Ahok Kalah, Nggak Perlu Cari Kambing Hitam Lagi Karena Sudah Ada Sapi

21 April 2017 07:34:53 Diperbarui: 21 April 2017 11:14:16 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Salam 2 Jari. Salam itu ditujukan pada rakyat Jakarta. Salam 2 Jari tu artinya V=Kemenangan, Kemenangan rakyat Jakarta karena telah berhasil melaksanakan Pesta Demokrasi dengan baik.

Baik disini tentu saja bukan berarti baik sempurna tetapi dalam artian baik secara standar. Pelaksanaan Pilkada sangat kondusif. Aparat TNI/Polri mampu membuat suasana aman dan nyaman. Gangguan-gangguan keamanan maupun intimidasi nyaris dikatakan tidak ada.

Ada yang tidak puas karena kalah, Wajaaarrr.  Namanya juga pertandingan, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Umumnya yang menang akan bergembira dan yang kalah akan bersedih. Manusiawi.

Tinggal masalahnya adalah sebagian yang kalah menjadi Gagal Move On sebagian lagi berhasil Move On. Anda termasuk yang mana? Hohohohooooo

Salut pada pak Basuki. Saat ini saya lebih suka memanggilnya dengan nama itu. Soalnya setelah kalah Ahok itu makin keren. Dia Ksatria dan mau mengakui kemenangan lawan. Bahkan kemarin Ahok dan Anies sudah sama-sama menyusun pekerjaan-pekerjaan yang harus diselesaikan selama masa transisi.

Salut buat Ahok, eh salah. Salut untuk Basuki. Cocok bingit namanya untuk sikap yang seperti itu.

Basuki atau Ahok saat ini sudah membuktikan dirinya mampu bersikap Ksatria. Secara Bahasa gaul, Ahok berhasil untuk Move On. Tetapi sayangnya gua liat banyak pendukungnya di Twitter seperti Fajroel Rahman, Partai Sosmed dll malah Gagal Move On.  Mereka malah sekarang seperti  nenek-nenek alias Suka Nyinyir. Hehehehe

Kesalahan dari para pendukung Ahok yang nyinyir di Twitter adalah Mereka Menyalahkan Anies atas Kekalahan Ahok. Weleh-weleh.

Saya bayangkan bahwa mereka adalah penonton yang sedang menonton pertandingan tinju. Kedua Petinju bertanding dengan baik sekali. Dan di mata mereka, Hook-hook  Ahok dan Jab-jab nya lebih banyak menghasilkan nilai daripada Alpukat Anies (terserah gua istilahnya dong). Kkakakakaka.

Tetapi ternyata Hasil pertandingannya menang  Petinju Anies. Langsung Penonton memaki-maki Anies. Itu waras nggak ya? Hehehehehe.

Kalau penonton waras dan merasa sangat yakin bahwa jagoan mereka yaitu Petinju Ahok lebih baik dari petinju Anies, maka seharusnya yang disalahkan adalah Yuri nya. Atau nggak yang wajar disalahkan ya wasitnya. Mosok lawannya Ahok yang disalahkan? Hehehehe.

Nah itu tadi pertandingan tinju dimana yang mempunyai Hak Prerogatif adalah Yurinya. Dan kita bicara Pilkada, tentunya yang paling berhak menentukan Pemenangnya adalah Rakyatnya. Setuju?

Yang punya Hak menentukan Pemenang adalah Para Yuri.  Para Yuri sudah menentukan Pemenangnya.  Kenapa penontonnya masih saja nyinyir? Heheee

Bila kita mengaku dan selalu mengklaim diri sendiri sebagai  rakyat yang cerdas dan sebagai warga yang berdemokrasi tentu kita akan menghargai apapun hasil dari suatu Proses Demokrasi selama semua itu berjalan dengan baik.

Semua Proses Demokrasi selalu hanya menghasilkan satu hal yaitu Keputusan Final ditentukan Suara Terbanyak.

Dan Pilkada DKI sudah usai dengan hasil yang sudah dirilis KPU DKI semalam. Anies Menang dengan Suara yang Signifikan dari Ahok. Kondisi itu menepis semua asumsi-asumsi negative yang ada.

Kedua Petarung sudah berdamai dan memberikan contoh yang baik dan saling berkolaborasi.

Contoh yang baik sudah ada, mengapa masih perlu mencari contoh buruk?

Sapinya (contoh baik) sudah ada, Mengapa harus mencari Kambing Hitam (contoh buruk) lagi?

Begicuh.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana