Kenapa Kamu Suka Membesar-besarkan Masalah, Vivian?

07 Januari 2013 22:30:03 Diperbarui: 24 Juni 2015 18:24:08 Dibaca : Komentar : Nilai :
Kenapa Kamu Suka Membesar-besarkan Masalah, Vivian?
14298663541148635973




Foto ilustrasi: www.tsu.co/dailypicts

-



Langit tidak selalu biru, siang tidak selalu terang, ada kalanya mendung, seperti diriku ini yang berlarut-larut dalam kekesalan dan berakhir pada kesedihan. Aku merasa sangat terpuruk, tidak berselera melakukan apa saja, seperti menikmati kekesalan, seperti tidak memiliki tujuan. Perasaan disepelekan Fedy merusak segala yang ada dalam diriku hingga aku kehilangan pekerjaan. Bukannya bangkit dan segera menemui Pak Ranto, kalau perlu memberikan presentasi dua sinopsis naskah FTV yang hebat untuk memulihkan kepercayaannya kembali, aku malah seperti tidak peduli.

Aku jadi teringat Romi, keterbatasan orang tuanya tidak sanggup membatasinya, keterbatasan orang tuanya justru melecut kegigihannya dalam belajar. Hingga Romi bisa kuliah dengan beasiswa, tidak menyusahkan orang tuanya, justru meringankan orang tuanya. Dan sekarang Romi sedang mengambil S-2 juga dengan beasiswa, dan pekerjaan hebat sudah menantinya. Aku harus bertemu Romi dalam waktu dekat ini. Jadi benar, sukses itu lahir dari penderitaan. Tidak salah, penderitaan melahirkan orang-orang sukses, penderitaan melahirkan orang-orang besar. Aku jadi malu, belum mampu melakukan sesuatu yang besar.

Aku, orang tuaku bukan sangat kaya atau berlebihan, tapi aku perlu apa-apa yang kubutuhkan, orang tuaku bisa memenuhinya. Suatu kondisi yang kadang membuatku terperangkap dalam zona nyaman, sehingga kehilangan pekerjaan, aku tidak cepat-cepat bangkit memperbaiki keadaan, malah ya sudah nanti saja dulu. Bukannya aku menyalahkan orang tuaku, bukan juga menyalahkan keadaan, dan tidak semua orang yang lahir dalam keluarga relatif mapan akan sepertiku sekarang ini. Tapi memang, pikiranku masih terfokus pada kekecewaanku pada langkah Fedy yang kebablasan itu. Foto aneh-aneh, sok mesra-mesraan dengan perempuan, terus dipublikasi, bangga ya, keren ya, sok gaya banget. Aku masih marah, dan cemburu.

Fedy bagaimana ya, kok aku jadi memikirkan dia. Jangan sampai suasana hatiku yang lagi buruk ini mempengaruhi mood-nya dia, kasihan, dia dengan jadwalnya yang padat itu, membayangkannya saja aku tidak sanggup. Sedangkan aku tidak mampu memisah antara urusan pribadi dan urusan pekerjaan. Urusan pribadi yang lagi kacau membuat pekerjaanku berantakan, benar-benar tidak profesional, seharusnya tidak boleh begitu, tapi itu yang terjadi pada diriku saat ini. Aku menuntut Fedy bersikap profesional meurut ukuranku, dan aku di'tampar' Pak Ratno atas nama profesional juga, benar-benar sempurna.

Dan, kenapa juga aku di sini, di rumah Bu Fauziah dalam keadaan begini, apa ini pertanda di alam bawah sadarku bahwa aku tidak merasa nyaman di rumahku sendiri. Tapi memang danau buatan di taman belakang Bu Fauziah ini membuatku tersihir, betah berlama-lama di sini. Tapi, apa iya semata-mata karena danau buatan ini, apa karena aku merasa tidak cukup mendapatkan teman bicara yang klik di hati ketika di rumah, dengan Mama dan Papa, dan kebutuhan itu aku dapatkan dari Bu Fauziah.

Bu Fauziah itu perempuan hebat, seorang profesor yang memiliki kebijaksanaan tinggi. Tiap kata yang keluar dari mulutnya bermakna, tak pernah kudengar ia mengucapkan kata sia-sia. Ia juga hangat dalam bercanda. Aku harus banyak belajar padanya. Sepertinya itu terutama yang membuat hatiku tergerak untuk kemari, dan mungkin aku akan lebih sering ke sini di lain hari.

Sudah berapa jam aku di sini, diam seperti orang tidak berguna. Dan Bu Fauziah seperti mengerti, katanya aku butuh waktu untuk menyendiri, merenungkan segala yang terjadi, mungkin ini awal dari sesuatu yang besar dalam hidupku. Aku merasa tidak berguna, merasa belum melakukan sesuatu yang pantas dibanggakan dalam hidup ini. Kadang aku bosan dengan pekerjaanku, kadang aku bingung dengan diriku sendiri.

