Adu Program Ahok Anies, Mana Lebih Unggul?

21 Maret 2017   04:13 Diperbarui: 21 Maret 2017   04:25 968 3 6
Adu Program Ahok Anies, Mana Lebih Unggul?
sumber gambar : okezone.com

Imam Ali pernah berpesan “Kejahatan merajalela bukan karena banyaknya orang jahat tapi karena diamnya orang baik “. Pesan ini disampaikan seorang pemimpin yang diakui sampai kedaerah Romawi 14 abad silam. Sejarah memberitahukan bahwa pada masa Imam Ali menjadi khalifah, banyak terjadi konflik dan fitnah.

Banyaknya konflik dan fitnah selalu berbanding lurus dengan jumlah kejahatan disuatu wilayah. Wilayah yang aman cenderung sedikit konflik dan sebaliknya wilayah yang sedang banyak konflik pasti tidak aman dan banyak kejahatan. Itulah yang kita alami diabad yang katanya serba modern ini.

Kejahatan selalu kita temui dimana saja dan dilakukan oleh siapa saja, apalagi di daerah yang padat penduduk dan dengan beraneka ragam latar belakang. Itulah yang terjadi di Jakarta dimana sedang menghadapi masa masa Pilkada.

Bukan musim Pilkada saja Jakarta termasuk kota yang paling tidak aman karena banyaknya kejahatan yang terjadi di Jakarta. Survey membuktikan bahwa tingkat kejahatan yang terjadi di Jakarta sangat tinggi. Sebagai contoh di tahun 2015 saja untuk setiap bulan terjadi 3000 kejahatan diIbu kota 

itu baru yang tercatat, belum lagi yang lolos dari catatan pasti lebih banyak.

Dimusim Pilkada kali ini tingkat kejahatan bertambah pesat. Bagaimana tidak, untuk mendukung salah sau pasangan tidak jarang para timses dan pendukung saling adu mulut yang tak jarang menyulut emosi bahkan mengakibatkan perkelahian.

Kita masih sangat ingat tentu dengan Iwan Bopeng yang mengatakan memotong-motong tentara. Kita juga masih ingat seorang warga yang membuat  hhalaman facebook yang memuat Jokowi dengan keranda di bekuk kepolisian. Tapi tentu kita tidak lupa juga kalau Ade Armando yang memfitnah itu di bebaskan tanpa ada alasan.

Oh iya saat ini Pilkada memasuki masa kampanye lagi. Namun ada sedikit perbedaan dari putaran pertama. Di putaran kedua ini tentu KPU membatasi kampanye dalam artian tidak bisa kampanye besar-besaran seperti putaran pertama saat masih ada anak Pepo yang muncul secara  mendadak.

Di putaran kedua tentu baik Anies maupun Ahok pasti berharap dukungan dari para fans AHY yang memiliki masa lumayan besar. Untuk itu baik tim Anies maupun Ahok berusaha mendapat dukungan tambahan lewat beberapa cara.

Cara yang sudah kita semua tau adalah dengan mensosialisasikan program. Untuk hal ini saya rasa ide Anies lebih Fresh dari ide Ahok. Ahok sebagaimana kita tahu program KJP dan KJS masa Ahok kurang terdistribusi dengan baik dan masih banyak celah kelemahannya. Anis menawarkan KJP Plus, yakni tidak hanya menwarakan pendidikan gratis seperti Ahok. Bagi Anies pendidikan itu harus gratis, berkualitas dan tuntas. Itulah yang dicita cita kan Anies untuk warga Jakarta. Gratis disini dalam artian semua pelajar yang berasal dari DKI mendapat  beasiswa dari pemprov, kualitas maknanya pendidikan jangan Cuma pendidikan tapi harus ditingkatkan SDM nya.

Lagi lagi yang saya lihat Ahok kembali kalah oleh Anies. Ahok kurang mampu berjualan program ataupun mensosialisasikan program yang ia punya. Muncul dugaan kalau Ahok memang tidak memiliki program alias ngambang. Mungkin satu satunya program yang di banggakan adalah reklamasi yang kalah di PTUN.

Baik Anies maupun Ahok pada dasarnya memiliki tim untuk mensosialisasikan program, tapi mengapa program yang di dengar masyarakat adalah programnya Anies. Mulai dari DP 0 %, KJP Plus KJS Plus, OK OTRIP, OK Oce dan lain lain. Sementara yang kita dengar dari Ahok adalah? Silahkan isi sendiri karena saya tahunya hanya reklumasi.

Baik mari kita lanjutkan mengapa terjadi demikian? Pertama sejauh yang saya amati banyak dari pendukung Ahok fokusnya tidak mensosialisasikan program melainkan membully lawan. Bukan rumor lagi jika ada orang berbeda pendapat dengan Ahok maka Pasukan cyber nya akan turun tangan menghabisi orang yang berbeda tersebut. Silahkan teman-teman lihat akun @pandji yang menjadi bahan caci maki oleh para pendukung petahana.

Yang kedua yang dilakukan timnya Ahok adalah dengan membuat gaduh. Iya membuat gaduh apa saja dan dimana saja supaya masyarakat kurang fokus dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di TPS nanti. Lagi lagi saya mengingatkan kasus iwan bopeng di pemilihan putaran pertama. Iwan Bopeng datang bersama rombongan ke suatu TPS untuk melakukan pemilihan. Tapi karena berkas dan syaratnya tidak ada maka panitia menghalangi. Anehnya Iwan malah marah marah dan memaki panitia bahkan sampai mau potong potong tentara katanya.

Kejadian kejadian seperti ini lah yang harus di antisipasi Tim Anies Sandi. Denga bergabungnya Partai Perindo dalam barisan yang mendukung Anies Sandi dan membangun posko-posko Perindo di harapkan bisa meminimalisir terjadinya kecurangan seperti tadi. Keberadaan posko-posko ini juga tentu di gunakan untuk sosialisasi dengan warga Jakarta dan mengajak mereka warga jakarta berdialog langsung, melakukan diskusi apa keinginan masyarakat, apa masalah masyarakat dan memusyawarahkan bersama untuk diambil solusinya.

Banyak manfaat bisa diambil dari pendirian posko-posko ini. Dengan sistem yang rapi dan terintegrasi anatar satu posko dengan posko yang lain maka saya sangat yakin posko ini dapat mengawal jalannya Pilkada yang aman dan berjalan tanpa kecurangan. Jika ada hal yang tidak mengenakan atau ada indikasi kecurangan maka antar posko tinggal melapor satu sama lain. Terobosan yang mengagumkan.