PILIHAN HEADLINE

Ambon dan Anak-anak Slum yang Manis

04 Maret 2017 07:25:28 Diperbarui: 04 Maret 2017 13:19:26 Dibaca : 137 Komentar : 0 Nilai : 5 Durasi Baca :
Ambon dan Anak-anak Slum yang Manis
Tugu Trikora - Ambon. Pict by me

Ambon dengan penghargaan Adipuranya di tahun 2015 dan 2016 apakah kita masih mengingatnya? Saya sendiri bahkan sudah hampir lupa. Tapi beberapa waktu yang lalu saya, Andre dan Aji, kita ngopi di Galunggung sambil melihat Kota Ambon dengan sunset berwarna emasnya sambil bercerita santai. Bukan mengenai Adipura dan segala penghargaan serta euforia-euforia semu tetapi mengenai hal-hal kecil yang ada di depan mata, yaitu anak-anak jalanan dan anak-anak tukang minta-minta penghuni parkiran di sekitar jalan-jalan utama Kota Ambon.

Apa yang menjadi hubungan antara Adipura dan anak-anak slum ini. “Adipura adalah sebuah penghargaan bagi kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan” menurut Wikipedia. Ya, dan Ambon turut mendapatkan penghargaan tersebut. Namun, apakah Ambon sendiri berhasil dalam mengelola kebersihan dan pengelolaan lingkungan perkotaan? Pada kenyataannya kota ini masih belum “move on – kalau kata JP Band” dari permasalahan seputar sampah dan teman-temannya. Yang lebih menarik bagi saya bukan Adipura dan sampah, tetapi anak-anak slum yang manis ini.

Pict by Suhandi
Pict by Suhandi

Ambon dengan terminology “kampung besar yang kumuh” yang kembali saya dengar di kota di mana saya tinggal ini, seolah membawa imajinasi saya ke Jakarta kota metropolitan dengan perkembangan yang pesat dan dihuni berbagai macam manusia tak kurang juga deretan ank-anak slum ini. Sedangkan pada kota dengan jumlah penduduk ribuan (seperti Ambon) atau bahkan jutaan, anak-anak slum ini dapat kita jumpai di Jalan A. Y. Patti, Jalan Am Sangaji hingga Jalan Diponegoro (Urimesing).

Entahlah, apakah anak-anak manis ini mempunyai orang tua ataukah tidak. Lalu, mengapa mereka dibiarkan berkeliaran di jalan-jalan begitu saja? Padahal, usia seperti mereka seharusnya mereka sekolah, mereka belajar, dan melakukan hal-hal terkait anak-anak dan bukan malah berkeliaran di jalan-jalan begitu saja.

Slum yang dalam pengertiannya “daerah yang sifatnya kumuh tidak beraturan yang terdapat di kota dan perkotaan”. Sedangkan anak-anak slum adalah anak-anak yang berkeliaran dan mengemis/minta-minta pada daerah kota dan perkotaan.

Saya tidak tahu kapan tepatnya Ambon mulai memiliki anak-anak slum ini. Apakah masyarakat juga memperhatikan anak-anak slum ini ataukah mereka hanya lalu dari pandangan begitu saja. Kemudian, apakah anak-anak manis ini hanyalah hasil dari budaya yang terdevaluasi seiring dengan ketidakmampuan kota dalam mengelola lingkungan perkotaan dengan membiarkan anak-anak ini berkeliaran di jalan.

Bagi masyarakat perkotaan, kota diibaratkan seperti sebuah WC umum tempat orang-orang buang hajat. Karena itu, kita tidak memiliki kepedulian dan ikatan dengannya. Karena itu, kita seperti menutup mata melihat anak-anak slum ini menjadi penghuni jalan-jalan protokol di Jl. A. Y. Patti, Jl. Am Sangaji, dan Jl. Diponegoro (Urimesing). Membiarkan anak-anak ini berkeliaran, meminta-minta, menjaga parkiran dan bahkan menjual koran yang edisinya bahkan telah melewati satu hari.

Budaya masyarakat perkotaan yang mana sangat kontradiktif di mana masyarakat dengan kehidupannya sendiri dan kepentingannya yang tidak mempedulikan hal-hal kecil di depan mata. Dan apakah Kota Ambon sedang menuju budaya masyarakat perkotaan ini?

Tidak seperti kota-kota lain di Indonesia di mana masyarakatnya cenderung tidak begitu bangga dengan kota di mana dia tinggal. Masyarakat Ambon secara budaya menyebut dirinya orang Ambon tentu akan memiliki keterikatan budaya yang cukup kuat dengan kota ini. Namun, kembali lagi muncul pertanyaan “apakah masyarakat yang menyebut dirinya orang Ambon akan sedikit peduli akan permasalahan anak-anak manis penghuni jalanan ini?”

[belum fin]

Marvin Laurens

/ammpersiang

anak pantai, tukang bakar ikan di pinggir pantai sambil melihat senja.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana