Mohon tunggu...
Arnold Adoe
Arnold Adoe Mohon Tunggu... Lainnya - Tukang Kayu Setengah Hati

Menikmati Bola, Politik dan Sesekali Wisata

Selanjutnya

Tutup

Cerita Pemilih Pilihan

Saat Fadli Zon Masih Mengatakan Bahwa "People Power" Itu Sah

24 Mei 2019   21:22 Diperbarui: 24 Mei 2019   21:30 1313
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Fadli Zon I Gambar : Tribun

Menjelang gugatan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi ke Mahkamah Konstitusi (MK), Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon diminta berbicara tentang beberapa hal termasuk aksi 22 Mei dalam sbeuah dialog di sebuah stasiun televisi swasta.

Ketika ditanya tentang aksi unjuk rasa, Fadli mengatakan bahwa sejak awal BPN sudah sepakat mengambil jalan konstitusional.  Fadli lantas menambahkan bahwa aksi unjuk rasa 22 Mei adalah murni aksi masyarakat yang menganggap dirinya merasa dicurangi dan akhirnya berunjukrasa di jalanan.

Setelah itu Fadli mencoba menjawab beberapa pertanyaan termasuk pertanyaan dari beberapa pihak yang mengatakan ada hal paradoks yang dilakukan oleh kubu Prabowo. Hal yang dimaksudkan adalah  jika sudah berkeinginan mengambil langkah ke Mahkamah Konstitusi, mengapa harus juga berunjuk rasa yang akhirnya terjadi kericuhan, kerusuhan dan tindakan inskonstitusional.

Fadli lantas menjawabnya dengan nada yang agak meninggi. Fadli mulai menjelaskan bahwa unjuk rasa adalah sebuah jalan konsitusional, oleh karena itu jik ada masyarakat yang berpendapat bahwa jika sudah ke MK tidak usah unjuk rasa, maka orang tersebut tidak mengerti tentang arti demokrasi.

Menyambung soal unjuk rasa, Fadli lantas menyebut tentang people power yang dianggapnya adalah sesuatu yang konstitusional dan sah.  Menyinggung tentang arti people power, Fadli mengatakan hal tersebut hanyalah soal kedaulatan rakyat dan kekuatan rakyat. Tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang.

Fadli lantas berkesimpulan bahwa jika ada yang mengatakan bahwa people power itu makar, maka orang itu dianggap Fadli sebagai orang bodoh. Fadli beralasan bahwa makar itu meruntuhkan pemerintahan yang sah dengan kekerasan. Bahkan makar itu identik dengan  penggunaan senjata, jika hanya dimulut saja maka hal itu bukanlah makar.

***

Menyimak apa yang dikatakan oleh Fadli soal aksi unjuk rasa dan people power, maka dapat dinilai bahwa Fadli telah mereduksi beberapa makna dari yang diucapkannya. Kata mereduksi dapat juga berarti ada sebuah nalar miring yang dicoba diutarakan Fadli, yang terkadang bersayap makna.

Pertama, soal perkataan jutaan rakyat Indonesia yang merasa dicurangi yang berdemonstrasi dan berunjuk rasa karena mempunyai rasa yang sama, tanpa digerakan. Tentu saja perkataan Fadli ini tidak bisa ditelan mentah-mentah, bahkan lemah dalam bangunan argumen.

Fakta di lapangan menunjukan hal sebaliknya, kelompok-kelompok dengan tujuan berbeda dan bahkan ekstrim bergabung di dalam masa demosntrasi, dan bukan ikut beraksi karena kecurangan saja, tetapi juga ingin mengganti pemerintahan yang sah dan karena itu berani melakukan tindakan anarkis.

Kedua, soal perkataan people power. Fadli seharusnya dapat mengerti bahwa bicara atau mengupas sebuah teks tanpa teks adalah sebuah ketololan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerita Pemilih Selengkapnya
Lihat Cerita Pemilih Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun