PILIHAN

Mendung Menggayut di Langit Jakarta, Agus dan Anies Menyodok Ahok-Djarot

23 September 2016 23:29:51 Diperbarui: 24 September 2016 00:11:39 Dibaca : Komentar : Nilai :

Tangan dingin SBY pada akhirnya bermain di Pilgub DKI 2017 setelah terlelap sejak tidak menjadi Presiden lagi kini menggeliat menyodorkan putera sulungnya Agus Harimurti yang masih militer aktif sangat mencengangkan seluruh jagad perpolitikan Jakarta dan ini terjadi di last minute pendaftaran akhir ke KPUD DKI. Banyak yang menyayangkan atas karier militer Agus hanya sampai di pangkat Mayor padahal prediksi akan menjadi rising star TNI, sebagai KSAD bahkan Panglima. Tidak pernah terdengar di perhelatan Partai Demokrat,

 tapi semua tentu ada hitungan politik dan sosialnya dari SBY yang ketika menjabat Kasospol pun telah mencuri perhatian publik nasional kala itu menyodok ke level perpolitikan nasional, berucap santun  yang antitesis saat itu ABRI rezim ORBA yg identik dengan main gebuk, main culik. Pada dan akhirnya berbuah manis SBY pun menaklukan Megawati yg dilingkari Jenderal zaman ORBA, menjadi Preside RI dua periode berturut-turut dengan kendaraan Politik Partai Demokrat yang masih baru saat itu.

Misteri dibalik Agus dan Keluarga SBY rela mengkorbankan karier Militer Agus di Militer demi laga Pilgub DKI 2017 yang sangat ketat untuk bisa memenangi pertarungan, resiko kalah sangat besar, Publik menanti-nanti penjelasan SBY di hari-hari kedepan.

Risma yang sempat wanti-wanti takdir tidak dapat ditolak menyiapkan skenario bila Megawati tetep ngotot usung Risma ke Pilgub Jakarta. Risma sadar penuh resiko petugas partai jika menolak Ketum Partai. Pepatah mengatakan "Harapkan burung terbang tinggi, punai di tangan dilepas" ini hampir saja terjadi mendorong-dorong Risma ke Jakarta. Pada akhirnya Risma tetap di Surabaya. Ini melegakkan Risma dan Publik Surabaya.

Prediksi awal Penulis akan Yusril Ihza Mahendra head to head versus Ahok akan diusung Partai-partai tetapi ada 2 efek penyebab Yusril terlempar dari radar partai yaitu :

1. Efek domino Setya Novanto terpilih jadi Ketum Golkar

2. Efek Reshuffle Kabinet II yang membawa korban Anies Baswedan

Sehingga Yusril yang di plot Aburizal karena berjasa atas memenangkan sebagai pengacara saat kubu ARB saat bersitegang dengan kubu Agung. Pada akhirnya Jabatan Ketua Pembina tidak berdaya dengan tongkat komando sang Ketum Setnov, Setnov berhutang budi dengan Ahok karena memberikan dorongan moril ketika Setnov terkena badai kasus papa minta saham, Ahok memberikan dukungan dan penilaian positif atas pribadi Setnov ketika sama-sama di DPR. Gayung pun bersambut Partai Golkar sokong Ahok ke Pilgub DKI 2017.

Sedangkan pemberhentian Anies Baswedan dari Kabinet Jokowi berbuah hikmah masuk radar dan muncul di akhir-akhir pendaftaran nama Anies hasil kompromi calon Gerindra Sandiaga Uno dengan PKS menelorkan nama Anies-Sandi. Walau Yusril selalu elektabiliast tinggi dari Sandi akhirnya tergerus dalam perjalanan waktu dengan muncul nama Anies hasil korban Reshuffle kabinet. Anies seperti orang teraniaya yang diberhentikan tanpa argumen dari Presiden Jokowi apakah soal kinerja atau politik semata sampai saat ini publik masih bertanya tanya soal ini.

Dua efek diatas sehingga Yusril Ihza pupus untuk menekuk Ahok di 2017.

Apakah SBY akan mengulangi kenangan manis nya saat merebut kursi Presiden mengalahkan incumbent dengan mengusung Agus Harimurti, mantan Presiden SBY yang orang dibelakang meja dan spesialis strategi politik di TNI saat itu. Dibelakang layar SBY akan memainkan naluri membunuh lawan di atas meja politik akan memenangkan Pilgub DKI 2017.

Sebagai petahana Ahok yang tanpa partai di awal setelah cabut dari Gerindra telah membangun gerbong kereta dukungan mulai dari TemanAhok yang pada akhirnya dikenang sebagai media bargaining dengan konsep 1 juta KTP ke partai-partai agar mengusung Ahok, cawagub Heru sebagai katakan lah boneka nya Ahok untuk membujuk PDIP agar memberikan Djarot jadi pendamping wagub. Kalkulasi Ahok jika didampingi Djarot bakal mendulang suara yang signifikan.

Djarot pun lebih nyaman dilamar Ahok walaupun mekanisme Partai dan Hak prerogatif Ketum Mega harus diikuti. Akhirnya Poling memperlihatkan Ahok elektabilitasnya masih tinggi jelang pendaftaran sehingga idiologi tinggal lah idiologi telah ditaklukan oleh hasil survey polling. Ahok pun akhirnya berpasangan dengan Djarot genaplah 4 partai pendukung. Jalan panjang seorang independen untuk diusung oleh partai yang didalamnya bertabur kader potensial, fenomena ini sangat langka.

Peta perpolitkan teraduk-aduk di last minute akhir pendaftaran. Yang terlupakan dan jarang disinggung yaitu peran Boy Sadikin sebagai putera Ali Sadikin Gubernur DKI saat itu sebagai korban pertama diusungnya Ahok-Djarot. Boy pun sayonara ke PDIP yang dari awal tidak suka akan tabiat Ahok. Diam-diam publik bertanya kenapa Ketum Megawati melewatkan begitu saja Boy, publik berharap banyak Boy bisa diusung PDIP, atau karena low profile nya sehingga terlewatkan dari pemberitaan atau kah Boy sengaja ditenggelamkan, walahualam.

Menakar suara pemilih DKI, Penulis ulas sebagai berikut:

Agus Harimurti berpasangan dengan PNS karier Deputi Sylviana Murni yg pernah jadi Walikota dan Kepala Satpol PP DKI ini akan menggaruk suara dari kantong-kantong di barak militer, PNS DKI beserta keluarga, Warga asli Betawi dan tentu saja kalangan Islam, terutama Muhammadiyah.

Anies Baswedan sebagai rektor dan Sandiaga Uno pengusaha pun akan menggaruk suara dari intelektual kampus, profesional muda, warga asli betawi dan Pedagang sektor usaha dan kalangan Islam

Ahok-Djarot memastikan suara di kalangan minoritas Tionghoa, Kalangan Kristen dan  konstituen fanatik PDIP, pemilih Golkar, Hanura, Nasdem walaupun pemilih Partai-Partai yaitu Golkar, Hanura, Nasdem belum pasti memilih sesuai dengan keputusan Partai mungkin saja loyalitas pemilih tidak sefanatik di PDIP disebabkan kader Partainya tidak ada di antara Cagub-Wacagub kali ini.

Yang jadi rebutan tentu suara warga pendatang yang masih wait and see melihat situasi sampai hari H pemilihan nantinya. Basis pendatang ada di banyak lini sudut kota Jakarta, suara mengambang mereka belum mengambil keputusan siapa yg akan dipilihnya nanti.

Kali ini di Pilkada DKI yang mana Partai-Partai berbasis Islam lagi-lagi tidak solid untuk mendukung satu pasangan calon, ego masing Partai belum dapat cair. Kubu Hambalang yaitu PKS tidak bisa melebur ke Kubu Cikeas yang didominasi Partai berbasis Islam. Dan perlu dicatat tersendiri isu SARA tidak mencuat di akhir pendaftaran karena suatu yang tidak produktif saat ini.

Mendung Menggayut di Atas Langit Jakarta mengisyaratkan akan turun hujan, awan mendung pun menyingsing. Menyapu debu-debu jalanan yang masih macet saja, menggulung sampah yang masih saja menyangkut disela kali. Masih banyak pekerjaan rumah untuk membereskan kota Jakarta, siapapun nanti memimpin pasti akan dibuat repot hanya saja pendekatan dari masing-masing kandidat yang berbeda. Apakah seperti Ahok-Djarot pendekatan sesuai aturan, Agus-Sylviana lewat pendekatan dialog, Anies-Sandiaga lewat pendekatan logika.

ah jangan gitu.... pendekatan sesuai aturan, dialog, logika semoga bukan promo jualan diawal saja.


@kebayoran baru 2016


Amri Sukmawan

/amrisukmawan

pemerhati perpolitikan DN & LN, pemusik biola taman suropati --- menulis politik seperti menggesek dawai biola, merasuki menembus ruang & waktu - mendapat ilmu formal di perguruan rakyat dan syarikat oesaha islam. Semoga tulisan Amri bermanfaat untuk NKRI.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Featured Article