HIGHLIGHT

Esensi Politis "Sabda Tama" Sri Sultan

12 Mei 2012 05:50:18 Dibaca :
Esensi Politis "Sabda Tama" Sri Sultan

Sabdo Tomo

Ingsun Kang Jumeneng Nata Mataram medarake Sabda:

Dene Kraton Ngayogyakarta saha Kadipaten Paku Alaman iku, loro-loroning atunggal.

Mataram iku Negri kang merdika lan nduweni paugeran lan tata kaprajan dewe.

Kaya kang dikersaake lan dikaperangake, Mataram ngesuhi Nuswantara, nyengkuyung jejeging negara, nanging tetep ngagem paugeran lan tata kaprajane dewe.

Kang mangkana iku kaya kang dikersaake, Sultan Hamengkubuwono sarta Adipati Pakualam kang Jumeneng katetepake jejering Gubernur lan Wakil Gubernur.

Ngayogyakarta, Suryo kaping 10 Mei 2012

Sri Sultan Hamengku Buwono X

Yang diterjemahkan seperti ini dalam Bahasa Indonesia:

Sabda Utama:

Saya selaku yang Berwenang dan Berkuasa di negeri Mataram bersabda:

Bahwa Keraton Jogjakarta dan Kadipaten Paku Alaman adalah dua duanya bersatu.

Mataram itu negeri yang Merdeka dan mempunyai aturan serta tata cara adat istiadatnya sendiri.

Seperti yang telah di ijinkan dan di anugerahkan bahwa Mataram adalah sebagai Pengasuh/Pelindung Nuswantara (Nusantara dengan Jawa sebagai Sentral) dan melindungi berdirinya Negara (NKRI/atau negara Nuswantara), tetapi tetap menjadikan dan memegang aturan dan tata krama serta tata aturan tersendiri.

Oleh sebab itu seperti telah diijinkan dan dianugerahkan bahwa Sultan Hamengku Buwono beserta Adipati Paku Alam yang Berkuasa, Tetap harus berfungsi dan bertahta juga sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur.

Yogyakarta, tanggal 10 Mei 2012

Sri Sultan Hamengku Buwono X

Sangat menyentuh sanubari, dan menggentarkan jiwa seperti yang diucapkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam Sabda Tamanya. Ada apakah gerangan hingga beliau sampai mengucapkan peringatan itu kepada segenap Bangsa Nusantara ? Jogjakarta atau Mataram adalah pertahanan terakhir bagi harga diri Bangsa Nusantara. Bermula dari Majapahit yang digdaya dan dapat menaklukan serta menyatukan Nusantara dengan keadilan dan kesejahteraan, menguasai hingga Kerajaan Campa di Muangthai (Thailand). Sekarang, di zaman reformasi atau zaman edan ini sudah saatnya Sultan Hemengkubuwono X menegaskan "eksistensi" Mataram atau Yogyakarta sebagai negeri yang berdaulat dan mempunyai keistimewaan sebagai: Penjaga dan pelindung Nuswantara, dan kekuasaan Sultan Mataram dan Adipati Paku Alam sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah istimewa Yogyakarta yang tidak dapat diganggu gugat. Pengikut aliran Demokrasi dan Komunisme terutama dari golongan pekerja yang terbiasa menjadi konsumen dan pembuat  produk orientalis kapitalis liberal, di era Reformasi atau zaman edan ini beramai ramai merebut tahta negeri, dari mulai tingkat kelurahan, kecamatan, kabupaten, kotamadya, provinsi hingga negara. Demikian pula bercokol di lembaga potensial BUMN, kantor kantor pemerintah dan perusahaan multi nasional, menelikung, menyudutkan, menyeruak, memfitnah semuanya dilakukan oleh golongan siluman di negeri Nusantara ini untuk meraih kekuasaan. Bisa dilihat dari kasus kerakusan Gayus Tambunan, yang mengemplang pajak hingga miliaran rupiah untuk kepentingan pribadi. Hingga banyak pejabat jadi jadian yang mendapatkan jabatan secara tidak halal akhirnya menjadi residivis, narapidana untuk kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. banyak kasus penganiayaan rakyat kecil di daerah yang memprihatinkan, seperti pencurian sebatang kayu jati daerah sampaih mendapat hukuman 10 tahun penjara. Banyak buruh migran di daerah daearah yang menjadi budak dan disiksa di negeri luar, bahkan di negeri Jiran yang sangat kecil itu. Bupati atau Walikota yang seharusnya melindungi warga daerahnya malah bersifat acuh, mendongak, dan bodoh. Tetapi Tuhan Maha Adil mereka, para pemegang kekuasaan di daerah dari kalangan yang mengaku mewakili rakyat?, sekarang menjadi bulan bulanan dikejar oleh KPK dan dimasukan dalam bui, walaupun banyak rekayasa, dan hanya dihukum 2-4 tahun saja serta harta rampokan mereka tidak disita. Tapi ini adalah perjuangan membebaskan Nusantara dari kuasa kegelapan. Yogyakarta, dengan Gunung merapi dan Laut Kidul yang dititahkan Tuhan YME untuk melindungi dicatat sejarah sebagai penjaga Nusantara yang sebenarnya. Nuswantara begitu kata Sultan Mataram, menyebutkan Nusantara sebagai Nuswantara dimana posisi Jawa adalah Mulia, sebagai sentral bagi kemajuan Nusantara dan sebagai penolong bagi malapateka yang menimpa Nusantara. Sri Sultan dalam sabda tamanya menggunakan kata Nuswantara, menggantikan Nusantara, perlu diketahui bahwa Nusantara berarti kepulauan yang dikelilingi laut, dan memiliki keistimewaan dilintasi garis khatulistiwa, yang membuat faktor cuaca dan unsur pembentuk serta jam atau waktunya lain dengan archipelago serta benua. Ini dari kaidah geografis, bahwa Nusantara adalah istimewa, memiliki unsur air dan tanah yang seimbang sehingga keseimbangan telah ditemukan dalam persatuan pulau pulau di Nusantara, sementara benua memiliki unsur materialis tanah yang dominan sehingga penghuninya masih mencari keseimbangan (bukan menjaganya). Nuswantara, sperti dikatakan Sri Sultan lebih berkonotasi politis. Karena memang dari sejarahnya Nusantara berhasil ditemukan oleh pemikiran begawan begawan dari jaman Majapahit (Mataram Kuno) dahulu.   Serat Pararaton mengungkapkan sumpah Patih Gajah Mada di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk yang tertulis:

"Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tamasek, samana ingsun amukti palapa" atau dapat diartikan dalam Bahasa Indonesia bahwa: "Beliau, Gajah Mada sebagai patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa, Gajah Mada berkata bahwa bila telah mengalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa"13368045491750750698

Dan terbukti di masa pemerintahan Hayam Wuruk setelah menggantikan Ratu Tribuwanatunggadewi, Mahapatih Gajah Mada telah menaklukan Swarnabhumi (Sumatera) tahun 1339 M, Pulau Bintan, Tamasek (Singapura), Semenanjung Malaya (Malaysia Barat),kemudian pada tahun 1343 menaklukan daerah Bedahulu di Bali (sementara Bali sendiri telah menjadi bagian dari Majapahit), Lombok dan beberapa tempat di Kalimantan seperti: Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kendawangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Sulu, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

