HIGHLIGHT HEADLINE

Misteri Mayasari

18 Mei 2013 18:39:13 Dibaca :
Misteri Mayasari
-

-

Ini adalah presidential room di lantai paling atas sebuah hotel bintang lima. Kamar terluas dibanding jenis kamar lainnya, luasnya hampir menyerupai rumah.

Benar-benar pesta yang bersifat sangat pribadi. Hanya ada Handoko, Mayasari dan dua pria yang tidak kukenal. Dari bahasa tubuhnya, dua pria itu bodyguard.

Banyak pertanyaan yang mereka ajukan hingga aku bisa masuk ke dalam pesta ini. Fedy meyakinkan mereka bahwa aku adalah bagian dari Fedy n Friends, posisiku sama seperti Sonny sebagai manajer kelompok band, barulah mereka mengizinkan aku masuk.

Handoko dan Mayasari sepintas seperti bapak dan anak, usia mereka terpaut jauh, beda generasi. Tapi soal gaya jangan salah, Handoko seperti remaja tujuh belasan tahun dengan celana pendek, dan Mayasari dengan topi pantai. Kupikir mereka salah kostum, ternyata dress code-nya baju pantai. Dan dekorasi ruangan ini dibuat seolah-olah sedang berada di tepi pantai, dengan gorden motif laut dan pasir putih menutupi seluruh dinding, dan atap disulap serupa langit biru berawan. Aneh sekali kupikir, dan kupikir aku memang sangat nyinyir menilai semua ini dan mereka dengan subyektivitasku yang absolut. Dan mungkin saja mereka menilai aku makhluk yang aneh, terdampar di pantai jadi-jadian ini.

Dan lihatlah Mayasari seperti anak baru gede yang kegenitan, nah aku nyinyir lagi, subyektif lagi. Mayasari memang baru 21 tahun. Ia begitu bersemangat nyanyi duet dengan Peter, lalu ia berlari-lari riang ke pelukan Handoko dan berdansa mengikuti irama musik, seolah di planet bumi ini hanya ada mereka berdua, tak ada orang lain. "Apa kamu merasakan apa yang kurasakan, Son?" ucapku pelan pada Sonny yang duduk di sebelahku. "Pesta yang aneh," gumam Sonny. Kupikir aku saja yang punya pikiran ini pesta yang aneh. Tampak Handoko sangat dominan dan pada saat bersamaan ia sangat memanjakan Mayasari. Mayasari tampak begitu riang, terlalu riang bahkan, atau lebih tepatnya vulgar, atau… entahlah, seperti ada kabut di wajahnya, semacam kamuflase. Aku tidak tahu pasti. Mayasari terus bergerak lincah kesana-kemari, gerakannya seperti penari striptease, kemudian ia menjatuhkan dirinya dalam pangkuan Handoko. Berikutnya ia berlenggak-lenggok bak Miss Universe dengan kostum pakaian renang dan berakhir dalam pelukan Handoko. Ia pertontonkan adegan erotis di depan suaminya itu. Mayasari kembali memberikan gelas berisi minuman pada Handoko. Kuhitung itu gelas yang ke lima. Sepertinya itu minuman alkohol. Semakin lama Handoko semakin kehilangan keseimbangan. Ia tertawa berlebihan, menari-nari berlebihan seperti mempermalukan dirinya sendiri tanpa ia sadari. Suara gaduh di pintu masuk. Seorang perempuan setengah baya dan dua laki-laki menerobos penjagaan. Ia mengumpat dengan kata-kata yang tidak pantas kuceritakan. Bahkan untuk menyimpannya dalam ingatan pun aku tak mau. Perempuan setengah baya itu merapat ke arah Handoko dan Mayasari. Ia menjambak rambut Mayasari dan caci-maki berhamburan dari mulutnya. Pada Handoko yang sudah mabuk terkulai di kursi, perempuan itu melancarkan sumpah serapah. Aura kecantikannya menjadi gelap karena kata-kata kasarnya itu. Aku menduga kuat ia istri Handoko, entah istri yang ke berapa. Dua laki-laki pengawal perempuan itu duel dengan dua pengawal Handoko. Situasi menjadi kacau. Tak kupedulikan apapun yang lain, gerakan Mayasari menarik perhatianku, aku mengikutinya. Ia menyelinap ke luar melalui pintu samping menembus helipad di atap gedung hotel ini. Mayasari menerjang pintu helikopter yang sudah terbuka, aku seperti tersedot masuk secepat gerakannya.

"Siapa kamu?" terengah-engah Mayasari dengan tatapan curiga ke arahku.

"Aku temanmu. Aku di pihakmu. Aku kenal baik Pak Karyoto," kataku asal-asalan. Mata Mayasari terbelalak ketika kusebutkan nama ayahnya. Pada saat bersamaan kutahu ia percaya padaku. Mayasari memberi kode pada pilot, seorang pria muda yang dalam posisi siap di balik kemudi pesawat. Detik berikutnya helikopter terbang menerjang kegelapan malam. Mayasari meraih sebuah tas plastik. Kemeja dan blue jeans ia keluarkan dari tas plastik itu. Ia timpa pakaian renangnya dengan kemeja dan blue jeans itu. Tampak sekali ketakutan meruap di wajahnya.

Aku mencium aroma bahaya yang pekat.

"Aku tahu tempat yang aman," kataku sok tahu. Mayasari memandangiku dengan wajah penuh tanda tanya.

***

Arimbi Bimoseno

/arimbibimoseno1

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Lihat lebih dalam dan kita akan memahami http://arimbibimoseno.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?