Catatan Natal Gila: Merasakan Longsor

26 Desember 2011 07:51:19 Dibaca :

Tanggal 25 nyaris tengah malam ketika saya dan keluarga mulai berangkat meninggalkan Padang Sidempuan dan hendak menuju Bonan Dolok dalam rangka ziarah makam. Siang harinya kami sudah meninggalkan Bukittinggi untuk mencapai perhentian pertama ini. Yah, kalau kata Syahrini ini sesuatu banget karena saya terakhir ke Bonan Dolok itu tahun 1999 ketika opung doli saya meninggal dunia. Sesudah itu, tempat ini tidak pernah ada dalam jadwal saya.

Perjalanan ternyata tidak mudah. Pada jam-jam awal, saya merasakan sebuah tempat yang layak disebut NERAKA. Inilah Aek Latong, tempat waktu itu bis ALS tidak bisa mendaki dan kemudian mundur sehingga menewaskan banyak penumpang. Saya melewati tempat turunnya bis itu pada waktu yang mirip. Saya juga kurang mengerti mengapa tempat semacam ini bisa jadi jalanan, dan dilalui banyak kendaraan pula. Sangat jauh dibandingkan tempat-tempat di Jawa. Saya sering ikut menyusuri Pantura dan Jalur Selatan serta jalan-jalan lain di Jogja. Demikian pula dengan jalanan Palembang ke Padang dan tidak ada yang seburuk NERAKA ini.

Ketika pagi menjelang, tinggal belok kanan dan lurus terus untuk mencapai sebuah tempat yang ada di tengah desa. Saya bisa bilang ini pedalaman, karena memang masuknya dalam sekali. Ini mungkin sebuah pemandangan bagus bagi saya yang biasa hidup dengan asap pabrik dan truk-truk di kawasan industri. Sebuah tempat yang boleh dikatakan semuanya ada. Dan di tempat ini, hanya ada jalan aspal dan pohon. Hanya 5 tikungan lagi sebelum kampung, kami dihadang oleh masalah yang, buat saya, sangat besar. LONGSOR! Jalan satu-satunya itu ditutup oleh longsor dari tebing yang setia menyertai perjalanan menuju kampung ini. Dan otomatis, mobil kami tidak bisa lewat, sama sekali.Satu-satunya jalan adalah menyingkirkan runtuhan itu. Sebab, bukan solusi bagus kalau harus keluar dari jalan ini dan memutar jauh sekali untuk bisa mencapai kampung yang hanya tinggal 5 tikungan lagi.

Satu persatu orang datang dengan cangkul. Hendak menyingkirkan runtuhan tebing yang menghadang. Buat saya, ini nyaris mustahil kalau harus menggunakan cangkul. Mau berapa banyak orang dan berapa banyak cangkul? Tampatnya penduduk setempat sudah memiliki metode sendiri. Mendadak saluran air dialiri oleh air dengan deras. Ternyata pintu air di atas sana dibuka sehingga air mengalir. Masalah belum selesai karena di saluran air itu sudah ada longsor kecil yang menutup saluran air, meski tidak menutupi jalanan secara total.

PR pertama adalah membuat air dapat mengalir ke bawah, ke tempat yang hendak dibersihkan. Maka pembuatan saluran di 2 titik longsor kecil dilakukan. Air ditanggul seadanya sehingga menciptakan aliran yang cukup deras untuk menampung air yang mantap turun dari atas. Dua titik longsor itu kemudian menjadi parit kecil yang dapat mengalirkan air. Dan air semakin deras mengalir. Pada titik jalanan yang tertutup, orang-orang bahu membahu mencangkul air dan membiarkan tanah tebing itu hanyut oleh air. Panjangnya lumayan, ada mungkin 10 meter lebih. Dan saya pikir ini nyaris mustahil, tapi kok lama-lama ada juga jalan yang bisa dibentuk oleh orang-orang yang bergotong royong itu, Saya sih ikut bantu sedikit-sedikit, termasuk sedikit kecipratan dan sedikit kotor. Kan berani kotor itu tandanya berani belajar. Halah.

Pada akhirnya, mobil kami bisa melewati jalanan yang ditutup longsor itu setelah sebuah jalur sebesar mobil dibuat. Buat saya ini hanya tindakan korektif. Bukan apa-apa, tepat di tebing yang sama, bagian atas tebing itu sudah mulai retak. Bukan hal yang aneh kalau kemudian jika ada hujan besar, tebing itu akan longsor lagi. Retakannya jelas banget dan ibarat sebuah bidang lurus, yang longsor itu cuil dalam bentuk elips. Artinya bagian bawah dan bagian atas masih dalam titik yang sama, hanya bagian tengahnya yang hilang. Dan itu juga bermakna, bagian atas yang penuh pohon-pohon itu tidak punya pegangan lagi. Saat menulis ini saya ada di dalam kampung, entah apakah besok tebing itu longsor atau tidak. Semoga jangan! Perjalanan liburan saya masih cukup panjang.

Pelajaran berharga soal kearifan lokal adalah soal gotong royong. Tidak mungkin bentuk seperti tadi bisa hilang dengan sendiri atau dengan tindakan dari 1-2 pihak saja. Ketika semua beramai-ramai, pastinya hasil akan lebih baik. Pelajaran kedua adalah soal UANG. Setiap orang yang lewat dipungutin uang. Mungkin ada benarnya juga karena ada banyak tenaga yang keluar untuk mencangkul tanah longsor itu. Tapi kok saya yang ikut angkut-angkut, tidak dibayar ya? Hehehe.. Ternyata UANG itu sangat berkuasa. Kata mamak saya yang asli SUMUT, SUMUT itu ada artinya: Semua Urusan Mesti Uang Tunai. Jiahhh.. saya malah mendapati buktinya. Ya nggak apa-apa deh, yang penting lewat.

Ada banyak foto-foto soal ini, saya akan update dengan cerita yang lebih jelas besok kalau koneksi sudah memadai. Ini memanfaatkan sisa-sisa kejayaan EDGE di tempat saya berada sekarang :D

ArieSadhar

/ariesadhar

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Auditor Wanna Be, Apoteker, Author OOM ALFA (Bukune, 2013) | @ariesadhar | ariesadhar.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?