Perbedaan antara Orang yang Menggunakan Kebiasaan Internasional dengan Orang Muslim Shalih (Lanjutan)

12 Juli 2012 06:24:00 Dibaca :

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته


Daripada membicarakan perbedaan hanya dalam hal fiqih lebih baik saya disini melanjutkan artikel saya sebelumnya yang berjudul Perbedaan Antara Orang yang Menggunakan Kebiasaan Internasional dengan Orang Muslim shalih. Mengenai pengertian kebiasaan internasional yang maksud anda dapat melihatnya di artikel saya sebelumnya yang dapat diklik disini: http://filsafat.kompasiana.com/2012/06/26/perbedaan-antara-orang-yang-menggunakan-kebiasaan-internasional-dengan-orang-muslim-yang-shalih/ Adapun disini saya akan menghadirkan tiga tambahan contoh perbedaan antara orang yg menggunakan kebiasaan internasional dengan orang muslim shalih. Berikut contoh-contoh perbedaannya:



Keempat, orang yang menggunakan kebiasaan internasional apabila menurut ia kehidupan dunia dirasa sudah tidak menyenangkan dan ditambah masalah-masalah berat yang menimpanya sehingga tidak ada lagi alasan untuk bertahan hidup untuk waktu lebih lama lagi dan tidak segan untuk mengakhiri hidupnya sendiri karena biasanya orang-orang tersebut hanya memikirkan hal-hal duniawi saja.



Sedangkan orang muslim shalih karena tidak hanya memikirkan hal-hal duniawi saja, ia merasa bodoh dan rugi apabila ia mengorbankan kehidupan akhirat yang lebih baik dan kekal dengan melakukan bunuh diri karena ia tahu pasti bahwa jika ia melakukan itu ia akan ditempatkan di seburuk-buruknya tempat di akhirat nanti dan karena kekal dapat di artikan ia akan menderita selamanya. Maka dari itu ia akan lebih memilih bersabar di dunia. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sebelum kamu, pernah ada seorang laki-laki luka, kemudian marah sambil mengambil sebilah pisau dan di potongnya tangannya, darahnya terus mengalir sehingga dia mati. Maka berkatalah Allah: hambaku ini mau mendahulukan dirinya dari (takdir) Ku. Oleh karena itu Kuharamkan sorga atasnya.” (Riwayat Bukhari, dan Muslim) Al-A'la ayat 17 : Dan akhirat itu lebih baik dan kekal. Adh-dhuha ayat 4 : Dan sungguh yang kemudian (akhirat) itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia).




Kelima, apabila orang yang menggunakan kebiasaan internasional mendapat kabar menakutkan yang dapat mengancam nyawa banyak orang meskipun belum dipastikan kebenaran kabar tersebut, orang yg menggunakan kebiasaan internasional tersebut langsung saja menyebarkan kabar menakutkan itu kepada orang-orang banyak. Saya pikir hal ini dapat menyebabkan kepanikan dan ketakutan yang tidak perlu karena belum dipastikannya kebenaran kabar tersebut. Contoh kabar burung yang menakutkan tersebut adalah kiamat pada tahun 2012.



Sedangkan orang muslim shalih apabila mendapat kabar-kabar seperti itu, ia tidak lantas menyebarkannya sebaliknya ia merasa harus mencari tahu atau memastikan kebenaran kabar tersebut terlebih dahulu dengan bertanya kepada ulama-ulama, kepada pemerintah atau instansi-instansi mengenai bencana alam karena di Surat An-Nisaa’ ayat 83 Allah ta’ala berfirman “Dan apabila sampai kepada mereka (orang munafik) suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (diantara kamu).



Keenam, orang yang menggunakan kebiasaan internasional hanya menilai seseorang adalah hebat apabila ia adalah seorang yang kaya, hidup glamor, berpakaian pakaian terkini dari desainer terkenal, berwajah tampan atau cantik dan punya pacar yang sama kerennya. Menurut saya orang-orang seperti ini hanyalah bersikap baik demi menjaga image-nya dari publik saja jadi rasanya wajar apabila muncul video-video dan sebagainya yang menunjukkan sisi lain dari orang tersebut yang sangat berbading terbalik dari yang sebagaimana biasa terlihat di depan publik. Berbeda dengan orang muslim shalih yang menjaga image-nya dari Allah swt bukan dari orang-orang lain, ia walaupun sedang berada di gua pun tidak akan berani berbuat macam-macam.



Sedangkan menurut orang muslim shalih justru pak dodo yang biasa menjadi imam di masjid lah yang hebat atau mulia di matanya sebagaimana Allah swt membedakan orang yang mulia dengan yang tidak dilihat dari kadar ketaqwaannya. Surat Al-Hujuraat ayat 13 Allah swt berfirman “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu”.




و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Arief Indrawan

/arf.indrwn

Dengan bangga beragama Al-Islam Mahasiswa Hukum Jurusan Hukum Internasional di Fakultas Hukum Universitas Pancasila
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?