"Korupsi Ditangkap KPK", Kolusi dan Nepotisme Siapa Tangkap?

21 Agustus 2013 21:49:14 Dibaca :
"Korupsi Ditangkap KPK", Kolusi dan Nepotisme Siapa Tangkap?
-

"Korupsi Ditangkap KPK", Kolusi dan Nepotisme Siapa Tangkap? Minggu ini kita banyak disajikan berita yang membuat kita bukan hanya ternganga tetapi juga terpana seolah tak percaya, atau malah ini dia senyatanya, berita mengenai Kepala SKK Migas ditangkap tangan oleh Penyidik KPK karena diduga menerima suap ( korupsi ). Dulu BP Migas dibubarkan oleh Mahkamah Konstistusi ( MK ) karena bertentangan dengan UUD 45 selain di dasari kuat disana ada mainan korupsi yang sulit dibuktikan ( kurang lebih itu katanya Pak Mahfud MD yang mantan Ketua MK yang saya dengar penjelasannya di berita TV berkaitan dengan tertangkap tangannya Kepaka SKK Migas itu ). Ya korupsi memang susah dibuktikan, tetapi menjadi lain tidak dapat disangkal lagi jika itu tertangkap tangan oleh penyidik KPK, Nah sama hal sulitnya dengan membuktikan adanya korupsi, untuk sejawatnya yaitu " Kolusi dan Nepotisme ", banyak dibicarakan orang dimana mana, bukan hanya di warung kopi, jika ada pejabat mulai dari tingkatan atas sampai tingkakan pejabat rendahan, melakukan praktek kolusi dan nepotisme, Apa arti Korupsi, Kolusi dan Nepotismae ( KKN ) boleh baca Yahoo Answers, di link ini, akan di uraikan dengan jelas, apa yang dimaksud dengan KKN itu, http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081113012950AA5XyNd, dikutipkan intinya sebagi berikut:

"Korupsi" menurut Transparency International adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

"Kolusi" merupakan sikap dan perbuatan tidak jujur dengan membuat kesepakatan secara tersembunyi dalam melakukan kesepakatan perjanjian yang diwarnai dengan pemberian uang atau fasilitas tertentu sebagai pelicin agar segala urusannya menjadi lancar

"Nepotisme" berarti lebih memilih saudara atau teman akrab berdasarkan hubungannya bukan berdasarkan kemampuannya. Persoalannya, jika ada dugaan kuat ada yang melakukan "kolusi dan nepotisame", siapa yang akan tangkap ? Kenapa dulu ramai orang bicara KKN, kok sekarang cuma Korupsi, sepertinya sudah lupa dengan kolusi dan nepotisme. Trus bagaimana ne? Selamat malam, salam dari Jakarta

Sahar Putra

/andika

TERVERIFIKASI (HIJAU)

hanya orang biasa, bukan siapa siapa juga

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?