Kota Koln (Cologne), Bagian Keindahan Jerman di Sisi Sungai Rhein

19 Desember 2011 14:30:00 Dibaca :

Dering alarm handphone menyalak dengan keras di pagi itu. Jam menunjukkan pukul 5 pagi waktu Den Haag. Jika disetarakan dengan Waktu Indonesia, mungkin sama kondisinya dengan jam  3 pagi, karena normalnya matahari akan terbit jam 8.30 pagi, mengingat saat ini memasuki musing dingin. Tetapi dinginnya pagi yang cukup menusuk tidak menyurutkan niat saya untuk bersiap diri. Ya, mengunjungi Kota Köln, salah satu kota besar di Jerman. Sekilas tentang Köln (atau Cologne menurut ejaan Inggris), berdasarkan informasi yang saya dapat dari internet, kota tersebut merupakan kota nomor 4 terbesar di Jerman (setelah Berlin, Hamburg, dan Munich) dan nomor 16 di antara Negara-negara Uni-Eropa. Kota ini juga terletak di-antara kedua sisi sungai Rhein yang terkenal (kalau di Indonesia kurang lebih selebar sungai Kahayan di Kalimantan Tengah) dan juga sejarahnya karena kota ini pernah hancur pada saat Perang Dunia ke-II, dan hanya menyisakan Katedral Cologne (Kölner Dom) yang masih berdiri utuh hingga sekarang. Baik jembatan maupun rumah-rumah hancur berantakan termasuk jembatan Hohenzollern yang cukup terkenal, patah menjadi beberapa bagian.

Hari ini saya mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh student union di kampus saya selama sehari, jadi kembali pada hari yang sama. Untuk menuju kesana kami menggunakan 2 bus yang dicarter khusus, sedangkan waktu perjalanan sendiri kurang lebih adalah 4 jam. Dari dorm, saya berjalan kaki menuju tempat meeting point, didepan Kampus ISS. Dikarenakan beberapa menit sebelumnya ada hujan es, maka jalanan terasa cukup licin, tetapi menarik karena perkiraan cuaca menyebutkan bahwa aka nada matahari, diselingi oleh hujan ringan (shower rain) dikombinasi dengan suhu udara di kisaran 2 derajat celcius, meski pada kenyataannya terasa lebih dingin meskipun saya sudah menggunakan baju dan celana rangkap untuk menahan hawa dingin yang cukup menusuk.

Sepanjang perjalanan, saya semakin menyadari bahwa meski berbeda Negara, tidak banyak perbedaan desain bangunan antara Belanda dengan Jerman, terutama setelah keluar dari kota, hamparan rumput beserta peternakan modern, sinar matahari yang menyengat dan suasana yang asri semakin menambah indah suasana, dan jujur membuat saya terlelap hingga sampai di tempat meeting point kedua, perbatasan. Kami berhenti cukup lama, sekitar 45 menit untuk beristirahat dan sarapan pagi. Saya tidak tahu apakah itu masuk ke wilayah Belanda atau Jerman, tetapi 3 bendera yang mewakili masing-masing Negara dan ditengahi oleh bendera Uni-Eropa rasanya sugesti saya tepat. Lanjut, kami sampai di Kota Köln saat jam menunjukkan pukul 11 siang. Peandangan pertama yang kami lihat adalah Kölner Dom, sebuah gereja gothic peninggalan abad 18 yang masih cukup megah berdiri. Model gereja yang sama juga pernah saya lihat saat mengunjungi Kota Utrecht – Belanda dan Barcelona – Sepanyol. Menara-menara tinggi, warna tembok kehitaman karena dimakan zaman dan cuaca, serta nyanyian komuni yang menggema..ahh, serasa berada di abad pertengahan (dengan memejamkan mata), tentu saat saya membuka mata, itu hanya bayangan asyik.

