Anggraini Arda Sitepu
Anggraini Arda Sitepu Ibu Rumah Tangga

Blogger, nulis puisi, novel, cerpen, lirik lagu, jingle & mars, suka dunia perpajakan... Email : anggraini.arda@gmail.com. Another Blog : curhatansahabat.blogspot.co.id

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight

Mantan Terindah

17 Februari 2017   19:15 Diperbarui: 23 Februari 2017   04:26 545 3 1
Mantan Terindah
Sumber Foto : Dokumen Pribadi

“Bersua dengan mantan adalah sebuah fenomena yang tak harus terjadi saat hati terdeteksi rapuh.”

Hai perkenalkan namaku Kushi...

Setiap orang yang bertemu selalu menanyakan arti namaku ini. Dalam bahasa Hindi artinya penuh kebahagiaan. Mungkin kedua orang tuaku selalu berharap anak semata wayangnya ini selalu bahagia.

Satu lagi yang dipertanyakan adalah mengapa nama ini khas India. 25 Tahun lalu, aku dilahirkan di New Delhi saat Papa ditempatkan di Kedutaan Besar Indonesia untuk India.

Kebanyakan orang bilang wajahku mirip Preity Zinta tapi pastinya enggak tertukar di rumah sakit, karena memang Mama aslinya cantik, jadi turun deh ke anaknya, hidung mancung, rambut hitam, lesung pipit ditambah sedikit tai lalat tepat di bibir bawah.

Saat memasuki perkuliahan, aku memilih tinggal bersama Paman di Indonesia. Memilih jurusan ekonomi, agar kelak bekerja di sebuah perusahaan, duduk manis di depan komputer tanpa harus keliling dunia.

Sesuai dengan harapan,setelah lulus akhirnya aku bekerja di sebuah perusahaan. Di tengah menumpuknya tugas kantor tiba-tiba mataku tertuju kepada foto wisuda 4 tahun lalu. Di mana ada masa yang sangat dirindukan. Penuh dengan kenangan yang mungkin susah untuk dilupakan. Cerita ini dimulai saat pertama kali duduk di bangku kuliah.


Pagi itu...

Akuberjalan menuju kampus dan mencari ruangan di hari pertamakuliah. Akhirnya menemukan ruangan itu. Untungnya dosen belum masuk ruangan. Sambil celingak-celinguk melihat sekelilingku, semua tampak asing. Karena memang teman sekolah dulu tidak ada yang kuliah di sini.

Tiba-tiba suara gemuruh berubah jadi senyap. Sang dosen yang ditunggu pun masuk.Semula bayangan tentang dosen yang pernah hinggap di kepala adalah berkacamata tebal, rambut penuh uban dan tumpukan buku tebal di tangan.

Ternyata pria yang masuk adalah pria muda sekitar 25 tahun. Perangainya bersahabat, senyumnya manis, membuat semua mata wanita di dalam kelas tertuju padanya.

Hampir mata ini tak berkedip melihat sesosok tampan yang sedang asik menulis di white board.Dia ternyata dosen Ekonomi Manajerial dan saat ini sedang melanjutkan S3 di kampus ini. Wah dia makan apa saja bisa setampan dan sepintar itu.

Ternyata bukan aku saja yang mengaguminya, beberapa mahasiswi jurusan lain juga. Ehmmmm... ternyata jatuh cinta dengan dosen itu lebih sulit daripada mendapatkan IPK 4.

Waktu terus berjalan sampai akhirnya aku duduk di semester 7. Ini yang namanya cinta diam-diam. Lebih dari 3 tahun memendam perasaanbahkan sering jadi paparazzi untuk mendapatkan foto-fotonya.


Siang menjelang UAS...

“Hai, Kushi... Udah mau UAS nih, dari kemarin Loe melamun aja, mikirinPak Dirga ya?” (sambil menepuk pundak).

Ini dia sahabatku, namanya Dea. Anaknya manja, ceplos dan sedikit malas mengerjakan tugas. Papanya punya perusahaan, kalau lulus bisa langsung kerja di tempat Papanya.

“Iya nih De, udah seminggu doi kagak ke kampus. Gue jadi cemas, mau sms cuma Gue malu.”(sambil menopang dagu).

“Ya, elah udah Loe bilang aja kalau Loe memendam perasaan dari semester 1 sampai sekarang.”

“Loe kira semudah membalikkan telapak tangan.”

“Kushi, Loe itu cantik. Selama kita kuliah coba hitung berapa pria yang nembak Loe?”

“Apa iya, Gue nyatain ke Pak Dirga?”

