Senyum Manis Itu

05 Juli 2012 05:17:28 Dibaca :

Kampus Unpad, Jatinangor, akhir tahun 2000. "Boleh minta tanda tangan, Kang?". Aku menoleh. Ada seorang gadis tersenyum padaku. Wajahnya cerah, rambutnya panjang, lurus hitam legam. Ia mengenakan kaos tangan panjang merah bergaris hitam, dipadukan dengan celana corduroy hitam. Serasi sekali. Tangannya memegang sebuah buku kecil yang disorongkan padaku. Ah, rupanya dia mahasiswa baru. Biasa, tugas ospek dari panitia untuk minta tanda tangan para senior. "Owh, boleh boleh", ujarku sambil tersenyum. "Siapa namanya?", tanyaku sambil membubuhkan tanda tangan di buku kecil itu. "Nuniek, Kang", jawab gadis itu malu-malu. "Rumahnya di?", tanyaku lagi, basa-basi. "Di Cikaso, Kang", jawab gadis itu lagi. Aku terdiam sejenak sambil mengernyitkan dahi. "Lho, berarti kita tetanggaan ya?", ujarku sambil tersenyum. Gadis itu pun membalas senyumku. Senyumnya manis sekali.

***

Halte Bis DAMRI, Jalan Dipatiukur, Bandung. Akhir tahun 2001. "Hei!", ujar seseorang di belakangku. Aku terkejut, lalu menoleh ke belakang. Ada seorang gadis di hadapanku sedang tersenyum, wajah yang familiar. Ah, senyum yang manis itu. "Eh... Ehm... Nuniek?", tanyaku agak ragu. "Iya, Kang", jawabnya sambil terkekeh karena berhasil mengagetkanku. Aku tersenyum dan masih bercampur kaget. Kaget karena sekarang gadis itu mengenakan jilbab. Hampir saja aku tak mengenalinya. "Jadi, bareng aja kita ke kampus nih?", ajak gadis itu. "Ayo", jawabku singkat. Kami berdua langsung naik bis DAMRI untuk berangkat ke kampus. Entah mengapa, hari itu hatiku senang sekali.

***

Masjid Pusdai Jabar, Bandung. Maret 2004. "Jadi, mau kan nikah sama saya?", tanyaku hati-hati. Gadis itu terdiam, lalu membetulkan letak jilbabnya. Ia mengangguk pelan. "Mau, tapi... ", gadis itu mulai terisak. "Lho, kenapa?", tanyaku heran dan sedikit berdebar. "Nggak bisa dalam waktu dekat, Kang. Masih ada kakak-kakak saya yang belum nikah", jelas gadis itu sambil berurai air mata. Aku menghela nafas panjang. Berpikir sejenak, lalu tersenyum. "It's okay. I will be waiting!", ujarku tegas. Gadis itu menatap mataku dalam-dalam. Sesaat tangannya menghapus air mata yang meleleh di pipinya. Lalu tersenyum. Lagi, senyumnya manis sekali.

***

Sebuah tempat makan di kawasan Buah Batu, Bandung. Tahun 2008. "Jadi gimana, Kang?", tanya gadis itu resah. Aku menghela nafas, berusaha berfikir keras. Sebentar lagi aku dan gadis itu menikah. Sebagian keperluan pernikahan seperti kartu undangan, souvenir, mas kawin, sampai sewa gedung resepsi sudah dibayar. Hanya tinggal katering yang belum, dan itu yang paling besar biayanya. Pihak katering sudah minta pelunasan pembayaran, sedangkan aku dan gadis itu sama sekali tidak punya uang untuk itu. Honor naskah-naskah yang kami tulis belum dicairkan penerbit buku. "Sabar aja ya. Insya Allah nanti diusahakan", jawabku tak pasti. Gadis itu terdiam. Tampak gurat-gurat gelisah di wajahnya, tak ada sedikit pun senyum manisnya itu.

***

Gedung Graha Wanita, Bandung. Juli 2009. "Saya terima nikahnya, Nuniek Avianti Agus binti Agus Rukmanto, dengan mas kawin perhiasan emas 16 gram, dibayar tunai!", ujarku lantang. "Sah?", tanya penghulu kepada dua orang saksi di sampingku. Kedua saksi mengangguk dengan yakin. "Alhamdulillaaaaahhh", ujar semua orang serentak. Aku tersenyum, lega rasanya hati ini. Sejenak aku mengamati gadis itu. Akhirnya, gadis yang senyumnya manis itu kini menjadi istriku.

***

Itu hanyalah penggalan kisah-kisah lama, kawan. Kisah masa lalu yang akan selalu kami kenang. Hari ini - 5 Juli 2012, tepat 3 tahun usia pernikahan kami - sudah banyak yang berubah. Di tengah-tengah kami kini ada 2 malaikat kecil yang lucu-lucu. Sepasang, lelaki dan perempuan. Usiaku pun sudah tak muda lagi, rambut sudah ditumbuhi uban, kulit sudah mengkerut. Gadis yang kini jadi istri dan ibu dari anak-anakku pun tampak berubah, kecuali satu. Senyum manis itu, masih sama seperti ketika pertama kali aku berjumpa dengannya, sekitar 12 tahun yang lalu.

***

Andri Saleh

/andris072

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Aku bukanlah siapa-siapa, hanyalah seorang lelaki 32 tahun, suami dari seorang istri, bapak dari dua anak. Aku pun bukan seorang penyair, hanyalah seorang pemimpi yang menuliskan mimpi-mimpinya dalam bentuk coretan di atas kertas :-)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?