HIGHLIGHT

Rezeki itu Nggak Kayak Sandal Jepit

10 Juli 2012 23:17:27 Dibaca :

By. Harini Rahmi



"Bu, ajari saya membuat ketoprak yang enak seperti ibu dong", ujar Astri salah seorang pelanggan Bu Sari di suatu pagi tatkala saya sedang antri membeli ketoprak khas Cirebon.


"Owalah mbak e, semua orang pasti bisa bikin ketoprak nggak sulit kok mba Astri", terang Bu Sari.


"Tapi saya tidak tahu cara membuatnya bu, boleh bagi resepnya nggak?", kembali Astri membujuk bu Sari.


Tanpa banyak tanya dan tanpa ada sebuah prasangka bu Sari memberikan resepnya secara detail kepada Astri itu. Bu Sari juga memberikan tips untuk memilih bahan dan pengolahan kacang agar ketoprak yang dihasilkan enak seperti buatannya.


Astri sigap mencatat keterangan bu Sari di handphone miliknya. Tak lama kemudian pesanan ketoprak Astri selesai diambilkan bu Sari sehingga Astri segera membayar dan pamit seraya mengucapkan terima kasih.


Pengunjung mulai sepi karena Ketoprak bu Sari telah habis terjual. Aku dan sahabatku yang masih duduk di bangku panjang yang disediakan masih saja melahap sisa-sisa ketoprak kami dengan santai. Melihat kemurahan hati bu Sari dalam berbagi resep andalannya, saya jadi teringat para ibu-ibu lain ataupun pedagang lain yang justru sering kali merahasiakan resep pamungkas mereka agar tidak ditiru orang lain. Sebagai pedagang hal ini dilakukan guna mengantisipasi bertambahnya pesaing yang melakukan usaha sejenis. Namun Bu Sari justru tidak demikian.


Satu bulan setelah percakapan antara Astri dan bu Sari berlalu, saya melihat garasi Astri telah disulap menjadi warung yang menyediakan masakan yang sama persis seperti bu Sari. "Sedia Ketoprak asli Cirebon", demikian kalimat yang tertera di papan yang digantung di depan garasinya. Jarak antara rumah Astri dengan tempat bu Sari berdagang hanya 6 rumah.


Hari terus berganti dan warung Astri mulai ramai dikunjungi oleh pembeli. Suatu ketika saya iseng bertanya kepada bu Sari, "Bu, kenapa ibu mau membagi resep pembuatan ketoprak ibu waktu itu dengan Astri?".


Bu Sari kemudian ringan, "Ya ndak apa-apa toh mba e, saya senang bisa berbagi ilmu".


"Tapikan karena kebaikan ibu itu akhirnya membuat ibu kehilangan pelanggan. Ibu jadi punya pesaing baru deh hehehe", ujar saya sekenanya.


Bu Sari kemudian duduk di dekat saya, mukanya yang senantiasa tersenyum sangat meneduhkan hati setiap kali orang menatapnya. "Rezeki itu nggak kaya sandal jepit mba, nggak bakal ketukar", ujar bu Sari mantap. Sebuah kalimat yang membuat saya merasa ditampar oleh cara pikir saya yang terlalu picik. Lewat kalimatnya yang sederhana namun sarat makna saya akhirnya belajar untuk tidak meragukan Tuhan. Manusia bisa jadi licik dan kehidupan memang pelik, namun masih ada Tuhan yang darinya bersumber setiap rezeki manusia. Jika kita mempercayai keesaan dan kekuasaan sang khalik, maka kenapa kita harus meragukan keadilannya? Kun fa yakun.


Tugas manusia adalah berusaha dan dilain hal manusia juga ditugaskan untuk berbagi meski hanya satu ayat. Bu sari telah membagi satu ayat perihal membuat ketoprak kepada Astri dan membagi satu ayat mengenai rezeki kepada saya.


Warung Astri memang ramai, namun warung bu Sari justru tetap tak sepi pengunjungnya. Dagangan bu Saripun tetap habis di jam yang sama seperti hari-hari sebelum Astri menjadi pesaing barunya.


Mari belajar memaknai hidup dan kehidupan dengan cara-cara yang lebih sederhana namun kaya akan makna dan kearifan budi. Seperti bu Sari yang setia menjalani hidup dengan hati yang bersih dan tidak berprasangka buruk. Bukankah hidup ini seperti prasangka kita? Maka berprasangka baiklah dan lihat apa yang terjadi.



Salam energi positif ^_^

Harini Rahmi

/ariname

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Life is a process to transfer our values to others. Make ourself meaningfull anytime anywhere for all people
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?