Mencari Pemimpin yang Benar-benar Merakyat

10 Januari 2012 15:06:36 Dibaca :

Akhir-akhir ini, mata kita mungkin terus disuguhi tentang berbagai adegan atau tindakan dari para politisi atau wakil rakyat negeri ini yang memperlihatkan kesederhanaan mereka di berbagai media Massa. Dari yang berdesak-desakan dengan masyarakat kecil saat menumpangi Kereta Api sampai yang naik angkot serta ojek, bahkan ada yang sampai berlari hanya untuk mengejar sebuah angkot untuk ditumpanginya. Seolah mereka ingin menunjukan bahwa mereka merupakan orang-orang yang merakyat dengan berbagai kesederhanaannya. Apa yang telah dilakukan oleh para politisi tersebut memberikan pandangan yang berbeda kepada masyarakat, disaat politisi yang lain sedang terbuai dengan kehidupan Hedonismenya masing-masing.

Ditengah hiruk pikuk tentang masalah-masalah yang terus menerpa negeri ini, dari kasus korupsi, suap-menyuap, gerakan separatis sampai konflik agrarian serta pertambangan, tindakan tersebut ibarat sebuah angin segar ditengah krisis kepercayaan yang telah menyandra masyarakat selama ini. Mereka antara lain Abraham Samad (Ketua KPK), Bambang widjoyanto (Pemimpin KPK), serta Dahlan Iskan (Menteri BUMN) yang akhir-akhir ini namanya menghiasi berbagai media. Kesederhanaan yang telah mereka pertontonkan di Media Massa tersebut seolah mencairkan opini publik yang beranggapan bahwa Para Wakil Rakyar di Senayan serta para pemimpin di negeri ini merupakan orang-orang yang bergelimang kemewahan.

Tetapi kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, apakah yang telah mereka lakukan tersebut merupakan kemauan dari hati nuraninya yang terdalam atau merupakan sebuah cara atau strategi yang mereka gunakan untuk menarik simpati dari publik atau ada kepentingan-kepentingan lain dibalik apa yang telah mereka lakukan tersebut?

Sebut saja Dahlan Iskan yang dulunya merupakan seorang petinggi di PLN, yang ia rela berdesak-desak di Kereta Api kemudian menaiki Ojek hanya untuk sampai ketempat kerjanya di Senayan. Yang menurut rakam jejaknya, saat ia masih menjadi petinggi di PLN merupakan salah seorang yang sangat menyetujui adanya Privatisasi terhadap PLN tersebut. Padahal dengan privatisasi tersebut dapat memberikan peluang terjadinya eksploitasi atau monopoli listrik oleh swasta yang pasti akan berdampak kepada masyarakat luas. Sehingga perlu dipertanyakan apa yang telah Dahlan Iskan Lakukan tersebut.

Tak dapat dipungkiri bahwa di era Demokrasi sekarang ini, peran dari media Massa sangat begitu vital, baik dalam memberikan informasi kepada publik ataupun untuk mengangkat masalah-masalah sehingga dapat menjadi Opini Publik serta sebagai alat untuk memberikan politik Pencitraan kepada Publik. Sehingga mungkin akan muncul para politisi-politisi baru yang akan ikut-ikutan mempertontonkan kehidupan merakyat mereka serta kesederhanaan-kesederhanaan mereka di depan kamera yang kemudian akan dikonsumsi oleh publik. Mungkin motode atau cara seperti ini dapat menjadi strategi baru yang dapat digunakan oleh para politisi untuk memberikan atau menanamkan pandangan yang berbeda kepada masyarakat.

Sehingga kemudian semoga apa yang telah dilakukan oleh para politisi serta wakil rakyat tersebut bukan hanya tameng untuk menutupi keburukannya atau cara untuk menarik simpati masyarakat saja. Merakyat, lahir dari lubuk hati yang terdalam bukan karena buat-buatan. Pemimpin yang benar-benar merakyat lah yang nantinya akan mengayomi rakyat serta keputusannya lebih pro terhadap rakyat. Semoga publik mampu mngerti yang mana pemimpin yang benar-benar merakyat.

Tulisan ini juga telah diterbitkan di Blogg Gelora Nurani

Arif Novianto

/arifnovianto

Kegagalan dalam hidup ini, adalah ketika kita tak mampu berbuat sesuatu hal yang positif terhadap orang disekitar kita, terutama adalah Bangsa dan Tumpah darah ini
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?