Siapkah Kita Bila Kehilangan?

22 Oktober 2012 00:45:08 Dibaca :

Kemarin saya membaca sebuah postingan berjudul “Begini Rasanya Kehilangan Pekerjaan“ dan mungkin beberapa Kompasianer juga membacanya, yakni sebuah cerita yang mungkin tidak hanya dialami oleh penulisnya, namun banyak dialami oleh teman-teman lainnya.


Dahulu saya beruntung karena bisa merasakan apa yang belum pernah dirasakan oleh para pencari kerja, yakni memiliki sebuah pekerjaan, mendapat penghasilan dan kehidupan yang mapan. Namun tidak pada bulan ini. Bagaikan petir di siang bolong, akhirnya ’status keren’ saya sebagai wakil atasan berubah drastis menjadi PENGANGGURAN. ”


Dari kalimat diatas terlihat jelas bahwa penulisnya tidak menyangka bahwa hal itu akan terjadi padanya, dan ketidaksiapan menerima kenyataan seperti itu pasti akan terjadi pada kita bila kita mengalaminya, terutama untuk para pekerja dengan status karyawan tetap dan memegang salah satu jabatan di sebuah perusahaan.


Saya tidak akan membahas lebih dalam mengenai kehilangan pekerjaan ini, namun saya lebih tertarik untuk membahas kata “KEHILANGAN” nya saja. Ya… kehilangan berarti ada sesuatu yang terambil dan tidak bersama kita lagi, bisa berupa benda/barang, waktu, kesempatan, bahkan orang yang kita kasihi.


Kemarin siang juga saya membaca status BBM teman saya


“ I lost my S3 *disertai tanda :’(Crying ”


Dan sorenya berubah menjadi “ 21-10-2012 Definitely not my day disertai dengan tanda *crying, sad, angry “


Kehilangan pekerjaan, kehilangan kesempatan, kehilangan benda atau barang tentu akan menimbulkan rasa sedih, marah, kesal dan penyesalan. Penyesalan karena kita merasa tidak menjaga dan memanfaatkan yang kita miliki itu dengan sebaik-baiknya.


Namun, bagaimana bila yang hilang itu bukan barang atau pekerjaan atau kesempatan yang mungkin dapat kita miliki kembali di lain kesempatan, tapi yang hilang adalah seseorang yang kita kasihi, yang sangat berarti untuk kita?


Beberapa bulan lalu saya membaca sebuah berita dimana terjadi sebuah kecelakaan bus yang menewaskan pengemudinya, dan yang membuat saya tercenung adalah pengemudi ini meninggalkan seorang istri dan seorang anak di sebuah rumah kontrakan di Jakarta. Di sana diceritakan bagaimana kebingungan sang istri melanjutkan kehidupannya sepeninggal suaminya yang notabene satu satunya pencari nafkah keluarga. Mungkin bagi kita yang tidak mengalami akan mudah berkata “ semua pasti ada jalannya” namun bila kita sendiri yang mengalaminya, tentu ini bukanlah hal yang mudah untuk dilalui.


Tanggal 27 September lalu saya kembali kehilangan keluarga kandung yang sangat saya kasihi di sebuah rumah sakit untuk selama lamanya, sebagai adik saya tentu sangat sangat kehilangan, namun dihadapkan pada kondisi dimana anak-anak dan istrinya menangis hebat bahkan hingga pingsan, saya pun dipaksa untuk kuat dan mampu menenangkan mereka. Dan yang terpikir saat itu, bagaimana perasaan Ibu saya, ini adalah kejadian kedua yang menggocang hidupnya, namun puji Tuhan apa yang saya khawatirkan tidak terjadi, Ibu saya begitu tegar, begitu kuat dan saya yakin kekuatan dan ketegarannya didasari karena kesiapannya menerima hal terburuk yang akan terjadi.


Kehilangan seringkali terjadi tidak terduga, hingga banyak dari kita yang tidak siap menghadapinya, termasuk saya, namun siap tidak siap kita akan mengalaminya.

Ariyani Na

/ariyani_12

TERVERIFIKASI (BIRU)

Hidup tidak selalu harus sesuai dengan yang kita inginkan ... Follow me on twitter : @Ariyani12
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?