Terapis Dapat Menanamkan Memori Palsu (Terjemahan Bebas Studi Mazzoni, et all 99)

27 Januari 2011 08:58:37 Dibaca :

Melanjutkan catatan saya sebelumnya mengenai kasus yang menimpa bapak Anand Krishna (Lihat), saya baru saja membuat terjemahan bebas dari sebuah hasil penelitian mengenai kekuatan terapis dalam menanamkan memori palsu dan bagaimana proses yang dilakukan dalam penelitian tersebut. Berikut adalah terjemahan bebas penelitian Mazzoni, et all (1999).


Apabila sebuah penelitian membuktikan bahwa memori palsu dapat ditanamkan melalui sebuah penelitian eksperimental yang dilakukan oleh Loftus and Pickrell (1995), apakah memungkinkan pula seorang terapis untuk mengubah keyakinan atau memori kliennya melalui sugesti yang diberikan ? Sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Giuliana Mazzoni dan rekannya dari universitas Florence menunjukkan bagaimana potensi seorang psikoterapis dalam menanamkan memori palsu melalui proses analisa mimpi selama 30 menit (Mazzoni, et.all, 1999)


Proses untuk membangkitkan memori dalam sesi ekseperimen terdiri dari tiga tahap :


1. Ingatan di masa awal kanak-kanak dari semua responden penelitian diuji terlebih dahulu


2. Analisa mimpi digunakan untuk menanamkan memori palsu mengenai kejadian masa kanak-kanak yang bersifat sedikit traumatis


3. Ingatan responden diuji kembali mengenai kejadian yang ditanamkan dan juga memori lain yang berhubungan dengan peristiwa tersebut


Berikut ini adalah hasil dari eksperimen tersebut,



Bagian 1 : Memori Masa Kanak-Kanak


Sebanyak 159 potensial responden pertama-tama diminta untuk mengisi kuesioner yang menanyakan peristiwa yang pernah terjadi dan masih mereka ingat sebelum usia 3 tahun. Kuesioner tersebut menanyakan seberapa besar keyakinan mereka akan ingat tersebut. Peritiwa itu termasuk kejadian seperti “menemukan kunci yang hilang” atau “terperangkap dalam jebakan tikus”, ada juga pertanyaan yang ditekankan untuk responden dari para peneliti, seperti : “apakah mereka pernah dimarahi” dan “apakah mereka pernah hilang di tempat umum lebih dari sejam”. Hanya 72 responden yang secara logis dapat diyakini bahwa dia memang tidak pernah mengalami kejadian tersebut yang dapat diikutkan dalam eksperimen.


Responden ini dipilih secara acak untuk masuk ke dalam dua kelompok. Satu kelompok berperan sebagai kelompok kontrol, dan satunya lagi sebagai kelompok eksperimen yang ditargetkan untuk diberikan sesi desain analisa mimpi untuk merubah keyakinan dan ingatan mereka.



Bagian 2 : Analisa Mimpi


Sekitar 2 minggu kemudian, kelompok yang akan diberikan sesi analisa mimpi diundang kembali untuk mengikuti penelitian yang tidak berkaitan dengan kuesioner yang telah mereka isi sebelumnya. Mereka diberi tahu bahwa penelitian ini mengenai mimpi dan kognisi,mereka akan dibawa ke fase mimpi (salah satunya bisa dengan menggunakan teknik hypnosis :Pen) bersama seorang pakar analisa mimpi. Pakar tersebut merupakan para peneliti sendiri. Ketika para responden sudah berada dalam sesi analisa mimpi, mereka diperkenalkan dengan ‘psikolog klinis’ yang akan menganalisa arti mimpi mereka. Akan tetapi, psikolog klinis tersebut mengganti interpretasi mimpinya dengan cara berbeda sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh terapis. Setiap responden diberitahukan pada akhir sesi bahwa mimpi mereka mengindikasikan kalau mereka pernah mengalami kekerasan di masa kecil atau hilang di tempat umum, tergantung pertanyaan mana yang dijawab “tidak” oleh mereka pada saat mengisi kuesioner sebelumnya, dan kejadian tersebut mungkin terjadi sebelum 3 tahun.


Sementara itu, kelompok kontrol tidak diberikan sesi analisa mimpi.



Bagian 3 : Pengecekan memori kembali


Beberapa minggu kemudian, seluruh responden dipanggil kembali untuk mengisi kuesioner yang sama persis dengan apa yang mereka isi sebelumnya di bagian 1. Mereka diberitahukan bahwa tujuan pengisian kuesioner ini untuk menguji reliabilitas (konsistensi) dari kuesioner skala psikologis. Padahal, tujuan utamanya adalah untuk mengukur reliabilitas memori responden.



Hasil : Kepercayaan terhadap memori yang keliru meningkat !!


Mengejutkan, sebagian besar responden yang mengalami sesi analisa mimpi menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa mereka pernah mengalami kekerasan atau pernah hilang di tempat umum sebelum mereka berusia 3 tahun (padahal di bagian 1 mereka menjawab tidak pernah mengalami peristiwa tersebut). Sebagian dari orang-orang tersebut bahkan dapat menjelaskan secara nyata bagaimana peristiwa itu terjadi. Mereka pun sudah membangun sendiri memorinya berdasarkan interpretasi memori yang sudah ditanamkan sebelumnya. Padahal, di awalnya kejadian tersebut tidak pernah terjadi.


Pada kelompok kontrol (kelompok yang tidak mengalami sesi analisa mimpi), hanya beberapa orang yang mengalami peningkatan keyakinan bahwa peristiwa masa kanak-kanak tersebut pernah terjadi. Sebagai tambahan, sebanyak 30 persen responden dari kelompok kontro mengalami penurunan tingkat kepercayaan bahwa mereka pernah mengalami kekerasan atau hilang di tempat umum dibandingkan dengan jumlah presentasi pada kelompok eksperimen yang mengalami penurunan hanya beberapa persen. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok yang mendapatkan sesi analisa mimpi mengalami perubahan memori secara drastis.


Selain itu, sugesti juga memiliki pengaruh berbeda pada masing-masing responden. Pada penelitian ini, responden yang meyakini keabsahan dari terapi analisa mimpi lebih mudah diubah keyakinannya dan ditanamkan memori palsu.



Therapist Power


Meskipun penelitian menunjukkan hasil yang impresif, eksperimen ini mungkin under estimate mengenai kemampuan seorang terapis (yang bukan bergelar psikolog klinis) dalam mengubah keyakinan dan ingatan klien mereka. Eksperiman ini hanya mengukur orang-orang yang bertemu dengan ‘psikolog klinis’ yang belum pernah mereka temui sebelumnya dan siapa saja yang mereka harapkan selain dari pihak yang terlihat ahli dalam analisa mimpi.


Kunjungan klien ke terapis dalam dunia nyata memungkinkan terbangunnya sebuah hubungan yang lebih dalam sehingga lebih membuka peluang untuk memberikan sugesti. Harapannya, hubungan therapeutic ini bisa digunakan untuk perubahan positif, namun penting untuk diingat bahwa hubungan ini seperti koin yang memiliki dua sisi.


Dari hasil penelitian tersebut, bisa menjadi sebuah jawaban yang logis yang menjadi pertanyaan saya selama ini akan perubahan perilaku TR. Bagaimana mungkin, diantara jutaan pembaca buku, ratusan ribu orang yang sudah mengikuti latihan bersama dengan Bapak Anand Krishna, ratusan peserta yang bekerjasama langsung dengan beliau dan bertemu secara intens, hanya dia yang mengaku pelecehan seksual lalu kemudian disusul oleh beberapa gelintir orang ? belum lagi keganjilan lainnya selama proses hukum berjalan. Mengapa dia baru meyakini bahwa telah mengalami pelecehan seksual setelah diterapi ? saya rasa penjelasan dari hasil penelitian Mazzoni ini bisa menjawab pertanyaan tersebut.


*Penulis adalah lulusan Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Indonesia


Arbania Fitriani

/arbaniafitriani

Arbania Fitriani menyelesaikan studinya di Fakultas Psikologi UI pada tahun 2003 dan menyelesaikan pascasarjananya pada tahun 2007 juga di fakultas yang sama dengan gelar cumlaude. Sempat menekuni magister klinis dewasa dan menjalani profesi sebagai terapis, serta penilitian mengenai aspek seksologi manusia membuatnya tertarik untuk terus mendalami aliran psikoanalisis dan tokohnya yang terkenal Sigmund Freud dan C.G Jung. Kecintaannya pada dunia filsafat membuatnya lebih mudah menyelami prinsip-prinsip psikoanalisis. Selain mendalami aliran psikoanalisis, ia juga menekuni psikologi eksperimen khususnya dunia psikometri.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?