Bukan Salah Anak

05 Juli 2012 10:33:46 Dibaca :



Dia menangis, kita tertawa…


Itulah yang kita rasakan saat kelahiran seorang anak. Anak yang yang keluar dari perut ibunya adalah sebuah keajaiban yang luar biasa. Apalagi saat mendengar tangisnya, kita malah merasaa lucu dan merasa senang, terbayang bagaimana dulu ia yang tidak bisa melakukan apapun dan belum lahir. Begitulah kekuasaan Illahi.


Anak adalah anugrah yang terindah bagi siapapun. Sebuah keluarga tentu belum dikatakan lengkap tanpa adanya anak. Anaklah yang akan menjadi penghibur lara dan menguat orang tuanya ketika gundah. Anaklah yang menjadikan penenang hidup orang tuanya. Semua orang menyambutnya ketika lahir. Semua banyak yang mendoakannya.


Hal ini saya rasakan ketika ponakan saya lahir. Kebetulan lahirnya di kampong saya, bukan di kampong kakak ipar saya. Ini ponakan kedua. Kalau ponakan yang pertama dulu tidak di kampong lahirnya, jadi saya kurang merasakan nikmatnya melihat kelahiran ponakan pertama saat itu. Berselang seminggu, akhirnya dibuatlah acara aqiqah sederhana di rumah. Dan ditetapkan jugalah namanya. Namanya Muhammad Azka Iqfi. Nama yang bagus, bukan? Hehe.


Acara inipun tak luput dari doa dan nasihat agama yang disampaikan oleh penceramah. Acara ini berlangsung khidmat. Namun, tiba-tiba saja saya membayangkan nasib anak-anak yang lahir tanpa adanya pernikahan orang tuanya. Apakah seperti ini perasaan keluarganya menyambut kehadiran anak? Apakah ada acara aqiqah yang mengundang sanak saudara?


Saya tidak membayangkan bagaimana rasa keluarga yang ditimpa. Selain dianggap mencemarkan nama masyarakat tertentu, pasti keluarga orang tuanya juga merasa malu. Sekalipun anak-anak yang terlahir “kebablasan” itu suci dan menyenangkan orang-orang terdekatnya, pastilah ada rasa enggan dan tak enak dari pihak kelaurganya yang pada akhirnya membaut anak itu tak mendapat hak-haknya. Bukankah anka juga punya hak untuk hidup, disayang, dan dicintai?


Apalah salah seorang anak yang terlahir. Mereka tidak menginginkan terlahir seperti itu. Mereka itu suci. Mereka fitrahnya menenangkan dan menyenangkan orang tuanya. Bukan diolok oleh teman-temannya di kemudian hari dan juga jelas nasab keluarga serta ahli warisnya.


Kecintaan kita terhadap diri sendiri dan keluarganya tentu akan membuat kita berpikir ulang untuk melakukan perbuatan yang tidak baik itu. Oleh sebab itu, kita perlu pegangan untuk menhindarinya. Kita perlu kekuatan agar tak mudah terayu oleh perbuatan-perbuatan itu.


Tengoklah orang-orang tua terdahulu yang tanpa adanya bertindak yang senonohnya itu, mereka dapat hidup dengan damai. Mereka menjalaninya dengan suka hati walau hidup seadanya. Itu lebih bermartabat ketimbang berperilaku yang bukan waktunya. Lebih mulia di sisi-Nya. Jika kita sudah ingin, katakan pada keluarga akan lebih baik daripada sembunyi-sembunyi yang mengakibatkan yang aneh-aneh.


Beberapa waktu lalu saya juga pernah menonton tayangan mengenai hewan yang menikah. Waw, hewan menikah? Yang menikahkan tentu saja pemilik hewan tersebut. Ajaibnya sampai harus menikah. Nah, tapi itulah sebuah momen yang mengesankan, momen yang ditunggu pemiliknya. Begitu jugalah kita yang manusia yang memang biasanya menikah. Toh hewan saja menikah terlebih dahulu, kok kita yang manusia malah mau kawin terlebih dahulu.


Tayangan seperti itu patut memberikan pelajaran bagi kita bahwa untuk menjadi sesuatu yang berharga dan membahagiakan orang lain adalah dengan melakukan yang sewajarnya saja, bukan neko-neko yang hanya menyedihkan keluarga.


Melihat orang melahirkan, melihat anak yang lahir, anak bayi, merupakan momen yang harus kita lihat. Tidak harus melihat anak sendiri, tapi juga bisa melihatnya lewat anak dari keluarga kita, bisa anak dari saudara kita, bisa dari tante kita, bisa dari mana saja dan dari siapa saja.


Anak adalah titipan. Kita perlu memperhitungkan bagaimana kehidupannya lewat diri kita sendiri. Menjaga diri dan keluarga kita dari perbuatan itu. Semoga Tuhan pun melindungi dan menjaga kita ya… aamiin.


Salam untuk ponakanku yang lucu, Azka. ^.^

Amalia Masturah

/amaliamasturah27

inilah aku yang ingin menjadi novelis. hehe... punya nama pena Ia Safasna.
tulisannya pernah di muat di Serambi-Aceh. Impian dulu ingin punya 10 antologi. sejauh ini 8 antologinya yang terdiri dari antologi FF, cerpen, dan puisi telah terbit. Dua antologi lain masih dalam proses penerbitan. impiannya dulu, setelah berhasil punya 10 antologi ya buat novel. haa...sekarang lagi berusaha saja. mohon doanya.. >.

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?