Ok, kontur rata-rata kota besar di Eropa, gereja dikelilingi oleh market-market dan perumahan penduduk, karena gereja pada saat itu sebagai pusat kota. Tepat di sebelah gereja, terdapat Christmas Market yang sangat menarik, karena hanya buka saat menjelang natal. Disana dijual berbagai macam pernak-pernik kerajinan untuk kebutuhan natal dan tentu bisa dijadikan souvenir. Tetapi yang menggugah selera saya adalah makanan dan minuman khas sana. Yang pertama saya coba adalah Glühwein. Saya sebelumnya tidak pernah mengetahui jenis minuman apakah itu, tetapi saat membeli dan mencicipinya saya baru sadar kalau itu adalah sejenis minuman keras (rum/wine) yang disajikan hangat-hangat dan agak pedas. Jujur buat saya rasanya agak aneh, tetapi melihat orang-orang disekitar yang berbincang-bincang dengan sesekali menyeruput hangat minuman tersebut, yahh…paling tidak mencicipi minuman khas dulu. Glühwein biasanya sangat mudah ditemui saat musim dingin di Jerman dan merupakan minuman khas yang layak untuk dicoba karena itu resep yang sudah turun temurun. Harga 1 gelas Glühwein sekitar Eur 2,5. Dikarenakan lokasi yang cukup luas dan waktu yang terbatas, maka saya dan rombongan kecil saya memutuskan untuk menaiki kereta kecil untuk mengunjungi lokasi berikutnya. Dengan membayar Eur 7, saya berkesempatan untuk menikmati pemandangan di kisaran down town. Tempat pemberhentian kami berikutnya adalah Hohenzollern Bridge. Jembatan yang mengubungkan 2 bagian dari Kota Köln yang dibelah oleh Sungai Rhein seperti yang sudah saya sebutkan diatas. Berdiri di tengah-tengah jembatan terasa sangat asyik, karena angina yang lembut dan terpaan sinar matahari memperindah landscape kota. Tetapi hal lain yang membuat jembatan tersebut special adalah bagian histori saat Perang Dunia II meletus, dan hamparan gembok disepanjang jembatan. Gembok??? Ya Gembok. Dilihat dari jauh tampak seperti sisik yang berkilauan, dikarenakan ribuan gembok menempel disana. Tidak ada yang tahu bagaimana sejarah-nya, tetapi seperti menjadi tradisi bagi warga ataupun turis sekitar untuk menggantungkan gembok dengan harapan hubungan mereka dengan pasangan masing-masing kekal untuk selamanya dan tidak mudah terlepas. Romantic dan melankolis, karena membayangkan ikatan suci pernikahan di sebuah jembatan, melintasi Sungai Rhein menjaga 2 sisi dari kota yang eksotik.

Menikmati pemandangan membuat perut saya terasa lapar, sehingga saya kembali ke Christmas Market untuk mengisi perut. Hamparan jenis masakan yang cukup mahal membuat saya harus selektif dalam memilih. Akhirnya pilihan jatuh pada sejenis kentang goreng kalau dilihat dari modelnya mirip dengan Dadar Jagung/Bakwan Jagung di Indonesia seharga Eur 3,5 serta tumis jamur dengan irisan tipis roti seharga Eur 4.

Pemberhentian terakhir saya yang terakhir adalah down town, dimana pusat perbelanjaan utama berada. Merek-merek ternama berjajar di sepanjang jalan, dengan gemerlap pohon natal di ujung. Cuaca yang berubah ke gelap dengan cipratan air dan es karena hujan dan waktu yang terbatas memaksa saya untuk kembali ke tempat meeting point, dimana aka nada bus yang membawa saya kembali ke Den Haag, Belanda. Dan tentu sebelum kembali, saya menyempatkan diri membeli souvenir sebagai tanda cinderamata dari kota cantik ini.

Perjalanan singkat yang cukup menarik dan percaya atau tidak, saya hanya perlu mengeluarkan uang sebesar Eur 17,5 pulang pergi. Rasa lelah perjalanan sebanding dengan pengalaman hidup yang saya terima di pertengahan bulan Desember 2011. Syukur terucap kepada tuhan atas karunia yang diciptakan, budaya yang berbeda serta pengalaman hidup yang diberikannya kepada saya.

Salam Kompasiana.

The Hague-The Netherlands, 19 Desember 2011, 15.30 UTC+1

Arief Praseno

/arief.praseno

TERVERIFIKASI (HIJAU)

penikmat musik Akustik
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?