HIGHLIGHT

Peluncuran Foto La Maddukkelleng, Pahlawan Nasional dari Wajo

02 April 2012 11:12:56 Dibaca :
Peluncuran Foto La Maddukkelleng, Pahlawan Nasional dari Wajo

Tiga belas tahun setelah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 109/TK/1998 tanggal 6 Nopember 1998, akhirnya foto diri La Maddukkelleng diluncurkan oleh Pemerintah Kabupaten Wajo. Prosesi peluncuran yang dilaksanakan dalam momen peringatan Hari jadi Wajo ke 613 itu berlangsung khidmat, diiringi pembacaan puisi oleh Budayawan Sulawesi Selatan H. Udhin Palisuri.

La Maddukkelleng diperkirakan lahir di Peneki pada tahun 1700, beliau merupakan putera dari La Mataesso Arung Peneki dan We Tenriangka Arung Siengkang. La Mataesso adalah cucu La Sangkuru Patau Mulajaji Sultan Abdurrahman. Arung Matowa Wajo yang pertama memeluk agama Islam. Garis keturunannya dapat dilacak langsung dari La Taddampare Puang ri Maggalatung, Arung Matowa Wajo IV. Sementara itu ibunya adalah saudara kandung La Salewangeng To Tenriruwa.

Masa kanak-kanak beliau dijalani di Peneki di mana kedua orang tuanya tinggal. Sebagai kanak-kanak, La Maddukkelleng memang telah menunjukkan bakat sebagai pemimpin. Hal ini tercermin dari kemampuannya mengendalikan setiap permainan dan mengarahkan teman-temannya.

Pada tahun 1713, Raja Bone La Patau Matanna Tikka mengundang Arung Matowa Wajo La Salewangeng to Tenriruwa untuk menghadiri pesta perayaan sehunbungan dengan pemasangan giwang (Matteddo) untuk puterinya I Wale di CenranaE. La Maddukkelleng turut serta dalam rombongan Arung Matowa dan ditugaskan oleh pamannya sebagai pemegang tempat sirih raja.

Sebagaimana lazimnya, dalam setiap pesta raja-raja Bugis-Makassar, diadakanlah lomba perburuan rusa (maddengngeng) dan pertandingan sambung ayam (mappabbitte).

Pada saat pesta sabung ayam tersebut sedang berlangsung, ayam putera Raja Bone dikalahkan oleh ayam Arung Matowa Wajo. Tapi kemenangan itu tidak diakui oleh orang-orang Bone dan mereka berpendapat bahwa tidak ada yang menang dan kalah dalam pertarungan itu. Perbedaan pendapat itulah yang kemudian menyebabkan terjadinya keributan yang berujung pada perkelahian.

La Maddukkelleng yang pada saat itu baru saja disunat dan lukanya belum sembuh benar, turut serta dalam perkelahian yang mengakibatkan jatuhnya korban di pihak Bone.

Dalam suasana yang Rombongan Arung Matowa Wajo beserta para pengikutnya terpaksa melarikan diri ke Wajo melalui Sungai Walennae. Beberapa saat setelah Arung Matowa Wajo La Salewangeng tiba di Tosora, maka datanglah utusan Raja Bone untuk meminta agar La Maddukkelleng diserahkan ke Raja Bone untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tapi Arung Matowa Wajo mengatakan bahwa La Maddukkelleng tidak berada Wajo.

Walaupun tidak percaya pada penjelasan Arung Matowa mengenai keberadaan La Maddukkelleng, utusan raja Bone itu kembali ke Bone dengan tangan hampa. Mareka tidak bisa memaksakan kehendak untuk membawa La Maddukkelleng karena ada ikrar yang telah disepakati antara kerajaan Bone, Soppeng dan Wajo di Timurung pada tahun 1582, bahwa tiga kerajaan itu harus saling mempercayai.