Mahapatih gajah Mada terus mengalami kejayaan melakukan penaklukan wilayah timur Nusantara di Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram,Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwu, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.(sumber: Wikipedia) Tetapi ada dua Kerajaan di Nusantara yang belum takluk sepenuhnya pada kekuasaan Majapahit sebagai negara induk atau negara sentral di Pulau Jawa yang menguasai Nusantara yaitu Kerajaan Sunda (Pajajaran) dan Kerajaan Madura. Yang mana diceritakan ada satu kekhilafan yang dilakukan Mahapatih Gajah Mada yang mengedapankan cara-cara kekerasan dan pembantaian pasukan Pajajaran di lapangan Bubat, ketika upaya Hayam Wuruk untuk meminang Putri Dyah Pitaloka sebagai permaisuri yang dapat menyatukan Majapahit dan Sunda (Pajajaran)melalu jalur diplomasi damai dengan pernikahan, ternyata Mahapatih Gajahmada kurang sabar dan menyelesaikan upacara pernikahan ini dengan membunuh semua pasukan Kerajaan Pajajaran, dan diikuti oleh bunuh diri yang dilakukan Putri Dyah Pitaloka dengan menikam perutnya sendiri. Sangat tragis, dan hingga kini masih menimbulkan syak wasangka hubungan antara Jawa dan Sunda. Dalam kitab Negarakertagama diceritakan bahwa pada akhirnya Raja Hayam Wuruk memberikan anugerah kepada Mahapatih Gajah Mada sebagai Mahamantri Agung yang pemberani dan bijaksana, serta setia dan berbakti pada negara dan menghadiahkan tanah luas dengan pemandangan yang indah di wilayah Tongas, Probolinggo yang dikenal dengan nama "Madakaripura" kepada Mahapatih Gajah Mada.  Gajah Mada meninggal dunia pada tahun 1364 M. Nuswantara yang disebut oleh Sri Sultan Hamengkubuwono pada Sabda Tamanya tanggal 10 Mei 2012 yang lalu mengingatkan kepada Bangsa Nusantara bahwa, Mataram atau Jogjakarta masih sebagai pewaris Majapahit atau pelindung Nusantara yang syah. Bahwa Nuswantara adalah kesatuan wilayah yang dipimpin oleh suatu pemerintahan induk dengan ratusan penginduk yang mempunyai keyakinan sama mensejahterakan seluruh penghuni di dalamnya, dengan Keadilan dan kemakmuran serta penghormatan kepada Hak Azazi Manusia. Hingga apabila ada ancaman atau ada kekarasan yang dilakukan negeri negeri asing kepada Nusantara, pemerintahan induk akan bertanggung jawab membela bangsa dan seluruh negerinya. Sri Sultan dalam sabdatamanya menegaskan bahwa, Mataram adalah negeri yang Merdeka dalam Nusantara, dengan keistimewaan yang diberikan kepada penguasanya dan wakilnya, untuk juga berfungsi sebagai Gubernur dan wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekarang pemerintah induk dari Nusantara telah diambil alih oleh Indonesia, sebagai konsesi bersama sejak tahun 1945, dimana semua yang menderita dan sakit oleh penjajah Belanda, VOC dan Jepang membulatkan tekad untuk membentuk Nusantara dengan nama internasional dan menunjuk Indonesia sebagai pemerintahan induk, dan Mataram sebagai negeri merdeka di dalamnya yang diberi kekuasaan. Walaupun "konsesi bersama" itu mulai luntur akibat sekarang tidak seperti tahun 1945 dulu, dimana sama-sama menderita, sama sama berjuang, sama sama membulatkan tekad. Kini pemerintah induk Indonesia dipenuhi parasit koruptor, penjajahan terselubung oleh kapitalisme pengerukan sumber daya alam oleh perusahaan asing melebihi VOC, tidak peduli nasib rakyat Nusantara yang menderita, kaum borjuis, anggota DPR, pengusaha dan lain lain melakukan pengkerdilan politik dengan politik uang, pembodohan politik, penjualan aset negara Nusantara, tidak berani dengan negeri Jiran yang dulunya adalah bagian Nuswantara. Infiltrasi penjajah gaya baru telah berhasil merusak sendi sendi kebangsaan Nusantara yang agung dan mulia. menjadi "Sebuah bangsa BUDAK". Inilah yang menjadi keprihatinan Sri Sultan Hamengkubuwono X dan akhirnya diucapkanlah "Sabda Tama" yang merupakan peringatan pertama dan mengikat seluruh Bangsa Nusantara untuk menyadarkan kembali bahwa Mataram sebagai pewaris Majapahit, walaupun telah menyerahkan wewenang pemerintahan induk kepada Indonesia, tetap mempunyai kekuasaan dan kekuatan untuk melindungi Nuswantara. Khusunya melindungi harga diri dan martabat Nuswantara yang telah dirusak oleh para koruptor, politikus dan penguasa tanpa budaya dan siluman siluman yang menghancurkan bangsa Nuswantara dari dalam.(Andri S)

Shiva Bayu

/andrise

a reader who try making good writing...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?