“Ya udah, besok Loeungkapkan perasaan ke doi. Kalau diterima, syukur kalau enggak berarti belum jodoh.”

“Iya juga ya, waktu dulu Gue tinggal di luar. Ada juga teman cewek yang nyatain cinta ke cowok.”

“Nah, itu Loe tahu. Ya udah tunggu apa lagi.”


Keesokan hari...

Akhirnya memberanikan diri menemui Pak Dirga.Thanks God, ternyata dia lagi sendiri di ruang dosen.

“Tok... tok... tok, permisi Pak.”

“Hai Kushi, silahkan masuk. Ada apa?”

“Paaa...paakk, saya cuma...”

“Cuma apa? Ayo duduk dulu...”

“Saya cuma mau bilang kalau dari Semester 1 saya memendam perasaan sama Bapak. Saya mau Bapak tahu, terima kasih Pak, saya permisi dulu.”

“Eh... Kushi tunggu...”

Tanpa basa-basi aku berlari meninggalkan ruangan itu. Perasan lega seperti bongkahan batu yang pecah menjadi puing-puing.

Sampai di rumah pukul 15.00 WIB, aku mulai letih dan tertidur sampai sore. Tiba-tiba, suara handphone berbunyi.

“Oh... No! Tertulis panggilan dari Pak Dirga. Ya ampun, aku harus bagaimana?”

“Hallo, Pak Dirga. Tadi saya cuma bercanda, enggak punya maksud lebih.” (Sambil mengerutkan dahi dan menggaruk-garuk kepala)

“Saya anggap kamu serius dan ekspresi kamu tadi lucu banget.” (Sambil tertawa)

“Ya ampun, Pak saya jadi enggak enak hati.”

“Udah kalau di luar kampus jangan Panggil Bapak, panggil Mas, Kakak atau Dirga saja.”

“Iya Kak Dirga. Jadi jawabannya apa?” (Dalam hati, bener-bener wanita kepedean tingkat Dewa)


 “Kakak juga udah lama memperhatikan kamu, semula sih mikirnya malas gitu punya pasangan anak didik sendiri. Lama-lama semakin memikirkan kamu. Sebulan lalu, sebenarnya pengen nanyain kamu. Karena sibuk, jadi abis UAS aja pengen ngajak kamu jalan.”

“Apaaaaaa............... Kakak enggak bercanda kan ya. Enggak sedang menghibur kan ya.” (Sambil lompat-lompat di tempat tidur)

“Ya udah, besok habis UAS. Kakak ajak kamu ngobrol di kantin ya. Sekarang belajar dulu biar ujiannya besok bisa. Bye...”

“Bye... Kakak. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....”

Sesudah hari itu, ke kampus tambah menyenangkan.Dea adalah orang pertama yang mengetahui hal ini. Hampir seisi kampus mengetahui hubungan kami. Walaupun pandangan mata sinis sebagian wanita di kampus selalu tertuju padaku.

Dirga sudah mulai terbiasa dengan keluarga Paman. Kabar bahagia ini juga sudah sampai ke telinga Papa dan Mama. Dirga adalah pria baik, pintar dan perhatian. Kebahagiaan hampir setahun berjalan sampai aku menyelesaikan skripsi dan diwisuda.


Cerita sendu saat wisuda...

Saat itu, hari cerah sekali. Kebahagiaan terlihat di wajahku karena akhirnya Papa dan Mama dapat menemaniku wisuda. Mereka sudah ditempatkan di Indonesia.

Sepulang wisuda, keluarga besar langsung pulang ke rumah. Sedangkan Dirga mengajakku ke restoran dekat kampus tempat biasa kami bertemu.

Sambil memegang tangan, Dirga berkata: “Sayang, sebulan lalu aku dapat tawaran penelitian ke Minessota. Maaf sebelumnya, kalau aku menerima tawaran tersebut. Kemungkinan akan berangkat bulan depan.”

Tiba-tiba kebahagiaan bercampur dengan tetesan air mata. Sedikitpun bibirku tak mengeluarkan kata. Tak terpikirkan untuk menjalin hubungan antara dua benua.


Antara Jakarta dan Minessota...

Waktu itu pun tiba, aku mengantar Dirga ke Bandara. Saat itu, Dirga memeluk erat tubuhku, seakan-akan susah untuk bernafas. Kusadari bahwa antara cinta dan mencapai impian adalah dua pilihan yang sulit.

Hampir 3 bulan Dirga di Minessota, dia mulai menyesuaikan udara di sana. Hubungan kami terus berjalan, aku pun mulai sibuk untuk mencari pekerjaan. Saat 6 bulan pertama, hubungan ini sudah terbiasa. Cerita ini berubah ketika memasuki tahun pertama.

Dirga tidak pernah memulai percakapan lagi. Dirga dan aku sama-sama sibuk. Akhirnya di suatu sore, Dirga hanya memberi kabar melalui email bahwa hubungan ini diakhiri saja. Saat itu, antara sedih dan kecewa menjadi satu. Tapi apa mau dikata, ternyata hubungan jarak jauh itu tidak mudah.Dirga jadi mantan terindah...


Rafa hadir dihidupku...

Setahun berlalu sejak Dirga memutuskan untuk berpisah. Aku kembali menemukan sosok pria pekerja keras. Nama pria ituRafa. Hubungan kami sangat baik bedanya Rafa sedikit cuek dibanding Dirga.

Tepat di usia 24 Tahun, Rafa melamarku untuk menjadi istrinya. Hatiku sangat bahagia, walaupun acara lamaran itu baru kami berdua yang mengetahuinya. Aku tidak tahu apakah pemberian cincin ini sebagai pengikat agar aku tidak ke lain hati.

Setahun semenjak lamaran, Rafa tidak pernah menyempatkan diri untuk berbicara kepada orang tuaku. Seolah-olah aku hanya diikat tanpa ada kepastian. Setiap ditanya tentang kelanjutan hubungan, Rafa selalu berkilah pekerjaan, belum punya waktu yang tepat dan lain sebagainya.

“Hai Kushi... Melamun lagi, pasti deh urusan pria. Kenapa?” Tanya Dea, sahabat di kampus sampai satu kantor.

“Loe tahu kan gimana Rafa, sampai detik ini dia belum ngomong ke Ortu Gue. Kapan nikahnya? Apalagi ini hari Valentine, pasti dia lupa kasih sesuatu ke Gue.” (sambil merengek)

Hmmmm...Ya udah Loe cari aja yang lain. Daripada diikat terus tanpa ada kepastian.”

“Tapi sama siapa??? Rafa itu sudah komplit banget untuk saat ini.”

“Ya udah, makan siang dulu yuks. Laper Gue.”


Bersua dengan mantan terindah...

“Kushi... ngopi dulu yuks. Udah lama enggak ngopi di sini. Terakhir waktu bareng Dirga. Upss...”

“Yuks, tapi jangan ingetin nama Dirga lagi dong. Kan itu udah lama banget.”

“Haha... Kali aja jodohnya Loe itu si Dirga bukan Rafa. Kushi, ingat semesta bisa berkata lain.”

“Udah ah, yuks pesan.”

Tiba-tiba mata tertuju pada kursi di sudut dekat jendela. Sesosok pria berkacamata sambil membaca buku dan menikmati secangkir kopi.

“Dea, bener kata Loe mungkin semesta bisa berkata lain. Itu Dirga, iya itu Dirga, Dirga... Dirga.”

“Ya ampun, Dirga makin cakep aja. Kenapa doi enggak kasih kabar kalau udah di Indonesia.”(Teriak Dea)

Dea mendekati Dirga, sedangkan aku hanya berdiri kaku memandangnya dari kejauhan seolah-olah menghidupkan lagi semua kenangan masa lalu.

“Hai manis, apa kabar? Mari, jangan berdiri aja. Aku lupa ngabarin kalau seminggu lalu sudah di Indonesia dan handphoneku hilang waktu di Minessota.” (Sapa Dirga dengan lembut).

“Kamu apa kabar? Sudah lama banget enggak ketemu.” (Tanyaku perlahan)

“Aku baik saja, dengar-dengar kamu sudah tunangan ya. Aku lihat status di Facebook.”

Hmmm... Iya.”

“Tapi Dirga, Kushi ini diikat aja tapi belum diajak nikah sama tunangannya udah mau jalan 2 tahun.” (CeplosDea)

Aku hanya terdiam dan tak henti memandang wajahnya. Dia tetap baik, manis dan perhatian. Namun, kenapa mantan terindah ini bersua saat hati mulai rapuh. Akankah aku melepaskan Rafa dengan ketidakpastiannya dan memilih kembali Dirga walaupun aku tidak tahu kemana lagi dia akan pergi.

Di hari kasih sayang ini, menjadi dilema dalam hidupku. Kemanakah akan kuletakkan sepenggal hati yang mulai rapuh. Semoga besok hadir jawaban penuh kebahagiaan seperti namaku... KUSHI...



Words : 1.481