Sebelem berangkat, La maddukkeleng menikah dengan perempuan yang bernama I penno Matanna di Patila. Yang melahirkan anak bernama La Tombong To Massekutta.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, La Maddukkelleng memutuskan untuk meninggalkan Kerajaan Wajo. Iapun datang meminta restu kepada Arung Matowa Wajo dan Dewan Pemerintahan Wajo (Arung Simettempola). Niat La Maddukkelleng itu disetujui oleh Arung Matowa dan Arung Simettengpola. Bahkan salah seorang Anggota Dewan pemerintah Kerajaan Wajo yaitu La Tenri Wija Daeng Situju, berpesan kepada La Maddukkelleng agar dalam perantauannya, La Maddukkelleng tetap mengingat negeri Wajo.

Tidak banyak bekal yang dibawa La Maddukkelleng. Dalam penjelasannya kepada Arung Matowa dan Arung Simettengpola, ia hanya hanya membawa tiga macam bekal, yaitu: pertama lemahnya lidah, kedua tajamnya ujung keris dan yang ketiga ujung kelaki-lakian.

Berangkatlah La Maddukkelleng bersama pengikutnya menuju Johor Malaysia dengan menggunakan perahu layar. Dalam rombongan La Maddukkelleng tersebut, ikut pula delapan orang bangsawan kelas menengah, yaitu La Pallawa Daeng Marowa, Puanna Dekke, La Siaraje Daeng Manambung, La Manja Daeng Lebbi, La Sawedi Daeng Sagala, dan La Manrappi Daeng Punggawa. La Banna To assa, La Juma, Cambang Balolo, La Dalle Arung Ta

Dalam perjalanan ia bertemu dengan saudaranya yang bernama Daeng Matekko, seorang saudagar kaya yang sudah lama menetap di Johor.

Pada awalnya La Maddukkelleng menetap di Malaka (Malaysia Barat), kemudian pindah dan menetap di Kerajaan Pasir, Kalimantan Timur. Di sini, La Maddukkelleng menikah dengan Puteri Sultan Sepuh Alamsyah Raja Pasir yang bernama Anding Anjang. Dari pernikahannya itu, La Maddukkelleng dikaruniai seorang Putri yang bernama Aji Doya.

Putrinya inilah yang kemudian menikah dengan Sultan Aji Muhammad Idris, Raja Kutai sehingga namanya berubah menjadi Aji Putri Agung. Kemudian melahirkan anak bernama AJi Muhammad Muslihuddin atau Aji Imbut

Selama tinggal di Pasir, La Maddukkelleng juga melahirkan anak-anak yang masing-masing bernama : Petta To Sibengngareng, yang turunannya kawin-mawin dengan raja-raja Pasir dan Kutai, Petta To Rawe, yang turunannya kawin-mawin dengan raja-raja Berau dan Kutai, serta Petta To Siangka yang turunannya kawin-mawin dengan raja-raja Bulungan dan Sulawesi Tengah.

Selama dalam perantauannya, rombongan di bawah pimpinan La Maddukkelleng tersebut tetap memegang adat istiadat, tata krama dan norma Kerajaan Wajo sebagai ciri khas dan karakteristiknya.

Sementara itu, Kerajaan Wajo berhasil diduduki oleh kerajaan Bone. Kekuasaan Arung Matowa dikebiri sehingga tidak dapat menjamin hak-hak kemerdekaan rakyat Wajo. Banyaklah orang Wajo yang pergi meninggalkan kampung kelahirannya, berlayar menuju Pasir dan menetap di Sungai Muara Kendilo.

Tempat pemukiman baru tersebut lambat laun menjadi semakin padat sehingga La Maddukkelleng melakukan perundingan dengan pengikutnya untuk mengatasi masalah tersebut. Akhirnya diputuskan bahwa sebagian pengungsi dari Wajo itu akan mencari tempat pemukiman baru. Dan lokasi yang mereka pilih adalah Kutai.

Ketika rombongan pengungsi itu tiba di Tanah Kutai, La Mohang daeng Mangkona menghadap Raja Kutai, Sultan Aji Pangeran Dipati Anom Ing Martadipura atau Marham Pemarangan untuk memohon agar diizinkan menetap di tanah Kutai. Permintaan itu tidak serta merta diterima, karena sang raja berpikir bahwa ada kemungkinan banyak kesulitan bagi Kutai yang akan ditimbulkan oleh para pendatang itu, sebagaimana pernah terjadi beberapa puluh tahun lalu. Namun demi menghormati La Maddukkelleng, Raja Kutai akhirnya menyetujui pemintaan itu dengan syarat, seluruh pendatang itu patuh pada aturan dan ketentuan raja Kutai.

La Mohang menyetujui syarat itu dan berjanji bahwa apabila ia diberikan sebidang tanah untuk bermukim di Kutai, ia akan membangun daerah itu dan mematuhi perintah raja. Raja Kutaipun memberikan petunjuk kepada La Mohang untuk mencari sebidang tanah di wilayah kerajaan Kutai di daerah berdaratan rendah dan di antara dataran rendah itu, terdapat sungai yang arusnya tidak langsung mengarah dari hulu ke hulir, tetapi mengalir dan berputar di antara dataran itu.

Maka berangkatlah para pengungsi orang bugis itu dengan berlayar di sepanjang Sungai Mahakam mencari tanah seperti yang telah ditentukan raja. Setelah berlayar selama beberapa waktu, akhirnya mereka tiba di sebuah dataran rendah yang sesuai dengan titah raja. Di tempat inilah kemudian mereka membangun rumah rakit, yang terapung di atas air, dan ketinggian antara rumah yang satu dengan rumah lainnya sama. Hal itu melambangkan bahwa tidak ada perbedaan derajat antara orang bangsawan dan bukan bangsawan. Semua orang "sama" derajatnya. Lokasi itu terletak tak jauh dari kampung Mangkupalas

Sementara itu, La Maddukkelleng diangkat menjadi Sultan Pasir. Iapun lalu mengangkat La Banna To Assa sebagai panglimanya. Mereka membangun armada laut yang kuat, yang terus menerus mengacaukan pelayaran di Selat Makassar.

Setelah menjabat sebagai Sultan Pasir selama lebih kurang sepuluh tahun, datanglah utusan dari Arung Matowa Wajo La Salewangeng yang bernama La Dalle Arung Taa menghadap La Maddukkelleng. Utusan itu membawa surat yang isinya memanggil La Maddukkelleng agar kembali ke tanah Wajo yang sedang berada dalam jajahan Kerajaan Bone. Kondisi itu mengetuk semangat La Maddukkelleng dan mengobarkan tekadnya kembali ke Wajo memenuhi panggilan tanah leluhurnya.

La Maddukkelleng mengumpulkan pasukan dan persenjataannya sehingga terbentuklah sebuah armada yang besar. Armada ini menggunakan perahu bintak, jenis perahu yang bisa melaju dengan cepat. Perahu tersebut dilengkapi dengan meriam-meriam baru yang dibeli dari orang-orang Inggris.

Anggota pasukan La Maddukkelleng dibagi atas dua kelompok, yaitu pasukan laut (marinir) yang dipimpin oleh La Banna To Assa (kapitang laut) dan pasukan darat dipimpin oleh Panglima Puanna Pabbola dan Panglima Cambang Balolo. Pasukan istimewa tersebut seluruhnya merupakan orang-orang terlatih dan sangat berpengalaman dalam pertempuran laut dan darat di Semenanjung Malaya dan perairan antara Johor dengan Sulawesi. Pasukan ini terdiri atas suku Bugis, Pasir, Kutai, Makassar serta Bugis-Pagatan.

