Novel

Tanpa Tiupan Angin, Layang-layang Tidak Akan Pernah Bisa Terbang ke Langit

22 September 2013   18:51 Diperbarui: 24 Juni 2015   07:32 556 1 1
Tanpa Tiupan Angin, Layang-layang Tidak Akan Pernah Bisa Terbang ke Langit
13798048311927359364

[caption id="attachment_267932" align="aligncenter" width="600" caption="http://melancholyholic.com/wp-content/uploads/2013/02/Layang-layang.jpg"][/caption]

-

Dian Mahardika (DM), 47 tahun, profesi: koordinator festival layang-layang. Maulida (M) yang mewawancarainya.

M: "Bagaimana persiapan festival layang-layang internasional akhir pekan nanti?"

DM: "Bertema Persahabatan Langit Biru, layang-layang dari berbagai negara siap mengudara di langit Jakarta, tepatnya di Pantai Karnaval Ancol. Ada 150 pelayang dari 15 provinsi dan 18 negara. Lima belas provinsi yang ikut serta di festival tersebut adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Sumatera Utara, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Barat dan Jakarta. Sementara 18 negara peserta terdiri atas India, Australia, Singapura, Malaysia, Thailand, Jerman, Jepang, Swedia, Belanda, Perancis, Taiwan, Inggris, Amerika Serikat, Selandia Baru, Kamboja, Vietnam, Cina dan Indonesia sebagai tuan rumah"

M: "Layang-layang seperti apa yang akan ditampilkan?"

DM: "Peserta akan menampilkan layang-layang khas dari provinsi, maupun negara masing-masing. Akan ada beraneka ragam layang-layang dengan bentuk, warna dan ukuran berbeda. Ada layangan kreasi yang menampilkan bentuk badut, kodok, kepiting dan sebagainya. Lalu ada layangan sport dengan dua tali kendali, dan empat tali kendali. Juga akan ada lomba layangan kreasi dua dimensi, tiga dimensi, dan laying-layang rangkaian. Tak lupa lomba layangan tradisional dan Rokkaku battle."

M: "Selain itu?"

DM: "Juga akan ada workshop membuat layang-layang dari bahan daur ulang, seperti dari kertas koran, sedotan, plastik kresek dan sebagainya. Melalui kegiatan ini diharapkan peserta teredukasi melalui aktivitas penerapan 3R (reduce, reuse dan recycle). Hasil layang-layang dari workshop akan mereka terbangkan bersama-sama. Juga akan ada acara menerbangkan layang-layang berlampu pada malam hari."

M: "Bagaimana dengan pengunjung? Apakah mereka hanya jadi penonton?"

DM: "Oh tidak. Kami juga menyiapkan acara menarik untuk pengunjung. Selain menyaksikan layang-layang dunia mengudara di langit Jakarta, mereka juga bisa menikmati bazar penjualan aneka jenis layangan. Juga bisa mengikuti lomba foto layang-layang, yang mana foto-foto itu nantinya akan dipamerkan. Ini akan meriah sekali. Kamu harus datang ya. Nanti saya siapkan oleh-oleh layang-layang."

M: "Wah terimakasih. Saya dengar Anda juga menjual layang-layang?"

DM: "Iya benar. Kami para pecinta layang-layang pada akhirnya berkelompok-kelompok dalam komunitas-komunitas, dan itu seiring berjalannya waktu juga membentuk lingkaran bisnis. Ada yang spesialisasinya menyediakan bahan baku layang-layang. Ada yang spesialisasinya memproduksi layang-layang dalam berbagai bentuk motif dan ukuran. Ada yang spesialisasinya menyediakan pelatihan untuk pelayang. Nah, saya termasuk yang memproduksi layang-layang. Lucu-lucu bentuknya, ada yang berbentuk kupu-kupu, ikan mas, tokoh kartun seperti winnie the pooh, doraemon. Macam-macam deh, nanti kamu bisa lihat sendiri, kamu pilih mana yang kamu suka."

M: "Oke. Mengenai lokasi festival, bisa dijelaskan pertimbangan mengapa memilih Pantai Karnaval Ancol?"

DM: "Tanpa tiupan angin, layang-layang tidak akan pernah bisa terbang ke langit. Semakin kencang tiupan angin, layang-layang akan cepat naik dan terbang bebas di angkasa. Di tepi pantai itulah kita akan menemui angin kencang. Dan kita pilih akhir pekan nanti juga bukannya tanpa pertimbangan. Akhir pekan nanti masih dalam masa pancaroba, biasanya angin berhembus kuat sekali pada masa pancaroba. Itu masa yang tepat untuk menerbangkan layang-layang. Kita membutuhkan tiupan angin. Karena hanya dengan tiupan angin lah, layang-layang bisa terbang ke langit. Bicara tiupan angin, saya jadi ingat almarhum papa saya."

M: "Kenapa dengan almarhum papa Anda? Ada kenangan khusus pastinya ya?"

DM: "Iya. Kenangan indah. Saya anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua kakak saya laki-laki. Waktu kami masih kecil, papa senang mengajak dua kakak saya main layang-layang. Saya ingin ikut tapi tidak boleh, katanya layang-layang itu permainan anak laki-laki. Saya tidak bisa mengerti mengapa permainan dikaitkan dengan gender. Saya tetap memaksa bahkan sampai menangis. Akhirnya saya diajak serta main layang-layang. Saya senang sekali. Acara main layang-layang bersama itu kemudian menjadi tradisi keluarga hingga kami remaja. Kadang saya bete karena sedang menghadapi masalah, muka saya jutek, papa dengan tersenyum bilang 'Ingat layang-layang', terus deh saya bisa tersenyum, nggak bete lagi. Jadi, papa itu mempunyai istilah khusus untuk menyebut masalah, yaitu layang-layang. Kepada kami tiga anaknya, papa bilang, 'Coba kalau tidak ada angin bertiup, layang-layang itu tidak akan naik, tidak akan beranjak kemana-mana. Tapi begitu ada tiupan angin, layang-layang itu bisa naik dan terbang bebas ke batas cakrawala. Sama seperti kita manusia, tanpa masalah kita tidak akan beranjak kemana-mana, diam di tempat saja. Masalah lah yang membawa kita naik ke tempat-tempat yang tinggi hingga puncak tertinggi. Jadi tiap kali menghadapi masalah, katakan terimakasih pada masalah itu. Semakin berat masalah yang kamu hadapi, kamu harus semakin banyak berterimakasih, karena masalah itu yang nantinya akan mendewasakanmu'. Nasehat papa itu saya ingat terus sampai sekarang."

M: "Tapi, tiupan angin kencang juga bisa berisiko membuat tali layang-layang itu putus dan lepas dari kendali pemilik layang-layang?"

DM: "Nah itulah seninya. Bagaimana menarik ulur tali di tengah tiupan angin kencang agar layang-layang terbang tinggi sambil menari indah di langit, itulah seni bermain layang-layang. Seperti itu pula seni menjalani kehidupan. Saat berusaha meraih cita-cita, di tengah perjalanan kita diterpa angin kencang, dihadang berbagai persoalan, kita tetap pegang kendali."

M: "Bagaimana rasanya main layang-layang pertama kali?"

DM: "Saya ingat ketika pertama kali main layang-layang, saya rasakan betapa susahnya memulai untuk menerbangkannya. Kadang sebelum naik ke atas, layang-layang menukik ke kanan dan ke kiri, dan kita terus berusaha untuk menerbangkannya sampai kita berhasil menerbangkannya. Kita ulur sedikit demi sedikit benang layang-layang itu sambil sesekali kita tarik-tarik, layang-layang itupun lambat laun terbang semakin tinggi. Dan kita berusaha tetap menjaganya agar layangan itu tetap pada posisinya, terbang tinggi di angkasa. Dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih, kita pilah-pilah persoalan itu, antara persoalan kecil, sedang dan besar. Jangan sampai karena emosi tak terkontrol, persoalan kecil menjadi besar dan merusak rencana jangka panjang yang bernilai besar. Atau sebaliknya, jangan sampai karena pikiran keruh, persoalan besar kita anggap kecil, sehingga rusak juga impian besar yang sedang kita bangun. Kita belajar kapan harus mengulur dan kapan harus menarik, sehingga impian kita bisa terbang tinggi sesuai harapan. Seperti menerbangkan layang-layang pertama kali, tidak perlu takut memulai sesuatu pertama kali demi tercapainya cita-cita. Yang pertama itu selalu tidak mudah, tapi kita bisa memilih untuk melakukannya dengan suka cita seperti sedang bermain layang-layang. Kesulitan yang kita temui di sepanjang perjalanan adalah pengalaman berharga yang kelak membuat kita tetap menginjak bumi saatnya kita bisa terbang."

M: "Layang-layang bisa terbang tinggi juga karena melawan angin?"

DM: "Betul. Layang-layang bisa terbang tinggi karena melawan angin. Ia tidak akan bisa terbang tinggi jika harus mengikuti angin. Sebagaimana kita dalam hidup, kita akan menjadi besar kalau bisa menguasai masalah, bukannya masalah yang menguasai kita. Sebagaimana pelayang yang mengendalikan tali untuk menjaga posisi layang-layang yang sedang mengangkasa, begitulah kita adalah pengendali kehidupan kita. Saat mendaratkan layang-layang pun ada tekniknya sehingga layang-layang bisa kembali ke bumi dalam keadaan sebagaimana ia ketika pertama kali diterbangkan."

M: "Apa makna layang-layang bagi Anda pribadi?"

DM: "Layang-layang adalah hati dan otak. Perasaan dan pikiran saya bisa terbang bebas di awang-awang. Saya bisa mengangan-angankan ingin sejauh punya mau, tapi saya juga punya realitas yang tidak selalu begitu saja menuruti apa yang saya mau. Saya memiliki kebebasan sepenuhnya dalam merasa dan berpikir, namun saya tidak memiliki kebebasan sepenuhnya di tataran tindakan. Sebagai pelayang yang memegang kendali tali layang-layang, saya berusaha mendisiplinkan diri sejak di hati dan pikiran, sehingga saya pun mudah disiplin di level tindakan."

M: "Dan itu membuat Anda bahagia?"

DM: "Yup. Terus dan terus berdialog dengan hati dan pikiran sendiri membuat saya bisa menjaga jarak dengan masalah-masalah yang sedang saya hadapi. Saya menjadi pengamat bagi diri saya sendiri. Hal itu memberi kesempatan pada saya untuk mencerna masalah, dan bukan saya yang dicerna masalah. Kata kuncinya, 'Ingat masalah, ingat layang-layang'.”

***

*bersambung

Kisah sebelumnya: Butir-butir Gula dalam Secangkir Teh