilan hormat atas penampilanmu yang lebih dewasa dari mereka. Karena mungkin saja mereka melihatmu berbeda dengan gaya mereka,” jawab saya sekenanya.

“Malahan sepertinya kamu tidak perlu merasa rendah diri seperti itu. Menteri Susi saja baru tahun ini akan mengikuti ujian Paket C, meskipun ahirnya batal karena keburu mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Dipenogoro.”

Ya, sosok Susi Pudjiastuti bagi saya seakan mengingatkan kembali pada sosok pahlawan wanita Indonesia, RA Kartini, yang selama hidupnya memperjuangkan emansipasi wanita pada jamannya. Karena bagaimanapun juga, Menteri Kelautan dan Perikanan dalam Kabinet Jokowi-JK sekarang ini, perjalanan hidupnya serupa tapi tak sama dengan Kartini.

Betapa tidak, ketika masih duduk di bangku kelas dua SMA, Susi memutuskan untuk berhenti sekolah. Kemudian dirinya bertekad untuk memulai terjun ke dunia wirausaha. Meskipun mungkin keputusan itu salah, tapi Susi tidak pernah menyesalinya. Susi sangat tahu waktu itu adalah "School was just not my thing". Dirinya selalu punya keyakinan, kalau kita mau berbuat sesuatu pasti akan ada jalan, dan ia selalu percaya bahwa manusia diberi pilihan untuk menciptakan jalan hidup yang dipilihnya.

Kartu peserta ujian Paket C atas nama Susi Pudjiastuti Sumber: Kompas.com
Kartu peserta ujian Paket C atas nama Susi Pudjiastuti Sumber: Kompas.com

Pertama kali memulai usahanya, Susi membeli ikan dari para nelayan di pantai Pangandaran, kemudian dijajakannya secara berkeliling dari pintu ke pintu. Berkat keuletannya, dan nasib baik yang menyertainya – tentu saja, ahirnya beberapa tahun kemudian Susi Pudjiastuti fokus di bisnis hasil tangkapan Lobster nelayan, dan peluang besar itu pun akhirnya datang. Selain memiliki sejumlah armada kapal penangkap ikan, selanjutnya ia pun mendirikan perusahaan penerbangan di bawah bendera Susi Air yang melayani angkutan udara perintis di berbagai pelosok Indonesia.

Sebagaimana pernah ia katakan, “Saya tidak suka ketergantungan, karena ketergantungan akan mengurangi kemandirian. Tanpa kemandirian kita akan selalu dalam keterbatasan dalam menciptakan atau mengerjakan sesuatu, sehingga akhirnya hasilnya tidak sesuai dengan yang kita rencanakan.” Sehingga dengan demikian sikap seorang susi Pudjiastuti, ini patut kiranya menjadi teladan bagi wanita Indonesia sekarang ini.

Terlebih lagi bila kita kembali mengingat sepak-terjangnya selama menjadi punggawa dalam Kabinet Kerja pemerintahan Jokowi-JK, meskipun hanya berijazah SMP saja, Susi Pudjiastuti mampu menorehkan sejarah di bidang kemaritiman, khususnya dalam memelihara harta terpendam dalam lautan, yaitu hasil perikanan  yang sebelumnya belum pernah tersentuh oleh siapa pun, dan demikian banyaknya dikuras para pelaku illegal fishing dari berbagai negara

Susi Pudjiastuti dengan latar belakang sketsa dirinya dalam coretan komikus Jepang Sumber: Kompas.com
Susi Pudjiastuti dengan latar belakang sketsa dirinya dalam coretan komikus Jepang Sumber: Kompas.com

Begitu ia dilantik sebagai Menteri pada Kementerian Kelautan dan Perikanan, dengan sigapnya Susi menyatakan sikapnya untuk membasmi praktik pencurian ikan di seluruh peraian Indonesia.  Sehingga Indonesia tercatat sebagai negara yang paling agresif berperang melawan illegal fishing dalam tiga tahun terakhir. Sepanjang kurun waktu tersebut, Indonesia pun kondang seantero dunia sebagai negara yang paling banyak menenggelamkan kapal pencuri ikan. Sejak akhir 2014 hingga kini, Indonesia tercatat telah meledakkan dan menenggelamkan 318 kapal ikan berukuran besar.

Adapun rinciannya sebagai berikut: jumlah kapal pelaku illegal fishing yang telah ditenggelamkan sejak Oktober 2014 lalu sampai dengan 1 April 2017 adalah 317 kapal, dengan rincian Vietnam 142 kapal, Filipina 76 kapal, Thailand 21 kapal, Malaysia 49 kapal, Indonesia 21 kapal, Papua Nugini 2 kapal, China 1 kapal, Belize 1 kapal dan tanpa negara 4 kapal.

Selain memerangi kapal asing pencuri ikan, Menteri Susi juga menghentikan operasional kapal ikan eks asing, dan melarang penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan. Semua itu dilakukan untuk mengatur dan menata bisnis perikanan Indonesia agar lebih mensejahterakan nelayan dan berkontribusi signifikan terhadap perekonomian negara.

Kinerja Menteri Susi pun ahirnya diakui oleh dunia, sehingga beberapa negara, seperti Thailand, Myanmar, Laos, Filipina, Cina, dan Vietnam, akan mengikuti langkah Indonesia dalam menjaga kekayaan lautnya. Bahkan seorang komikus Jepang, Takao Saito, memasukkan karakter Susi dalam karyanya, Komik Golgo 13edisi 13 Desember 2016.

Gaya Menteri KKP saatmenyaksikan penenggelaman kapal illegal fishing Sumber: Kompas.com
Gaya Menteri KKP saatmenyaksikan penenggelaman kapal illegal fishing Sumber: Kompas.com

Bila mencermati kehidupan Susi Pudjiastuti yang hanya bermodal nekad berhenti sekolah, dengan memegang prinsip karena tidak ingin bergantung kepada orang lain, dan kemudian mampu meraih kesuksesan hingga seperti sekarang ini, kiranya layak bila disejajarkan dengan RA Kartini. Karena Susi pun bisa jdi inspirasi bagi kaum wanita pada jamannya, dan di masa yang akan datang. ***


Sumber: di sini

Adjat R. Sudradjat

/arsudradjat

TERVERIFIKASI

Orang biasa. Tinggal di desa. Masih sedang terus belajar mengeja aksara.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana