SRIWIANI
SRIWIANI

Ya Alloh, andai hati ini gelap, terangkanlah! Andai hati ini sempit, lapangkanlah! Dan andai hati ini keras, lembutkanlah!!! Aamiin Ya Robbal'alamiiin!

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight

Cerpen | Steven

13 September 2017   21:14 Diperbarui: 13 September 2017   21:17 145 3 1
Cerpen | Steven
dokpri

              Aku bertemu dengannya di kereta dalam perjalanan bolak balik antara Cirebon-Jakarta.  Hari  itu Minggu tanggal 4 September 2016, kami bertemu untuk yang kesekian kalinya di kereta, dan pada hari itu kami duduk berdampingan. Kamipun bertegur sapa dan saling bertanya mengapa kami selalu bertemu dihari yang sama. Dia menyebutkan namanya Steven...ya namanya Steven. Aku sempet berpikir, namanya agak aneh, bukan tipe nama sunda atau jawa yang aku kenal. Aku berulang kali curi-curi pandang melihat wajahnya, dan entah mengapa akupun sempat berpikir apa dia seiman dengan ku?

 Namanya Steven, hidungnyan mancung, matanya agak-agak sipit... aku abaikan apa yang ada dalam pikiranku, toh kita Cuma kenal selewat ini. Sejak hari itu dia meminta aku untuk bertukar nomor hp. Sesampainya di rumah, aku lempar tas yang penuh dengan buku-buku. Aku duduk di kursi yang ada dipojokan ruang tengah. Aku gosok-gosok layar hp ku yang nampak kotor berminyak. Perlahan aku buka wasap (WhatsApp) ku. 

Di pencarian ku ketik nama Steven....sehingga munculah profile picturenya,,,,aku sedikit tersentak dan sempat tertegun. Di profile picture nampaklah Steven menggendong dua anak kecil yang sepertinya satu laki2 dan satunya perempuan. Ku tarik napas panjang, hp ku setengah melemparnya ke kursi yang ada di seberangku. Entah aku sedikit kecewa atau kenapa,,,,,ahhh rasanya "asa teu kudu".

              Dua bulan sejak itu kami tak lagi pernah bertemu di kereta. Sempet tadi pagi aku memikirkannya, aku buka hp ku, ku lihat profile picture nya... tiada foto atau gambar melainkan sebuah tulisan meme yang aku pikir sangat lucu, hingga ujung bibirku terasa mengembang.

Sehabis sholat dhuhur, saat aku melipat mukena aku dengar ada pesan wasap masuk ke hp ku. Setelah muken aku letakan, aku segera ambil hp dan aku lihat pesan masuk...... dari Steven. Sejenak pikiranku melayang, ada perasaan bahagia, entah mengapa aku merasa mendapat sebuah kejutan istimewa. Aku membukanya perlahan dan membacanya

"Apa kabar? Lama tidak bertemu dikereta... masih bekerja di Jakarta?"  dengan sedikit gemetar aku menjawabnya,

"Masih....... Tapi sudah dua bulan ini saya berangkatnya hari senin pagi"

"Ooooh pantesan. Saya selalu mencari-cari tapi tidak pernah liat lagi J "

"iyaa,," balasku pendek.

***

              Sejak hari itu lah hubungan kami via sosmed semakin intens. Dari situ pula aku sedikit-sedikit tau tentang dirinya, begitupun aku menceritakan tentang diriku yang ingin dia tau. Berbulan-bulan kami nyaris tak pernah terputus komunikasi. Aku bersyukur dia orang seiman denganku. Dia menanyakan statusku dan tanpa malu-malu aku katakan bahwa aku janda beranak 2, aku ditinggal suami 3 tahun yang lalu . 

Dan alangkah terkejutnya aku, dia mengatakan dia beristri, tanpa penjelasan lain dan dia menolak memberi penjelasan lain tentang istrinya. Aku sempat bimbang dan terombang ambing, haruskah aku bertanya lebih jauh tentang istrinya? Haruskah aku hentikan komunikasi ini sekarang juga? Tapi jujur hatiku terlanjur suka, aku menyimpan banyak harapan padanya.

Berbulan-bulan kami menjalin hubungan tanpa kepastian status, tapi aku menikmatinya dan aku rasa diapun sama. Sering di hari libur dia mengajak aku dan anak-anakku pergi berlibur ke suatu tempat. Aku melihat betapa kebapak-an nya Steven, anak-anakku dibuatnya nyaman dan betah bersama nya. 

Yaa  pria ganteng itu selalu ada disisiku, aku perlahan benar-benar dibuatnya jatuh hati. Tidak jarang pula dia menyanjungku, mengatakan aku cantik lah.. aku mandiri lah..aku tegar lah...bla bla bla. Namun adakalanya kami berselisih bak anak kecil, saling memblokir medsospun tidak sekali dua kali. Semua membuat aku merasa semakin dekat, semakin mengenalnya luar dalam dan betapa berartinya dia buat aku.

Sampailah kami pada bulan Februari tahun berikutnya... sore itu aku baru pulang dari pekerjaanku. Tiba2 hp ku berdering. Kulihat nama Mas Steven, -kupanggil dia mas karena dia wong Cirebon-.

"helooww...kemana aja Mas, dari pagi tak ada kabar...aku tunggu-tunggu"

"Sabtu besok aku akan melamarmu....." sejenak aku terdiam.. serasa tak percaya

"Maksudnya apa??????"

"hiiii telingamu tuh yaaaa..... aku mau melamarmu" dia menaikan volume bicaranya....

"Istrimu???? Bahkan selama ini kau tidak pernah memberitahuku tentang istrimu, kau hanya bilang anak-anakmu ikut bersama nenek nya di Surabaya....kini tiba-tiba kau mau melamarku????. GJ " sahutku.

"Baiklah nanti kalo lamaranku kau terima aku akan menceritakan segalanya.... Mudah-mudahan tidak ada rintangan minggu depan aku kerumahmu untuk menemui ibumu."

"baiklah..... tapi besok aku mau bertemu denganmu, bisa?" tanyaku mendesak.

"Baiklah Honey... kita bertemu ditempat yang sama dengan minggu yang lalu"

*** 

Entahlah... dalam kurun 6 bulan ini, aku benar-benar jatuh hati pada Steven. Dia membuat aku sangat menikmati hidup dari hari kehari, terlebih kedua anakku begitu dekat dan nyaman bersamanya. Tuhan.. apakah memang dia Engkau kirim untuk kami?? Indahnya perjalanan kami tidak akan cukup waktu sebulan untuk diceritakan. Dia benar-benar mengambil separuh nafasku...

Sampailah kami pada waktu dan tempat yang dijanjikan. Hembusan angin bukit Garonggong menyibak wajah kami. Tiba-tiba aku merasa dia memegang tanganku erat sambil berkata pelan, kedua matanya menatap wajahku yang terasa memerah ditatap dari dekat sekali...

"Apa kau mencintai aku....?" Aku tak segera menjawab, aku hanya membalas tatapan matanya seolah aku ingin dia mengerti bahwa tatapanku sudah lebih dari sebuah jawaban. Lama-lama aku merasa kedua mataku pedih, aku segera menunduk sambil bibirku sedikit tersenyum. Aku mencoba meyakinkan jawabanku dengan menganggukkan kepalaku. Kudengar dia melanjutkan bicaranya.

"Minggu depan kita temui ibu mu, aku akan melamarmu. .... Tapiii... sebelum itu aku akan menjawab pertanyaanmu selama ini yang belum sempat aku jawab...." Aku sontak memalingkan wajah kembali menatapnya, tentu dengan raut gembira dan penuh rasa penasaran..... dia melanjutkan bicaranya.

"Istriku bernama Silvi Ayuningtyas.... Sejak melahirkan anakku yang kedua dia sakit...." Aku terperanjat kageettt

"sakiiiiiiiitttttt????????? Kok dirimu tega-teganyaa..."

"Sabar duluuu.... Aku belum selesai bicara" pungkasnya. Steven melanjutkan bicaranya dengan terbata-bata.

"Dia istri yang sangat aku cintai... anak pertama membuat kebahagiaan kami semakin sempurna. Namun,,,,,...... sejak melahirkan anak kedua istriku sakit.... Sakit jiwa. Sudah 5 tahun, pernah di rawat dibeberapa rumahsakit jiwa tapi yaaa.. begitu, tidak ada kemajuan. Sehingga mertuaku akhirnya memperbolehkan aku untuk menikah lagi, orang tuanya memaksa membawa istriku dari rumahku...." Terdengar suara Steven terhenti dan aku melihat linangan air matanya tak tertahan,,, tiba2 hatiku teriris perih mendengar cerita itu, air mataku tiba-tiba tak tertahan lagi...aku terisak mendengar cerita itu....tentu itu adalah hal terumit  dan terberat yang dialami Steven selama ini......

" Mas..berapa kali dalam sebulan dirimu nengok dia?" tanyaku dengat suara parau dan kedua tangannya aku pegang erat.

"Ke Surabaya aku hanya mengok anakku saja. Istriku menolak bertemu dengan siapapun termasuk aku dan anak-anaknya, dia tidak mengenali aku dan anak-anaknya". Airmata steven aku lihat semakin deras...tangisnya pecah meski ia terus berusaha menahannya. Aku memeluknya, ia menangis tersedu-sedu dalam pelukanku. Ini pertama kali aku melihat steven menangis sepedih ini, hingga air matakupun tak tertahan lagi.........

***

              Sebulan sudah sejak aku tau kondisi istrinya Steven, aku memutuskan minta diundur lamarannya. Entah mengapa rasanya hatiku tak tega....hatiku belum bisa menerima kenyataan ini, entah karena aku iba entah karena apa.... Yang aku rasakan hati ini jadi galau berkepanjangan, yang ada di benakku adalah bayang-bayang istrinya Steven, betapa menderitanya dia. Haruskah dia kehilangan belahan jiwanya disaat dia menderita...tentu akan lebih menderita lagi, tidak tegaaaa,,,,,tentu hati mana yang akan tega mengambil suami orang yang sedang menderita???. 

Lalu bagaimana aku yang sudah terlanjur mencintainya???? Mas Steven telah menjadi energiku selama ini...haruskah aku kehilangan dia?? Mengapa terasa harus sepahit ini??? Air mata ini pun terjatuh setiap kali aku mengingat semua ini. Ada kalanya aku berniat akan menolak lamaran Mas Steven, tapiiii perasan ini tak bisa dibohongi, terlalu besar rasa sayang ini untuk diabaikan.... Aku mencintainya dengan sepenuh hati... dia kebahagiaanku yang pernah hilang... bagaimana aku harus menghapus semua kenangan yang pernah kami lewati bersama selama ini.... B

agaimana anak-anakku yang telah menganggap Steven seperti ayah mereka sendiri... Entah mengapa hatiku terasa hancur,,, dihadapkan pada pilihan yang teramat rumit,,menyangkut dua perasaan, peluk selamanya atau lepaskan. Terkadang rasa getir dan bahagia menghantuiku,,,, aku membayangkan jika aku menikah dengan mas Steven, lalu istrinya sembuh...apa jadinya hidup kami.... Sekalipun Steven memilih kami, bagaimana dengan istrinya...... 

Goodbye Steven....akhirnya aku harus melepaskanmu, aku merelakanmu, aku memaksamu untuk tidak mengambil pilihan lain selain sabar menanti istrimu,,,,dan entah sampai kapan,,, akupun tak tau. Terkadang terasa pahit berjudi dengan perasaan sendiri... aku memintamu mengambil langkah terpahit, tanpa tau apa hari esok memang milikmu atau milikku..

Ku kenang.... Mimpi dan khayalan kita, dimana kita membangun sebuah rumah di bukit yang rimbun,,,, sebuah kolam ikan dibelakang rumah, dimana airnya beriak kencang karena ikan mulai bertumbuh besar.

Jangan lagi kau katakan....aku lupa jalan menuju tua, aku lupa jalan menuju damai.....

*** Aylaview Steven***