Sepeda Butut Kami

11 Juni 2012 08:58:58 Dibaca :

Bandung, pertengahan tahun 1992.

"Bagus ya, A?", ujar Sani setengah berbisik.

Aku tak menjawab, hanya menoleh. Aku lihat adikku satu-satunya itu tampak terkagum-kagum. Sesekali ia memegang sadel sepeda warna abu-abu metalik itu.

"Iya, bagus", jawabku kemudian.

Sepeda itu memang bagus, kawan. Stang-nya pendek dan lurus, pedalnya mengkilat, sadelnya dari bahan kulit empuk, jari-jari rodanya berwarna perak. Batangnya tampak kokoh, ada stiker yang bertuliskan FEDERAL. Sungguh, gagah sekali.

"Sini! Saya mau pake!", teriak seseorang dari belakang kami.

Tampak teman main kami, Galih, tergesa-gesa menghampiri kami berdua. Ia segera naik sepeda yang gagah itu. Lalu melesat meninggalkan kami yang masih terkagum-kagum. Itu memang sepeda Galih, sepeda barunya.

***



Aku dan Sani duduk di trotoar komplek rumah. Terdiam dan termangu melihat teman-teman kami yang berseliweran dengan sepeda-sepedanya. Mereka tertawa sambil berteriak-teriak senang, saling susul menyusul. Kami berdua pun ikut tertawa dan tersenyum melihat aksi teman-teman kami itu.

"Nih, San! Mau pinjem nggak?", ujar Galih sambil menghentikan sepedanya.

Adikku spontan mengangguk senang. Wajahnya seketika cerah. Dengan secepat kilat ia naik sepeda yang gagah itu dan melesat menyusul teman-teman kami yang lain.

"Sepedanya bagus, Lih", ujarku pada Galih.

Ia tersenyum, lalu duduk di sebelahku.

"Berapa harganya? Pasti mahal ya?", tanyaku lagi penasaran.

"Nggak tau, Ndri. Ayah yang beli. Katanya sih, hampir Rp350.000,00", jawab Galih mengira-ngira.

"Owh", ujarku pendek.

Mendengar itu, hilanglah angan-angan kami untuk mempunyai sepeda. Uang sebesar itu hanya cukup untuk makan kami sekeluarga selama sebulan. Aku menelan ludah.

***



"Itu sepeda siapa, Mah?", tanya Sani kepada ibuku.

Ibu tak menjawab, hanya tersenyum. Aku dan Sani baru saja bangun tidur ketika adzan Subuh berkumandang. Rasa kantuk sekejap hilang ketika melihat ada sepeda diparkir di ruang tamu.

"Ya sepeda kalian lah", jawab ibuku sambil meneruskan pekerjaannya, menyapu lantai di teras rumah.

Kami berdua terkejut. Seakan tak percaya akhirnya kami bisa mempunyai sepeda. Aku dan Sani langsung menghambur mendekati sepeda itu.

Bentuknya besar, stang-nya yang panjang dan melengkung berwarna hitam legam, sadelnya berwarna biru, rangka-nya berwarna hijau, dan spakbor-nya berwarna merah. Tidak ada stiker yang menempel di rangka sepeda. Sangat jauh berbeda dengan sepeda teman-teman kami itu.

Kami tak peduli dengan bentuk sepeda itu. Yang penting, kami bisa bermain sepeda dengan teman-teman kami.

***



Beberapa hari setelah itu, aku menemukan secarik kertas di bawah lemari. Ternyata itu adalah kuitansi pembelian sepeda. Barulah aku tahu jika itu adalah sepeda bekas, harganya hanya Rp50.000,00. Dan yang membuat aku terkejut, sepeda itu dibeli ibu setelah beliau menggadaikan gelangnya di toko emas.

***



(Kisah nyata, sekitar 20 tahun yang lalu)

Andri Saleh

/andris072

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Aku bukanlah siapa-siapa, hanyalah seorang lelaki 32 tahun, suami dari seorang istri, bapak dari dua anak. Aku pun bukan seorang penyair, hanyalah seorang pemimpi yang menuliskan mimpi-mimpinya dalam bentuk coretan di atas kertas :-)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?