PILIHAN HEADLINE

Sensor Keamanan Lift dan Sensor Keamanan dalam Diri Kita

19 Maret 2017 22:45:02 Diperbarui: 20 Maret 2017 10:35:23 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Sensor Keamanan Lift dan Sensor Keamanan dalam Diri Kita
Komponen-komponen dari Lift/ Sumber : ElevatorEscalator

Hari ini beberapa media online menulis tentang olah tempat perkara oleh Polres Metro Jakarta Selatan dan Tim Pusat Labolatorium Forensik (Puslabfor) Polri di Blok M Square pada hari sabtu kemarin.

Olah perkara ini berkaitan dengan peristiwa lift anjlok dari lantai 7 di Blok M Square pada hari jumat kemarin yang memakan korban 25 orang luka-luka, baik itu patah tulang kaki, leher maupun ada yang mengalami syok.

Dari olah TKP tersebut pihak penyelidik mengatakan akan lebih memfokuskan kepada sistim sensor keamanan lift. "Memang dari hasil yang sementara ini didapat akan melihat, apakah sensor yang ada pada lift tersebut berfungsi kepada sistem pengamanan. Ini yang masih butuh waktu untuk dilakukan peninjauan kembali," ujar Ajun Komisaris Besar Polisi Budi Hermanto, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Selatan.

Peninjauan yang dimaksud ditambahkan Budi akan dibantu oleh orang yang ahli dalam permasalahan teknis dan operasional lift.

Saya lalu berusaha mencari referensi tentang sistim sensor keamanan yang dimaksud. Setelah membaca maka paling tidak ada tiga peralatan keamanan yang menurut saya dapat dijadikan perhatian dalam penyelidikan lebih lanjut.

Pertama, peralatan yang dinamakan Governor. Fungsi dari peralatan yang juga disebut dengan Speed Governor ini adalah mendeteksi kecepatan lebih (Overspeed) pada waktu lift turun.

Bukan saja mendeteksi namun ketika ada kecepatan lebih maka Governor akan mengaktifkan suatu mekanisme yang dapat menarik safety gear yang dapat membuat lift terkunci dan lift tidak terus meluncur turun. Safety gear berada di samping kiri dan kanan lift berfungsi untuk menjepit lift saat meluncur dengan kecepatan berlebih ke bawah.

Apabila anjloknya lift ini dari lantai 7, maka seharusnya menurut penjelasan fungsi governor, ketika lift  jatuh dengan kecepatan yang berlebihan mekanisme ini bekerja sehingga lift dapat terkunci pada ketinggian tertentu dengan bantuan safety gear.


Menurut kesaksian dari saksi korban, memang ada yang menceritakan bahwa lift seperti akan berhenti sesaat, namun akhirnya benar- benar anjlok. “ Ada break-break saat turun, namun sesudah lantai 4 langsung anjlok cepat” ujar Ridwan, korban yang menderita luka ringan ketika diwawancarai Kompas TV.

Saya menduga break-break yang dimaksud ini terjadi ketika adanya proses mekanisme penguncian ketika terjadi kecepatan berlebih saat turun, hanya entahlah apa karena beban yang terlalu berat atau karena governor dan safety gear tidak mengunci sempurna sehingga lift terus meluncur, butuh penyelidikan lebih lanjut.

Kedua, peralatan keamanan yang bernama Over Load device. Peralatan keamanan ini dalam beberapa sumber mempunyai beberapa nama. Ada yang menyebutnya sebagai Weighing Device (pendeteksi beban) dan Alarm Buzzer (Alarm penanda beban berlebih).

Namun secara umum, fungsi peralatan ini mencakup itu semua. Over load device akan segera mengaktifkan buzzer alarm pada saat weighing device mendeteksi beban berlebih sehingga lift akan tertahan dan pintu lift akan tetap terbuka.

‘Memang ada bunyi alarm, namun pintu tertutup. Biasanya kan tetap terbuka, artinya normal” ujar Ridwan, saksi korban kejadian melalui berita di Kompas TV.

Jika menyimak pernyataan saksi, maka saya menduga ada sistim yang memang tidak bekerja. Jika alarm buzzer dikatakan berbunyi namun pintu tetap tertutup bisa berarti terputusnya koneksi antara alarm dengan weighing device yang membuat lift seharusnya tetap diam di tempat. Pada faktanya, pintu lift tetap tertutup dan lift terus bergerak.

Peralatan ketiga yang perlu dicermati adalah Buffer atau Car Buffer. Buffer atau penyangga atau peredam ini berfungsi untuk meredam gaya tumbuk (impact) ketika lift meluncur turun hingga lantai terbawah saat governor dan safety gear tidak berjalan semestinya.

Prinsip kerja Buffer yang mirip dengan shock absorber  ini membuat pengurangan ketika terjadi benturan dan guncangan saat lift menyentuh dasar lantai karena lift akan membentur buffer dan tidak langsung membentur lantai.

Berita yang mengatakan bahwa terjadi bunyi keras di basement dan terjadinya kecelakaan patah kaki dan sebagainya membuat saya bertanya apakah buffer sudah berfungsi secara maksimal atau tidak, walaupun saya berpikir bahwa perhitungan gaya tumbuk ini menjadi abnormal ketika beban orang yang ada juga sudah melebih kapasitas.

Selain mencoba melihat dari cara kerja sistim sensor keamanan lift itu sendiri, kita perlu prihatin dengan perilaku masyarakat kita dalam menggunakan peralatan yang memang akan berbahaya ketika prosedur keamanannya tidak kita taati.

Fakta dari CCTV bahwa jumlah orang yang masuk ke dalam lift mencapai sekitar 30-an orang padahal kapasitasnya hanya 24 orang atau sekitar 1600 kilogram menjadi pertanda pada perilaku tertib kita masih sangat kurang.

Fakta lain yang terungkap adalah satpam juga sudah memperingatkan bahwa lift sudah kelebihan beban, tetapi pengguna lift juga tidak menghiraukannya. Selain itu, pengakuan Hana, siswa SMK yang terjebak di sudut lift dan tidak bisa keluar meskipun sudah menyadari potensi bahaya menjadi sesuatu yang memprihatinkan.

Sambil menunggu hasil penyelidikan Polisi mengenai sistim sensor keamanan yang adalah benda mati, kita juga harus memberi perhatian pada sensor keamanan dalam diri kita sendiri, terkhusus pengguna lift atau alat sejenis yang berpotensi bahaya.

Sensor keamanan kita bukan saja bicara kecerdasan intuisi kita untuk memperhatikan potensi bahaya dari gagal berfungsinya peralatan yang kita gunakan, tetapi juga sensor untuk tetap taat terhadap segala prosedur keamanan yang ditentukan.

Jika kedua hal ini tidak berjalan seiring, maka kita masih akan berhadapan dengan persoalan yang sama di masa mendatang.

Salam  

Referensi :1 I 2 I 3

Arnold Adoe

/arnoldasyeradoe

TERVERIFIKASI

Orang biasa...Menulis sekedar untuk berbagi..
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana