M. Arief B. Sanse
M. Arief B. Sanse lainnya

"Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya" ~ penghobi tanaman hias dan koleksi ~ di desa di Gunung Kidul DIY Hadiningrat yang mencoba belajar menulis ~

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Sedikit Tentang: Berdagang Kayu Jati

28 Oktober 2011   15:47 Diperbarui: 26 Juni 2015   00:21 1826 1 4

Sempat dulu tertarik juga ke dunia yang satu ini, berdagang kayu jati. Baik yang masih gelondongan, maupun yang setengah jadi. Namun setelah melihat beberapa teman pada "terjungkal". Akhirnya mundur dengan teratur. Pikir saya, ah... main kayu apa ya musti "main kayu" juga? Sedikit sedikit dan hanya sedikit, ya sedikit paham dunia usaha kayu jati. Teman-teman usaha kayu jati, mulai yang gelondongan sampai setengah jadi. Mulai dari yang tingkat desa, sampai yang akses eksportir. Saya lihat, kendala pertamanya sama, terletak pada pembayaran. Pembayaran pertama, kedua, ketiga lancar. Selanjutnya bayar separo. Menggantung, menggantung. Ujung-ujungnya, tidak terbayar. Kalau masih mau jalan, ya nambah modal. Modal serep alias cadangan. Terus begitu, dan ada terus. Patah tumbuh hilang berganti. Jika ada yang masih jalan, ya begitu itu. Berlapis-lapis modal serepnya. Atau... Ganti "makan" yang di bawahnya. Kok begitu ya? Andai di berbagai tingkat mau disiplin. Sebenarnya semuanya lancar lho. Kendala kedua, mulai terbatasnya pohon-pohon jati yang berukuran besar. Utamanya di tempat saya. Kalau dulu melayani pesanan flooring hanya galih, masih bisa. Sekarang, yang penting jati. Putih tidak apa-apa. Tapi bukan flooring. Gergaji mesin yang memudahkan penebangan. Memudahkan juga penghabisan pohon jati. Memang banyak yang menanam, tapi banyak juga yang menumbangkan. Masih lingkar belum begitu besar saja, sudah laku kok. Kendala ketiga, sepemahaman saya, berdasar dari cerita-cerita teman yang usaha kayu jati, adalah prosedur penebangan, utamanya yang keluar daerah. Hanya saja untuk yang ini, bukan lagi dianggap kendala. Tinggal masukkan saja dalam anggaran biaya. Beres. Kendala keempat, mahalnya biaya transportasi. Untuk yang ini juga sudah seperti diatur wilayah-wilayahnya. Jadi sudah biasa. Kalau mau setor wilayah Jakarta, akan masuk perhitungan keuntungan, jika ambilnya dari Sukabumi. Untuk wilayah daerah saya, paling ke Jepara. Sebab jika dibawa ke Jakarta, bisa habis di ongkos. Kendala selanjutnya apa ya? Yang jelas pokok dalam perdagangan kayu jati, adalah penanaman dan pelestarian. Tidak diimbangi dengan penanaman, ya percuma saja. Keluarnya banyak, masuknya sedikit. Memakai alternatif kayu lain, bisa saja tapi beda fungsi. Masa reng usuk rumah yang pesanan berbahan kayu jati, mau diganti dengan kayu sengon laut? Tentu tidak to ya . . Mari menanam pohon jati, persiapan jangka panjang mengatasi salah satu kendala berdagang kayu jati.