Wanita

Pain for Beauty, Pengorbanan Wanita

5 September 2017   05:23 Diperbarui: 5 September 2017   09:38 316 0 0


Pernahkah Anda mendengar kisah yang benar-benar asli dari dongeng anak legendaris Ciderella? Cinderella tinggal bersama keluarga Tremaine yang terdiri dari ibu dan kedua kakak tirinya, Anastasia dan Drizella. Kebanyakan penggemar dongeng pasti mengetahui betapa ngerinya pengorbanan yang dilakukan oleh kedua kakak tiri Cinderella ini untuk dapat mengenakan sepatu kaca. Lady Tremaine, ibu tiri Cinderella, menggilas kaki anaknya yang kekecilan dan memotong jari anaknya yang terlalu besar bagi sepatu kaca tersebut. Dalam kisah ini kesan pain for beautysangat terasa. Banyak orang masa kini rela menyengsarakan dirinya demi memenuhi definisi kecantikan yang sedang marak. Metode yang digunakanpun beragam, mulai dari melumuri diri dengan darah hingga mengubah secara total apa yang telah Tuhan berikan kepadanya. Cara kedua inilah yang paling tidak bisa diterima akal rasional.


Banyak faktor yang mendorong banyak orang melakukan apapun demi kecantikan. Tuntutan sosial seperti rasa kurang percaya diri, tekanan dari pekerjaan, dan lingkungan tempat tinggal. Semua manusia terlahir dengan ciri khasnya masing-masing. Seharusnya ciri itulah yang membedakan kecantikan orang dari yang satu ke yang lain, namun ada beberapa orang yang menganggap ciri tersebut sebagai sesuatu yang memalukan dan harus 'disesuaikan'. 

Selain itu, dewasa ini penampilan semakin dibutuhkan dalam mencari pekerjaan. Pekerjaan yang pada awalnya memprioritasakan kemampuan seseorang dalam bidang tertentu berubah drastis menjadi mengutamakan penampilan. Hidup di lingkungan yang 'cantik' juga memengaruhi seseorang untuk mengambil langkah yang sama seperti yang mereka tempuh. pada menjadi salah satu faktor utama penyebab orang rela melakukan cara-cara ekstrim, termasuk plastic surgery.

Di beberapa negara termasuk Thailand dan Korea Selatan, oprasi plastik merupakan hal yang sangat lumrah. Bahkan ada orang tua memberikan operasi plastik kepada anaknya di ulang tahunnya yang ketujuh belas. Hal ini tentu saja memprihatinkan mengingat betapa belianya usia anak tersebut ketika melakukan operasi plastik. Anak yang diizinkan untuk mengoperasi wajahnya sesungguhnya merupakan salah satu bentuk pengajaran rasa tidak bersyukur kepada ciptaan Tuhan dan akhirnya menyerahkan nasibnya kepada tajamnya pisau bedah. Selain itu, operasi plastik mengakibatkan beberapa penyakit, baik secara medis maupun mental, di antaranya:

  • Body Dysmorphic Disorder
  • Body dysmorphic disorder merupakan penyakit kejiwaan yang muncul karena rasa kurang puas akan hasil penggubahan terhadap tubuh atau wajah seseorang, yang menyebabkan mereka ingin melakukan operasi itu lagi dan lagi. Dampak lebih jauhnya bisa jatuh pada timbulnya bulimia dan anoreksia.
  • Reaksi dari silikon
  • Banyak wanita yang menginginkan bentuk tubuh indah menambahkan silikon pada beberapa bagian dalam tubuh mereka, contohnya payudara dan pantat. Suntik implan silikon baik padat maupun cair dapat beresiku untuk meledak di dalam tubuh, yang mana berakibat pada infeksi pada bagian-bagian tertentu.
  • Bengkak-bengkak pasca-operasi
  • Efek terkecil yang tiimbul setelah seseorang melakukan operasi plastik adalah bengkak-bengkak. Hal ini biasanya terjadi apabila seseorang tergiur pada tawaran operasi plastik yang murah, padahal biaya operasi plastik yang tidak murah tidak lepas pada faktor profesionalitas dokter-dokter yang menanganinya. Melakukan operasi plastik dengan kualitas tinggi memerlukan biaya yang tinggi pula.
  • Operasi plastik tidak bersifat permanen
  • Plastic surgery bukanlah sesuatu yang bersifat selamanya, melainkan memiliki masa kedaluarsa dan harus selalu diupdate dalam kurun waktu tertentu untuk menjaga kualitasnya. Oleh karena operasi plastik yang sementara, seseorang bisa menghabiskan seluruh kekayaannya untuk memperbaikinya dan menambah operasi-operasi yang lain.

Apa yang akan dikatakan oleh sebuah keluarga normal yang mengetahui tiba-tiba wajah anak mereka berubah menurt cetakan manusia? Kebanyakan keluarga normal pasti tidak ingin menerima seseorang itu lagi.  Tentu saja hal ini berdampak depresi bagi orang yang mengalaminya, bahkan bisa berujung pada suicidedan kelainan mental.

Satu-satunya cara untuk menghentikan fenomena ini adalah bersyukur kepada Tuhan. Dengan menerima dan merawa dengan baik apa yang telah Tuhan berikan, manusia secara tidak langsung akan mencapai kecantikannya. Keluarga juga harus mendukung dengan cara tidak melecehkan kekurangan seseorang, melainkan memberi motivasi untuk dapat mentas dari jeratan tersebut. Tidak harus dengan rasa sakit dan penampilan luar, kencatikan adalah sesuatu yang dipancarkan dari hati -- hanya bisa dicapai ketika seseorang mau menerima siapa dirinya, menerima kekuatan dan kelemahannya. Selalu berfikir positif dan menjaga pola hidup sehat dapat mempercantik jiwa seorang perempuan. Jadi, para perempuan tidak harus mengalami apa yang dilakukan keluarga tiri Cinderella.