Kudengar langkah kaki mendekati danau ini, langkah kaki yang sudah kukenal, langkah kaki Fedy. Dia berdiri ke arah danau, semeter dari tempatku duduk.

"Habis latihan ya?" tanyaku. Sebetulnya capek juga marah lama-lama.

"Iya," katanya. Pandangannya masih ke arah danau.

"Masih marah?" Dia bertanya.

"Sedikit. Dan, aku kehilangan pekerjaan."

"Nanti cari lagi. Banyak rumah produksi."

Dalam hal-hal tertentu Fedy itu praktis, taktis, langsung tertuju pada pokok masalah, terkadang juga ceroboh, foto-foto itu buktinya. Atau, ini masalah nilai, apa aku menetapkan standar terlalu tinggi. Enggaklah kalau terlalu tinggi, soal batas kepantasan mungkin memang berbeda bagi setiap orang.

"Pekerjaanmu tidak terganggu, kan?" aku mengkhawatirkan dia ternyata.

"Sedikit," jawabnya.

"Jangan lama-lama marahnya ya," pintanya.

"Aku nggak suka kamu foto-foto begitu." Ucapanku kali ini membuat Fedy membalikkan badannya, memandang ke dalam mataku.

"Vivian, aku sudah minta maaf, marahmu sudah membuatku cukup malu mengingat foto-foto itu. Apa yang aku harus lakukan agar kamu percaya padaku, aku tidak mau foto lagi seperti itu. Kenapa kamu suka membesar-besarkan masalah, Vivian?" Wajah Fedy tampak gusar. Dia ingin cepat selesai, cepat berdamai, sedangkan aku masih kesal.

"Karena itu memang masalah besar," kataku datar.

"Besok di kantor mau rapat manajemen, aku mau kamu ikut, ada Sonny, lengkap semua tim. Kita akan merumuskan konsep baru, termasuk branding segala macam, aturan kebijakan, apa-apa yang longgar mungkin akan diperketat, termasuk batasan pemotretan untuk kepentingan publikasi seperti apa, agar hal semacam kemarin tidak terulang lagi." Penjelasan Fedy yang membuatku tenang, senang mendengarnya. Tentu aku akan ikut rapat besok.

Ternyata hidup adalah rangkaian dari satu masalah ke masalah berikutnya. Ada kalanya masalah kecil, ada kalanya masalah besar. Kalau satu masalah segera diatasi, maka masalah segera mendapatkan jalan keluar, tidak berlarut-larut, tidak melebar kemana-mana, tidak menyulut masalah baru.

Senyumku menarik senyumnya. Kami berjalan-jalan mengelilingi danau.

"Besok lusa aku jalan sama Akbar, mau ke penjara lagi, boleh?' aku berusaha terbuka pada Fedy, kuharap dengan keterbukaanku, dia juga akan lebih terbuka padaku ke depannya. Sebetulnya aku tidak harus melapor padanya tiap kali mau jalan sama siapa mau kemana, kupikir belum waktunya sampai segitunya, tapi aku tidak mau ambil risiko kecolongan lagi.

"Aku ikut," kata Fedy, cepat.

"Itu kan pas jadwalmu latihan."

"Bisa ditunda latihannya."

"Habis kamu latihan deh kita ke penjara, nanti aku ngomong sama Akbar, mudah-mudahan dia bisa."

***


bila kamu lemah karena cinta


tentu itu menyedihkan bagi yang kamu cinta


bila semangatmu hilang atas nama cinta


itu juga akan membuat sedih si dia yang kamu cinta


bila kegembiraanmu berkurang karena cinta


itu juga tak akan menyenangkan hatinya


bila kamu cinta, kuatlah, semangatlah, gembiralah


sebab cinta tak mengenal syarat


sebab cinta tak menunggu situasi menjadi sempurna


seperti yang kamu minta


sebab cinta, mencintai, adalah memberi


memberi tanpa harap menerima


kalau kamu tidak kuat


bagaimana kamu mau memberi kekuatan


kalau kamu tidak bersemangat


bagaimana kamu mau memberi semangat


kalau kamu tidak gembira


bagaimana kamu mau memberi gembira


bukankah itu yang namanya cinta


mendorong kekuatan, mengobarkan semangat


menyebarkan kegembiraan


-

Arimbi Bimoseno

/arimbibimoseno1

TERVERIFIKASI

Penulis novel The Smiling Death (with Erri Subakti) diterbitkan Elex Media Komputindo https://arimbibimoseno.wordpress.com/
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Featured Article