PILIHAN

Outdated Wenger, Saatnya Mengakhiri Sebuah Era

08 Maret 2017 14:11:54 Diperbarui: 09 Maret 2017 14:31:02 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Outdated Wenger, Saatnya Mengakhiri Sebuah Era
Arsene Wenger (liputan6.com)

Entah berapa lama lagi fans Arsenal harus bersabar agar tim yang dibelanya bisa dianggap sebagai tim yang diperhitungkan di liga Inggris dan kompetisi Eropa dan lepas dari olok-olok. Setiap musim baru di mulai, fans Arsenal selalu diliputi harapan bahwa timnya mampu bersaing, baik di liga domestik maupun kancah Eropa. Datangnya Mesut Ozil, Alexis Sanchez, Petr Cech, Granit Xhaka, dan Skhrodan Mustafi dianggap mampu menambah kedalaman skuad Arsenal untuk meraih gelar prestisius. Tapi apa lacur, hal tersebut tak kunjung datang. Gelar yang mampu dipersembahkan Arsene Wenger setelah gelar liga Inggris terakhir mereka di 2003-2004 hanyalah gelar piala FA di tahun 2005, 2014 dan 2015.

Coach Justin pernah berkata saat Leicester melepas Claudio Ranieri bahwa Leicester butuh suasana baru, butuh taktik baru karena Ranieri yang bahkan terkenal sebagai “tinkerman” tidak melakukan perubahan apa-apa pada tim yang mulai terpuruk dan nangkring di jurang zona degradasi. Apa akibatnya bagi Leicester? Dua kemenangan beruntun mereka peroleh sejak Ranieri dipecat, bahkan salah satunya mengalahkan Liverpool 3-1 di King Power Stadium, kandang mereka. 

Wenger sering dituding ketinggalan zaman. Metode kepelatihan yang tidak berkembang, ketidakmampuannya menarik minat pemain-pemain bintang untuk hadir di Emirates Stadium dengan berseragam Arsenal membuat Arsenal makin kian terpuruk. Terakhir Wenger ditolak Jamie Vardy dan N’golo Kante, saat Vardy memilih memperpanjang kontraknya di Leicester dan Kante bahkan lebih memilih Chelsea yang tidak bermain di UCL sebagai pelabuhannya. Arsenal butuh perubahan, dan untuk itu Arsene Wenger harus keluar.

Wenger bukan pelatih buruk. Kecakapannya dalam melihat talenta-talenta baru memberikan warna pada persepakbolaan dunia. Kepercayaannya pada statistik dan scouting yang mendalam sebelum membeli pemain membawanya mendapatkan pemain-pemain baru yang sebelumnya tidak terdeteksi, seperti Nikolas Anelka, Thierry Henry, Emmanuel Adebayor, Robin van Persie, Cesc Fabregas, dan saat ini Hector Bellerin. 

Kelemahan Wenger terletak pada gaya kepelatihannya yang kaku belakangan ini. Pertama kali datang ke Arsenal di musim 1996-1997, Wenger memakai formasi 3-5-2 menempatkan Arsenal di peringkat 3 akhir musim tersebut. Tahun berikutnya dia melakukan perombakan besar-besaran, mendatangkan Marc Overmars dan Emmanuel Petit, ditambah dengan Patrick Vieira yang sudah beradaptasi dari musim sebelumnya, Wenger mengubah formasi menjadi 4-4-2 yang sukses mengantar Arsenal menjuarai liga Inggris tidak hanya musim 1997-1998, tetapi juga 2001-2002 dan “the invincibles” 2003-2004.

The Invincibles Arsenal (skysports.com)
The Invincibles Arsenal (skysports.com)

Setelah kepergian Thierry Henry dan Patrick Vieira, pensiunnya Dennis Bergkamp, dan boomingnya formasi 4-2-3-1, sampai sekarang Arsene Wenger selalu bertempur dengan formasi tersebut. Tidak ada perubahan skema, hanya pemain yang datang dan pergi. Bahkan Wenger tidak melihat kesuksesannya dengan formasi 4-4-2 dan bertahan bahwa 4-2-3-1 adalah formasi paling cocok di Arsenal apapun kondisinya, karena statistik menunjukkan bahwa formasi ini dan turunannya adalah skema paling seimbang dalam sepakbola modern. Jangan lupa, Leicester juara tahun lalu dengan 4-4-2 ala Ranieri dan tahun ini Chelsea memuncaki klasemen dengan mengandalkan 3-4-3 ala Conte. Penyegaran dibutuhkan pada skema permainan Arsenal. 

Taktik ball possession ala Wenger juga tidak berjalan baik di liga Inggris saat ini. Kebiasaannya untuk membangun serangan dari bawah sering kali menjadi batu sandungan, terutama ketika berhadapan dengan tim-tim yang bertahan total, menempatkan banyak pemain behind the ball dan mengandalkan serangan balik. Ketika bek-beknya ikut membangun serangan, Arsenal sering dikejutkan dengan serangan balik cepat.

Arsene Wenger juga bukan seorang motivator handal. Dia bukan Conte atau Ferguson. Pemain-pemain Arsenal sering terlihat frustasi di lapangan, kurang kreativitas, dan mudah menyerah. Wenger tidak mampu membangkitkan semangat anak asuhnya, sehingga sering terlihat kurang determinasi. Kelemahannya yang lain adalah tidak mampunya mempertahankan kedalaman skuad. 

Skuad yang kelelahan dengan jadwal pertandingan padat dan skema permainan cepat Arsenal menjadi rentan cedera dan Wenger tidak memiliki pemain lapis kedua yang sepadan. Sering memakai pemain-pemain muda kurang pengalaman untuk mengisi skuad utama, Arsenal mudah kalah. Alasan lain Arsenal terpuruk adalah inkonsistensi. Wenger sering sulit menjaga fokus dan konsistensi anak asuhnya, sehingga sering kalah bahkan dari tim-tim gurem, semacam Hull musim ini.

Sudah saatnya “professor” berumur 67 tahun ini untuk mengakhiri era di Arsenal. 20 tahun berkarir menancapkan kuku di kubu meriam London, waktunya Wenger lengser keprabon. Kekalahan Arsenal dengan aggregat 10-2 dari Bayern Muenchen di 16 besar UCL semakin memperlihatkan bahwa Arsenal butuh pembaharuan. Arsenal butuh penyegaran, pelatih dengan wawasan luas akan skema permainan, pelatih yang bisa memotivasi baik di pinggir lapangan maupun ruang ganti, pelatih yang mampu menggoda pemain-pemain berkualitas untuk ganti seragam menjadi merah-putih ala Arsenal, sehingga Arsenal sekali lagi bisa bersinar di panggung liga Inggris bahkan Eropa. 

Banyak pelatih yang digadang-gadang mampu menjadi pelatih Arsenal yang baru, di antaranya Max Allegri (Juventus), Eddie Howe (Bournemouth), Diego Simeone (Atletico), Ronald Koeman (Everton), atau bahkan Roberto Mancini (menganggur). Tidak baik memecat Wenger saat musim memasuki masa-masa krusial seperti saat ini. Tetapi bila akhir musim nanti Arsenal bahkan tidak mampu menempati zona UCL, sudah seharusnya Arsene Wenger tutup buku di Arsenal.

Max Allegri, calon pengganti Wenger (liputan6.com)
Max Allegri, calon pengganti Wenger (liputan6.com)

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana