Aku Ingin Bercinta Denganmu, Vivian

24 Februari 2013 03:48:01 Dibaca :
Aku Ingin Bercinta Denganmu, Vivian
-

-

Bu Fauziah pernah bilang, pernikahan adalah ujian yang paling berat. Itulah mengapa pernikahan mengandung nilai ibadah yang tinggi. Jujur, aku masih bingung dengan petuah Bu Fauziah itu. Pernikahan adalah ibadah? Bagaimana memahaminya. Yang kurasakan kini, kalaupun menikah secepatnya, itu tak lebih karena aku merasa sudah tidak mampu menahan dorongan hasrat seksualitas. Jadi, dimana nilai ibadahnya? "Kalau sekarang kamu belum paham, bukan berarti kamu tidak akan paham. Niatkan saja menikah untuk beribadah. Seiring perjalanan pernikahan nanti, sedikit demi sedikit kamu akan mengerti, syukur kalau kamu cepat mengerti. Mudah-mudahan. Karena pengertian yang tumbuh di hati manusia itu semata karena kemurahan Allah," tutur Bu Fauziah. Makin berat rasanya memahami ucapannya itu. Kupikir Fedy juga sudah tidak tahan dengan hasrat seksualnya. Aku tahu. Aku bisa merasakannya. Kalau menikah cuma supaya bisa bebas untuk bercinta, bagaimana ini, dangkal sekali kupikir, aku jadi ragu. "Bicaralah dengan Fedy, Vivian. Cari titik temu, pastilah dia bisa mengerti kalau kamu butuh waktu sedikit lagi," saran Bu Fauziah. Kuikuti sarannya itu. Fedy tidak membalas pesanku, tidak mau mengangkat teleponku. Ih, seperti anak kecil. Tapi, aku juga pernah bersikap begitu padanya. Ternyata tidak enak diperlakukan begitu. Dengan mobil baru yang kubeli dengan uang dari kontrak eksklusif, kuajak Zakia ke rumah Fedy. Fedy bersikap dingin dan malas-malasan. Nggak asyik banget. "Mau pamer mobil baru ya," sinis Fedy padaku. "Kok gitu sih ngomongnya," aku merasa dipojokkan. "Habis nggak tahu waktu sih, gimana mau jadi Ibu kalau kelakuan kayak gitu." "Kamu kenapa sih, Fedy?" aku bingung, kok Fedy lari-lari ke soal ibu, menikah saja belum. "Perempuan kok kayak gitu, nggak pantes," Fedy tambah sengak nada suaranya. "Apanya yang nggak pantes? Kenapa nyingung-nyinggung soal gender?" aku tidak terima penilaian ngawurnya itu. "Pergi pulang pagi pulang pagi, nggak pantes. Aku tidak suka." "Pulang pagi? Ah, nggak tiap hari kok. Lagipula jelas urusannya apa. Ngejar deadline, meeting dengan orang-orang film itu. Kamu kenapa sih, kayak bukan orang showbiz aja." "Lama-lama kalau dibiarkan ya bisa tiap hari kayak gitu. Kebiasaan," Fedy, kupikir ia makin uring-uringan nggak jelas. "Fedy, aku pengin ngomong soal pernikahan." "Apa?" "Menurutmu apa sih tujuan pernikahan?" "Membentuk keluarga sakinah mawadah warohmah. Melanjutkan keturunan." "Standar banget sih. Artinya apa? Kalau cuma melanjutkan keturunan, tinggal bikin anak kan bisa tanpa menikah." "Memang itu standarnya. Kamu mau bikin standar sendiri? Aku cinta kamu,Vivian. Aku ingin kamu jadi istriku. Jadi Ibu buat anak-anakku. Mama sudah ingin punya cucu. Aku ingin bercinta denganmu," Fedy tersenyum nggak jelas. "Kayaknya poin terakhir ya alasan utamamu," aku menggoda Fedy sekaligus menuduhnya. "Aku sudah nggak kuat, Vivian. Kamu mau aku onani tiap malam? Kalau kamu tidak mau, aku mau cari perempuan lain buat kujadikan istri." "Jadi aku ini cuma berfungsi sebagai alat? Sehingga dengan mudahnya kamu mengancam cari perempuan lain sebagai penggantinya?" Menurutku, pemikiran Fedy sangat dangkal.

***

jangan bicara ketika sedang dikuasai hawa marah jangan ambil keputusan ketika hati dan pikiran sedang dikuasai amarah keputusan yang diambil ketika sedang marah biasanya akan berakhir dengan rasa malu -

Arimbi Bimoseno

/arimbibimoseno1

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Keep calm and write a novel http://arimbibimoseno.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?