Duh... Tulisan Ini Bagus Sekali

29 Juli 2011 23:52:38 Dibaca :

Seringkali kita memuji sebuah tulisan setelah membacanya. Entah itu artikel, puisi, cerpen, maupun tulisan-tulisan berisi curhat dari penulis. Mulai dari memuji isi dan tema sampai cara penyampaiannya lewat tulisan.

Beberapa hari setelah registrasi, saya hanya bisa terperangah membaca tulisan demi tulisan di Kompasiana. Sambil dalam hati berteriak : pingin !!!

Apakah saya bisa menulis seperti itu ?

Dengan gagap dan terus mencoba, saya tekadkan untuk berlatih dan terus berlatih. Entah bagaimana hasilnya.

Dan bukan hanya di Kompasiana, tulisan-tulisan di berbagai media lain pun demikian adanya.
Tidak pula terbatas di dunia maya, tulisan-tulisan di media cetak juga sering kali bikin berdecak kagum. Mulai dari model penulisan berita oleh wartawan, sampai yang berwujud novel, buku pengetahuan, maupun buku kumpulan puisi : semuanya merupakan hasil karya yang gemilang.

Dari sebuah tulisan yang saya kagumi, kalau boleh memberi istilah, ada unsur "tubuh tulisan" yang terdiri atas pemilihan tema, gaya penulisan, cara menulis, penataan kata dan kalimat, dan juga pengendalian emosi dalam mengungkap pikiran dan perasaan, sehingga tertata rapi dan nyaman dibaca.

Namun sangat disayangkan, sampai saat ini saya sendiri lebih sering tidak sempat atau belum mampu mencermati "tubuh tulisan" tersebut untuk pembelajaran.
Bagaimana saya akan "nyolong ilmu" atau mencuri ilmu cara menulis dari sebuah tulisan, kalau "ruh tulisan" itu sudah lebih dulu mencengkeram perhatian saya, menarik pikiran dan perasaan untuk masuk, masuk ke dalam dunia angan-angan pemikiran sang penulis.
Tidak bisa dikendalikan. Jika begitu, sudah tidak mampu lagi memperhatikan "tubuh tulisan". Dengan lemas dan tak berdaya diseret oleh ruh tulisan ke dalam dunia pemikiran sang pengarang.

Misalnya sampai sekarang saya masih dibikin gemas dengan kelanjutan nasib kisah cinta Minke dan Anelis. Bagaimana keadaan mereka setelah berpisah di pelabuhan. Demikian juga saya ingin bertemu dengan Nyai Ontosoroh atau melihat langsung kegagahan Darsam, jagoan dari Madura. Padahal tokoh-tokoh itu hanya khayalan Bpk Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia. Namun seolah-olah nyata dan ada.

Dan bukan cuma tulisan-tulisan karya Bpk Pramoedya Ananta Toer saja yang menghisap pikiran dan perasaan hingga tidak sempat lagi memperhatikan tubuh tulisannya. Tapi masih banyak lagi penulis-penulis yang mampu membuat jurang-jurang untuk menyeret, menyedot, menghisap pembaca agar masuk berputar-putar di dunia khayal.

Saya akhirnya tersadar untuk mencoba mengapung di atas aliran ruh tulisan-tulisan bagus yang saya baca. Dan berkata : apakah saya bisa menulis seperti itu ?

Membaca tulisan-tulisan di Kompasiana pun demikian. Lebih sering saya terseret dalam ruh tulisan, tanpa sempat lagi memperhatikan untuk belajar teknik menulisnya.

Beruntunglah saya registrasi di sini di Kompasiana. Baru terbuka mata saya, betapa hebatnya para penulis di Kompasiana dengan berbagai profesi yang saya yakin mumpuni di bidangnya. Walaupun terbuka juga tema tulisan di luar profesi, tentu tergantung pada interest, wawasan, hobi, serta pengalaman.
Kemudian sering merasa betapa kecil diri ini dengan keterbatasan wawasan dan profesi kenapa ikut-ikutan "nggaya" berani latihan menulis di Kompasiana.

Ya, saya hanya ingin bisa menulis bagus biarpun masih belepotan dan rasanya masih juga jauh dari harapan. Semoga tetap bisa menjaga semangat dan tidak putus asa.

Tentu pada akhirnya kembali pada be yourself, jadilah dirimu sendiri. Tapi apa salahnya mengagumi tubuh tulisan penulis-penulis hebat, siapa tau bisa sedikit kecipratan kemampuan menulisnya.

Berlatih dan terus berlatih. Akan selalu saya usahakan. Biarpun kadang menulisnya mencari kesempatan duduk sebentar di saat menata telur puyuh. Atau ketika sedang memberi pakan. Kemudian disimpan di dalam draft. Untuk nanti siap publish.

Sebenar-benarnya saya memang peternak puyuh. Tidak punya profesi lain. Tapi saya berusaha menghargai profesi lain. Seperti halnya saat saya makan nasi, saya ingat ada jerih payah petani di setiap butirnya.
Jika saya sedang membaca berita, terbayang di belakang kata demi kata ada wartawan yang keras bekerja.
Dalam aktivitas menulis dan membaca, masih terngiang-ngiang bagaimana bapak ibu guru dengan sabarnya membimbing mengenalkan huruf demi huruf sampai saya paham.

Yang jelas, beberapa hari di Kompasiana, rasanya saya tergembleng oleh suhu-suhu dalam bidang tulis menulis. Langsung tidak langsung, sengaja tidak sengaja, tulisan beliau-beliau Kompasioner telah mengajari saya : begini lho kalau menulis.

Walaupun tetap semuanya kembali pada diri sendiri. Mampu atau tidak menyerap pelajaran dari beliau-beliau.

Mudah-mudahan sedikit waktu di Kompasiana ini memberi banyak bekal untuk bisa saya bawa kembali ke gubuk derita yang telah saya huni bertahun-tahun. Semoga ada peningkatan. Lantainya yang tanah, bisa saya ganti dengan ubin biarpun ubin kasar. Dindingnya yang bambu akan saya rehab minimalnya cukup pakai batako dulu.

Hanya terima kasih yang bisa saya ucapkan kepada semua Kompasioner, sembari membaca tulisan-tulisan yang bersliweran, kemudian berusaha mengapung dan berdecak kagum : duh... tulisan ini bagus sekali.

M. Arief B. Sanse

/ariefmasariefmas

TERVERIFIKASI (HIJAU)

"Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya" ~ peternak puyuh ~ pedagang dan penghobi tanaman hias dan koleksi ~ di desa di Gunung Kidul DIY Hadiningrat yang mencoba belajar menulis ~
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?