Armada La Maddukkelleng berangkat menuju Makassar melalui Mandar dan kemudian terlebih dahulu mampir di Pulau Sabutung. Dalam perjalanan menuju Makassar, dua kali armada La Maddukkelleng diserang oleh armada Belanda yaitu pada tanggal 8 Maret 1734 dan 12 Maret 1734. Setelah terjadi pertempuran selama dua hari, Armada Belanda yang terdiri dari enam buah perahu perang dapat dipukul mundur.

Saat berlayar antara pulau Lae-lae dan Benteng Rotterdam, armada La Maddukkelleng ditembaki oleh pasukan Belanda dengan meriam. Armada La Maddukkelleng membalas tembakan meriam itu dengan gencar. Gubernur Makassar, Johan Santijn (1733-1737) bahkan mengirim satu unit pasukan yang terdiri atas serdadu Belanda dibantu Ancak Baeda Kapitang Melayu menuju pulau Lae-lae untuk menghadang. Namun La Maddukkelleng bersama pasukannya berhasil menggagalkan upaya itu dan membunuh hampir seluruh anggota pasukan itu.

La Maddukelleng mendarat di Gowa untuk menemui teman seperjuangannya I Mappasempek Daeng Mamaro, Karaeng Bontolangkasa. La Maddukkelleng juga bertemu dengan Tumabbicara Butta (Mangkubumi) Kerajaan Gowa, I Megana untuk membicarakan strategi dan taktik yang akan dipergunakan menghadapi tentara Belanda.

Armada La Maddukkelleng kemudian melanjutkan pelayaran menuju Bone dan tiba di Ujung Palette. Ratu Bone We Batari Toja merangkap Datu Soppeng yang juga merupakan sekutu Belanda, mengirim Gallarang Bontoala sebagai utusan untuk mencegah armada La Maddukkelleng memasuki Wajo. Hal terjadi akibat Ratu Bone masih menganggap La Maddukkelleng sebagai orang yang bersalah terhadap Bone. Melalui Gallaran Bontoala, Ratu Bone Tapi La Maddukkelleng mengirimkan pesan kepada Ratu Bone bahwa ia menghormati sang Ratu dan tidak akan ke Singkang melalui sungai Cenrana, tetapi melalui Doping.

Gagal membendung laju armada La Maddukkelleng, Ratu Bone mendesak Arung Matowa Wajo agar menyerang armada La Maddukkelleng dan tidak memberinya kesempatan masuk ke Wajo. Tapi Arung Matowa Wajo menolak dengan alasan bahwa Wajo adalah negeri dimana hak-hak asasi rakyat dijamin. Hal ini berdasarkan perjanjian pemerintahan di Lapaddeppa antara Arung Saotanre La Tiringeng To Taba dengan rakyat Wajo (1476).

Akhirnya pada Tanggal 24 Mei 1736, La Maddukkelleng dan pasukannya berhasil tiba di Singkang melalui Doping. Ditambah dengan tambahan pasukan 100 (seratus) orang Wajo, sehingga diperkirakan kurang lebih 700 (tujuh ratus) orang ketika tiba di Singkang. Karena La Maddukkelleng masih menghormati Hukum Adat Tellumpoccoe (persekutuan antara Wajo, Soppeng dan Bone), dia berangkat ke Tosora untuk menghadiri persidangan dengan kawalan 1.000 orang. Tuduhan pun dibacakan yang isinya mengungkap tuduhan perbuatan La Maddukkelleng mulai dari sebab meninggalkan negeri Bugis sampai pertempuran yang dialaminya melawan Belanda. La Maddukkelleng lalu membela diri dengan alasan-alasan rasional dan menyadarkan akan posisi orang Bugis di hadapan Belanda. Karena demikian maka tidak mendapat tanggapan dari Majelis Pengadilan Tellumpoccoe.

La Maddukkelleng kemudian ke Peneki memangku jabatan Arung yang diwariskan ayahnya, namun dalam perjalanan terjadi peperangan dengan pasukan Bone yang berakhir dengan kekalahan di pihak pasukan Bone.

