Menkumham, tragedi Sampang dan kecolongan intelijen

27 Agustus 2012 15:45:06 Dibaca :
Menkumham, tragedi Sampang dan kecolongan intelijen
okezone.com

Intelligence is knowledge….

Kerusuhan Sampang yang terjadi hari minggu (26/08/12), bentrokan antara kelompok sunni dan syiah di Nangkernang desa Karang Gayam, Kec. Omben, Kab. Sampang, Madura, Jawa Timur, yang merenggut dua korban jiwa, lima orang terluka dan empat orang mengalami kritis. Merupakan bentuk kecolongan pemerintah dalam menciptakan keamanan dan ketertiban di masyarakat (civil order). Intelelijen sudah pasti menjadi pihak yang paling disorot sebagai fungsi organisasi yang dikategorikan sebagai sebuah badan yang serba tahu dari segi peringatan dan pendeteksian dini melalui jaringan ‘radar’ terhadap gejala-gejala atau gejolak yang berlangsung di masyarakat.

Dalam kehidupan bernegara, konsep pertahanan dan keamanan sejatinya merupakan tanggung jawab segenap warga Negara, tetapi secara implisit kewenangan berupa tugas dan fungsi yang mendetil merupakan spesialisasi yang masuk pada ruang intelijen negara. Peristiwa ini merupakan ranah intelijen yang khusus menangani pertahanan keamanan dalam negeri. Kerusuhan Sampang, gejolak klasik di masyarakat, ketika sebuah benturan perbedaan berbuntut pelanggaran HAM terus menerus terjadi, sebelumnya kita sudah sukup diingatkan dengan kasus Mesuji misalnya. Kemudian sebetulnya apa yang salah dari pemerintah ketika selalu ‘kecolongan’ dan menyebabkan peritsiwa tragis tersebut berulang terjadi?

Sebagaimana berita yang dilansir oleh www.okezone.com, Amir Samsudin menyatakan bahwa peristiwa tersebut dilatarbelakangi oleh persaingan keluarga. Menurut saya, mau apapun latarbelakang penyebabnya, secara tidak langsung pernyataan tersebut tetap saja merupakan pernyataan yang melemahkan pihak intelijen pemerintah itu sendiri. Bukankah pernyataan tersebut adalah hal yang sia-sia saja, toh peristiwa sudah terjadi. Sehingga, buat apa mengetahui dan menjelaskan latar belakang peristiwa pasca terjadi bentrokan, bukankah lebih berguna jika sudah diketahui sebelumnya untuk mencegah bentrokan? Seperti telah diketahui bersama, mendeteksi dini dan bertindak pencegahan adalah salah satu tugas pokok intelijen.

Menurut pakar dan tokoh intelijen tiga masa, Soeripto, Produk intelijen tak lebih sebuah analisa, analisa mana yang berdasarkan sebuah pengetahuan (knowledge). Pengetahuan di sini hasil dari observasi dan pengumpulan data dan fakta yang dikemas menjadi serangkaian informasi yang valid. Lalu, merujuk pada pendapat tersebut maka Peristiwa Sampang sudah jelas sebagai lemahnya peranan fungsi intelijen dalam negeri mengenai kemampuan mengendus indikasi yang dapat merugikan serta mengancam keutuhan masyarakat, kelemahannya mengelola jaringan informasi ditengah-tengah masyarakat. Memang tingkat kesulitannya cukup tinggi dalam mencegah sebuah bentrokan yang melibatkan kelompok yang berbeda faham (mainstream/ideologi) seperti perbedaan antara sunni dan syiah, tetapi dalam disiplin teori dan praktis bidang intelijen peristiwa ini sangat memungkinkan dapat dicegah bila teknis strategis dasar intelijen dapat diterapkan dengan baik.

Sudah jelas ini merupakan konflik atas nama agama, konflik sensitif yang mampu berubah menjadi bom waktu. Jika sebelumnya terdapat informasi bahwa muslim Syiah tidak terfatwa haram oleh MUI pusat namun terfatwa haram oleh MUI lokal (Jatim), mengapa pihak intelijen setempat tidak segera mengkoordinasikan jaringan yang ada dalam menyikapi dan pelaksanaan (operasi) tindakan sesegera mungkin, seperti dengan penetrasi maupun dengan teknik okupasi misalnya. Walhasil jika disepelekan maka konsekuensinya adalah kemunculan peristiwa naas ini. Apalagi secara sosiologis budaya, Madura memiliki kultur masyarakat yang keras dan religius, dalam arti sudah dari ‘trah’-psikologisnya masyarakat Madura cenderung memegang nilai bahwa pengabdian sampai mati terhadap keyakinan (agama) yang dianutnya. Sangat disayangkan, seharusnya sudah dapat diwaspadai benar-benar. Bagaimanapun nasi sudah menjadi bubur, kini kita hanya bisa belajar, berusaha menyikapi dan berbuat melalui tindakan-tindakan logis melalui sebuah analisa yang jernih dan seksama supaya ke depan peristiwa sejenis dapat dihindari. Tak terkecuali pemerintah yang bertanggungjawab dalam bidang supermasi hukum dan HAM dan pihak intelijen sebagai ‘garda kokoh tak nampak (invisible bodyguard)’ dalam menciptakan pertahanan Negara dan keamanan untuk membentuk masyarakat kondusif.

Sumber rujukan:

http://islampos.com/kerusuhan-syiah-di-sampang-2-tewas-9-rumah-warga-terbakar/

http://news.okezone.com/read/2012/08/27/339/681158/menkum-ham-kerusuhan-di-sampang-berlatar-persaingan-keluarga

Arba, 270812

A.N Arba

/arba

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Jelata alakadarnya

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?