HEADLINE

Setelah Soegija, Adakah Film Tentang Romo Mangun?

10 Juni 2012 03:31:39 Dibaca :
Setelah Soegija, Adakah Film Tentang Romo Mangun?
YB Mangunwijaya, 1929-1999 (Sumber Photo : Kompas)

Setelah menonton film Soegija jum'at malam kemarin, saya amat menyukai alur cerita dari film ini, dari sisi sinema tak usah diragukan lagi kemampuan Garin Nugroho alumnus Loyola Semarang ini dalam menjalin cerita..seperti bagaimana ia menggambarkan ruang yang diam, mata yang teduh sebagai pralambang 'penolakan' Soegija terhadap penindasan kolonial Belanda, keberanian Soegija mempertahankan martabat keyakinannya dan banyak lagi cerita yang menjadikan kita paham 'bahwa dimanapun, penindasan adalah persoalan kemanusiaan...dan kemanusiaan itu satu".

Setelah menonton film ini apakah kemudian nanti ada film tentang Romo Mangun?  mungkin amat menarik bila para sineas kita mengangkat Romo Mangun sebagai film yang 'mengajarkan manusia untuk memahami manusia sebagai manusia. Bila Soegija mengangkat sebuah pemikiran alam bawah sadar bagaimana kemudian pribumi bisa sejajar dengan penjajah Belanda dan manusia itu tidak dibedakan atas nama ras dan gap sosial maka film Romo Mangun nanti akan memberikan pencerahan pada kita : "Manusia yang tidak terasingkan oleh lingkungannya karena dia miskin, dan manusia yang tidak terasingkan pendidikannya karena berstatus sosial rendah'. Romo Mangun sepanjang hidupnya bergerak di bidang sosial dan membangun ruang kemasyarakatan yang ramah pada lingkungan dengan 'Kali Code' sebagai hasil perbuatannya beliau semasa hidup.

Romo Mangun lahir 6 Mei 1929, ada kenangan menarik dia sewaktu masih muda yaitu bergabung dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) ia menemukan komandan yang amat pendiam, komandan itu adalah Suharto. Mungkin anda masih ingat kisah seorang anak kecil bernama Temon dalam film 'Serangan Fajar' salah satu adegannya yaitu : Temon melihat  seorang komandan yang  naik Jeep dengan disetiri oleh seorang anak buahnya, itulah sebenarnya Suharto dan YB Mangunwijaya,  waktu bergabung dengan TKR dan kemudian diangkat jadi perwira TNI, Romo Mangun sempat menjadi sopir Jeep Pak Harto dalam menginspeksi kota Yogyakarta.  Walaupun kelak kemudian hari saat Pak Harto jadi Presiden RI dan Romo Mangun bergiat di lingkungan kaum miskin di Yogyakarta mereka kerap bersebrangan pendapat, Romo Mangun selalu mengeritik pemerintah yang seakan tak sensitif mendengarkan suara kaum miskin, mereka yang terpinggirkan oleh sistem masyarakat yang mapan.

Yogyakarta sendiri adalah 'rumah jiwa'  bagi Romo Mangun, di Yogyakarta-lah telaga air mata Romo Mangun dibangun untuk mengerti bagaimana kemanusiaan bekerja, ada dua hal yang amat diperhatikan Romo Mangun dalam melihat kemanusiaan : Pertama, Lingkungan dan Kedua, Pendidikan Anak.

Dari lingkungan yang sehat manusia bisa berkembang menjadi pribadi yang memenuhi ruang kedewasaannya-.  Itulah yang menjadi prinsip Romo Mangun dalam membangun sebuah lingkungan dimana manusia bisa berinteraksi dengan alam, bisa menciptakan kemanusiaannya dengan alam. Suatu sore Romo Mangun berjalan-jalan keliling kota Yogyakarta dengan sepeda onthel ia menikmati langit sore kota Yogyakarta yang berwarna kuning muda,  ia berkeliling di pemukiman mapan kaum pejabat dan bangsawan dekat Keraton yang teratur dan bersih lalu ia mengarahkan sepedanya  Kali Code,  satu hal Romo Mangun sangat menyukai arus deras kali. Ketika ia berada di tengah jembatan Kali Code ia melihat dibawah talud (tembok penahan bibir sungai dari erosi) banyak sekali sampah, imajinasinya berjalan ketika ia bertanya 'bagaimana bisa seseorang dengan kemiskinannya bisa hidup di ruang yang kotor ini?, lalu bagaimana kemudian menciptakan sebuah ruang baru dimana ruang itu tetap bersahaja tapi bersih?'.

13392985341093048020
Salah satu sudut yang indah di Kali Code (Sumber Photo : Kali Code SD Mangunan)

Pikiran itu berkecamuk dalam dirinya, suatu pagi ia duduk di teras rumahnya, bunga-bunga bermekaran dan ratusan embun jatuh perlahan menimpa rumput yang ditanam seperti beludru berwarna hijau, ia begitu menikmati, kemudian Romo Mangun tersentak, ia mendapatkan pencerahan 'Lingkungan yang memanusiakan bisa dibangun tanpa harus mahal, yang penting adalah 'tidak mengasingkan manusia dengan dirinya sendiri' bagaimana manusia bisa menikmati alam, di tengah lingkungan yang kumuh sekalipun jika lingkungan itu dibersihkan maka manusia bisa menikmati alam.

Uang tidak dapat membeli bintang-bintang, malam yang indah, ratusan bulir embun yang jatuh di pagi waktu dan udara sore yang tenang dengan langit berwarna tembaga, -karena hidup yang indah itu sebenarnya gratis,  alam yang indah itu adalah pemberian Tuhan pada manusia.

Pencerahan inilah yang kemudian menjadikan Romo Mangun bangkit dari ruang nyamannya dan masuk ke perkampungan kali Code, membangun Kali Code sebagai ruang yang ramah manusia. Setelah kerja kerasnya dan kegembiraan 'wong cilik' menerima Romo Mangun dengan tulus dan ikhlas, rakyat bergotong royong membangun lingkungannya sebagai lingkungan yang bersih dan indah, pelajaran pertama bagi mereka sederhana sekali seperti ajaran seorang guru SD pada muridnya di sebuah siang yang panas : "Jangan Membuang Sampah di Kali". Hasilnya sebuah karya seni luar biasa terbangun di Kali Code, di masa Romo Mangun, kali code menjadi kali yang bersih, orang senang melihat kali ini dikala sore duduk-duduk dan memakan pisang goreng dengan secangkir kopi hangat atau bermain gitar dan kentrung menyanyikan lagu keroncong dengan bulan bulat di atas Kali Code yang berbinar indah.

Berarsitektur berarti berbahasa dengan Ruang dan gatra, dengan garis dan bidang, dengan material dan suasana tempat. Dalam berarsitektur, bukan hanya soal efisiensi-teknis dan fungsional saja, tetapi ada unsur lain yaitu harus adanya dimensi ‘ Budaya’

(Wastu Citra, YB Mangunwijaya, hal.7)

Romo Mangun berhasil mengenakan kepada orang yang berpendidikan relatif rendah, yang terpinggirkan oleh sistem, yang kerap tidak 'diuwongke' (tidak dimanusiakan kemanusiaannya) dan kerap merasa sebagai hamba sahaya karena kemiskinan menjadi orang yang sadar ruang, sadar bentuk dan sadar budaya, manusia yang kemudian menjadi sangat paham bagaimana kemudian bentuk mengisi ruang bukan hanya fungsional tapi juga berbudaya.

1339298974697968126
Karya Arsitektur Romo Mangun di Sendangsono dimana Ruang dan Gatra menyatu dalam diri manusia dan lingkungan (Sumber Photo : dok.sendangsono)

Selain bidang lingkungan dimana Romo Mangun mengenalkan arsitektur yang merakyat dan membumi, menjadikan manusia tidak terasing dengan lingkungannya, Romo Mangun juga mengenalkan konsep pendidikan sebagai 'pemerdekaan manusia'.  Yang paling diperhatikan Romo Mangun adalah pendidikan anak, seorang anak harus merdeka dalam imajinasinya, berdaulat dalam kebebasan berpikirnya. -Hal ini menjadi sebuah antitesis atas sistem pendidikan yang diciptakan Orde Baru, sebuah pendidikan dengan model taat komando.

13392989131618895410
Romo Mangun dan Pendidikan Anak Miskin (film dokumenter tahun 1995)

Suatu pagi Romo Mangun memperhatikan bagaimana anak didik sekolah di sebuah Sekolah Dasar, ia melihat ada sebuah pesan tersembunyi dari pendidikan yang diciptakan Orde Baru, yaitu : menciptakan murid yang hanya mengerti satu kata 'menurut' pada otoritas guru, murid tidak dilihat sebagai 'subjek' yang hidup, anak tak terbebaskan daya imajinasinya,  mereka menjadi barisan-barisan manusia yang terdiam oleh sistem kekuasaan, dari sini kemudian Romo Mangun berpikir tentang dasar-dasar pemerdekaan pendidikan anak.

Ia kemudian meletakkan tapak pertama dalam proses pendidikan anak : Di mana hati diletakkan, di situ proses belajar dan maju mulai.  Pertama-tama dalam mengembangkan pendidikan anak maka hati yang tulus dulu ditaruh sebagai ruang pembuka untuk membuka wawasan anak terhadap dunia.

Dengan dasar dan hati yang ikhlas Romo Mangun mendirikan SD Mangunan, sebuah lembaga eksperimen bagaimana kemudian anak bisa dimerdekakan alam pikirannya dan alam terkotak-kotak karena adanya perbedaan. Prinsip dasar SD Mangunan adalah :

Sekolah mestinya bukan lembaga diskriminasi yang berfungsi sebagai pasak pemecah-belah sosial, akan tetapi suatu convivium, hidup bersama.

Sekolah yang tidak diskriminatif, dimana kemudian ia mencoba lewat SD Mangunan menghancurkan sistem sekolah bergaya pabrik menjadi sekolah yang mendekatkan hubungan batin guru dan murid bukan sebagai penguasa dan orang yang dikuasai tapi sebagai 'dua manusia yang bertemu'  untuk memekarkan kemanusiaan.

Saya kira adalah menarik untuk membuat film tentang jalan hidup Romo Mangun, ditengah masyarakat sekarang ini yang tidak lagi menjadikan kemiskinan sebagai 'ruang persoalan kemanusiaan'  kemiskinan sebagai gugatan untuk mengembangkan kepedulian tapi malah kita sering berkelahi karena perbedaan-perbedaan dan menjadi main benar sendiri.

Sungguh menarik apabila film itu bercerita bagaimana Romo Mangun bersepeda sore hari, melihat kali Code, melihat masyarakat yang bekerja, melihat alam, membersihkan kali, membangun rumah si miskin, membangun kamar-kamar pendidikan dan mencerahkan anak manusia dalam kesejahteraannya, sungguh menarik ketika memperlihatkan Romo Mangun bergulat di kamar kerjanya menggambar bentuk-bentuk rumah yang kaya budaya dan ramah ruang bagi kemanusiaan, dengan hanya berkaos oblong serta sarungan berbicara di beranda rumahnya di kali Code, berbicara dengan bahasa rakyat, bahasa sehari-sehari, bahasa memahami kemanusiaan. Ah, seandainya Garin atau Hanung Bramantyo mau membuat film tentang Romo Mangun, maka akan menyadarkan pada dunia, bahwa di Indonesia adalah tempat yang indah bagi persoalan-persoalan kemanusiaan, tempat yang membuka ruang saling memberi bukan saling membunuh.

Dari keikhlasan Romo Mangun menjalani kehidupan, kita banyak belajar...........

Jakarta, 10 Juni 2012

-Anton DH Nugrahanto-

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?