Seiring dengan semakin lanjutnya usia La Salewangeng Arung Matowa Wajo, maka atas kesepakatan Arung Ennengnge (Dewan Adat), La Maddukkelleng diangkat menjadi Arung Matowa Wajo XXXIV. Penobatannya berlangsung di Paria pada hari Selasa tanggal 8 November 1736.

Pada tahun 1737, La Maddukkelleng mengajak Bone dan Sopppeng untuk menyerang Belanda di Makassar. Dalam pandangannya, selama Belanda bekuasa di bumi Sulawesi, maka seluruh kerajaan bugis Makassar lambat laun akan mengalami kehancuran. Awalnya ajakan ini diterima oleh Bone dan Soppeng, akan tetapi dalam perjalanan, Bone dan Soppeng mundur. Sehingga La Maddukkelleng memutuskan untuk berangkat sendiri bersama pasukannya ke Makassar.

Dalam dua ekspedisi penyerbuan yang dilakukan oleh La Maddukkelleng ke Makassar, keduanya gagal, sehingga ia memutuskan untuk kembali ke Wajo. Pada masa itu, La Maddukkelleng berusaha memperkuat pertahanannya, karena setelah diserang dua kali, Belanda pasti berniat melakukan serangan balasan ke Wajo.

Dugaan La Maddukkelleng benar adanya. Pada tahun 1741, pasukan gabungan VOC, Bone, Soppeng, Luwu, Buton dan Tanete, yang dipimpin oleh Admiral Adriaan Smout sudah berhasil merebut Lagosi dan melancarkan serangan Artileri ke Tosora, namun dengan gigih La Maddukkelleng dan pasukannya berhasil mempertahankan diri. Selanjutnya, dengan menggunakan taktik perang yang cerdik, La Maddukkelleng yang dibantu oleh Pilla Pallawa Gau, dan La Banna To Assa serta menantunya Sultan Aji Muhammad Idris berhasil memukul mundur pasukan gabungan VOC dari Lagosi.

La Maddukkelleng, Daeng Simpuang, Arung Singkang, Sultan Pasir, Arung Peneki, mempunyai wawasan yang luas dibandingkan dengan raja-raja dan para pejabat kerajaan-kerajaan lain yang ada di Sulawesi, termasuk kawan-kawan terdekatnya. Ia berusaha menggalang persatuan raja-raja Bugis Makassar dengan tujuan mengusir orang-orang Belanda dari Sulawesi, karena dalam pandangannya, selama ada dominasi bangsa asing di Sulawesi, maka semua kerajaan akan hancur. Pembebasan Tanah Wajo bukanlah tujuan akhir yang ingin beliau capai, karena kemerdekaan wajo hanya merupakan tahapan penting untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, yaitu memperjuangkan kemerdekaan dan Kebebasan Indonesia, agar dapat mengatur dirinya sendiri. La Maddukkelleng adalah pejuang kebebasan dan kemerdekaan yang lahir jauh mendahului zamannya.

Dalam pemerintahannya, tercatat berhasil menciptakan strategi pemerintahan yang cemerlang yang terus menerus melawan dominasi Belanda dan membebaskan Wajo dari penjajahan diktean Kerajaan Bone, juga keberhasilan memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Wajo

Akhir pemerintahan La Maddukkelleng sebagai Arung Matowa Wajo ke tiga puluh satu berakhir ketika banyak anggota pasukannya yang sudah jenuh berperang. Hal itu melemahkan La Maddukkelleng, dan akhirnya beliau mengundurkan diri sebagai Arung Matowa Wajo. Beliau meninggal pada tahun 1965 dan dikebumikan di Sengkang, tepatnya di Jalan A. P. Pettarani Sengkang.

Andi P. Rukka

/andi_p_rukka

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Belajar menulis...
Try to find me in http://sangpamong.blogspot.com

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?