Suku Akit (yang Terlupakan)

23 Februari 2014 19:30:29 Diperbarui: 24 Juni 2015 01:33:02 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Di daerah saya, tepatnya Kabupaten Karimun Prov. Kepulauan Riau, ada salah satu suku bangsa terasing yang bernama Suku Akit. Suku ini tergolong dalam rumpun suku terasing yang banyak mendiami daerah pesisir Kepulauan Riau. Salah satunya yang terkenal mungkin Suku Laut. Suku Akit dibandingkan dengan suku terasing lain tergolong modern. Banyak diantara anak keturunan Suku Akit yang justru menempuh ilmu di luar daerahnya bahkan ada yang sampai ke luar negeri.


Suku Akit yang mendiami daerah bernama Teluk Senimbul mayoritas beragama Kristen. Sebenarnya masalah inilah yang ingin saya angkat dalam tulisan ini. Bukan bermaksud memicu SARA. Bukan pula hendak mengusik toleransi dalam beragama. Hanya saja masalah ini sedikit mengusik keprihatinan saya atas dakwah islam yang selama ini berlangsung.


Seperti yang kita ketahui bersama, daerah Kabupaten Karimun mayoritas beragama islam. Bahkan sampai ke pulau-pulau terpencil pun mayoritas penduduknya beragama islam. Namun  ironisnya  untuk daerah yang bernama Teluk Senimbul yang dekat dengan kekuasaan malah mayoritas penduduknya beragama Kristen.


Ini yang menimbulkan pertanyaan dalam hati saya. Koq bisa?


Kalau kita belajar dari sejarah. Mengapa mayoritas masyarakat Tapanuli Selatan beragama Islam? Jawabannya karena daerah tersebut berbatasan dengan Sumatera Barat yang masyarakatnya mayoritas beragama Islam. Pengaruh tetangga sebelah ternyata begitu kuatnya sehingga mempengaruhi pola pikir masyarakat Tapsel waktu itu untuk memeluk agama Islam.


Tapi yang saya herankan, mengapa hal diatas justru tidak terjadi di daerah Teluk Senimbul yang penduduknya rata-rata berasal dari Suku Akit. Padahal daerah – daerah disekitarnya seperti Pasir Panjang dan Teluk Paku penduduknya mayoritas beragama Islam.


Saya pikir, peran misionaris sangat penting dalam hal ini. Sama seperti yang terjadi pada Suku Laut. Suku terasing yang tak beragama kemudian memilih untuk menjadi Kristen di tengah – tengah mayoritas beragama Islam.


Dimana peran dakwah Islam?


Saya terus terang tidak setuju dengan pendapat teman saya yang mengatakan dakwah Islam kalah dengan Mie Instan. Mungkin dia bandingkan itu dengan kantong – kantong kemiskinan yang ada di Tanah Jawa. Ini beda. Sebagai nelayan, Suku Akit sudah lama berhubungan dengan para pedagang dari Malaysia dan Singapura. Terutama para Tauke penampung hasil laut untuk dijual kembali dinegaranya. Itu artinya mereka sudah terbiasa dengan transaksi Internasional. Mereka sudah terbiasa dengan pasar ekspor. Bisa dikatakan meskipun nelayan tapi mereka itu eksportir. Mereka itu nelayan sekaligus pengusaha. Mungkinkah pengusaha tergiur dengan sekardus Mie Instan?


Saya teringat dengan Nomensen. Seorang misionaris asal Jerman yang mampu mengubah pola pikir orang Batak sekaligus arah idiologi mereka dikemudian hari. Bagaimana dia dengan tulus mengetuk tak hanya pintu rumah orang Batak waktu itu namun beliau juga mampu mengetuk pintu hati mereka. Kalau ada yang mengatakan bahwa keberhasilan misi Nomensen karena faktor bantuan makanan, saya sepenuhnya tidak setuju. Waktu itu Sisingamangaraja memeluk agama nenek moyang. Sebagaimana yang berlaku di kerajaan manapun di dunia ini bahwa agama raja adalah agama kerajaan. Artinya mau tidak mau, suka tidak suka, rakyat harus mengikut apapun yang dititahkan oleh sang raja ternasuk yang berkaitan dengan kepercayaan.  Apa jadinya rakyat yang berani menentang titah sang raja? Bisa jadi hukum pancung di depan mata. Begitu juga hal yang sama akan berlaku dengan Nomensen. Mungkinkah ada rakyat yang rela menukar nyawanya dengan sepotong roti?


Semuanya bersumber dari yang namanya Fanatisme. Fanatisme beragama yang di dunia barat dikatakan sebagai Fundamentalis. Suatu agama tak akan berkembang tanpa adanya fanatisme didalamnya. Sehebat apapun siksaan seorang Nero kalau fanatisme itu sudah melekat dalam hati dan sanubari pemeluk Kristen pada masa itu tak akan mampu menghapusnya sampai kapanpun. Itu sudah dibuktikan sampai saat ini. Itu pula yang terjadi pada masyarakat Batak saat mengikuti agamanya Nomensen bukan kepercayaannya sang raja Sisingamangaraja.


Bagaimana Nomensen menanamkan fanatisme di dada orang Batak pada masa itu mungkin itu pula lah yang ditanamkan para misionaris Kristen pada masyarakat Suku Akit dan suku terasing lainya di pesisir Kepulauan Riau. Sesuai dengan misi Jalan Terang mereka untuk menembus Kegelapan. Menjadi lilin yang rela hancur untuk dapat menjadi terang bagi Kegelapan disekitarnya.


Beda dengan jalan yang ditempuh para misionaris Islam yang lebih suka show off di TV. Ogah ceramah kalau gak dibayar mahal. Alergi dengan yang namanya pedalaman. Menganggap orang Indonesia udah pada dapat hidayah semua jadi gak perlulah menambah umat sehingga banyak suku-suku terasing yang terabaikan dan akhirnya digarap orang. Seperti yang terjadi pada Suku Akit. Tapi yang terjadi pada Suku Akit lebih miris dan ironis sekali.


Saya gak kebayang kalau suatu saat banyak orang Minang, Aceh, Melayu dan Sunda pada rame-rame pindah agama.


Semoga hal ini dapat menggugah para ulama di seluruh Indonesia untuk menyadari bahwa ternyata masih ada yang terlupakan dalam jalan dakwah mereka.


Semoga apa yang terjadi pada Suku Akit tidak terjadi lagi pada suku – suku terasing lainya.

Andi Firmansyah

/andifirmansyah

Seorang pendidik yang bertugas di Tanjung Balai Karimun Prov. Kepri Aktif menulis di beberapa forum yang berkaitan dengan pendidikan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana