Kelas Dahlan Iskan Mestinya 'Perdana Menteri'

20 Oktober 2011 21:43:27 Diperbarui: 25 Juni 2015 17:41:43 Dibaca : 1273 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :

Reshuffle KIB Jilid II yang digelar Presiden SBY  beberapa hari lalu menuai kritik dan respon negatif dari publik karena dianggap tidak mampu menjawab atau mengobati penyakit besar yang ada di pemerintahan, terutama demi  melakukan percepatan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, pemberantasan korupsi dan efisiensi  serta  reformasi   birokrasi. Reshuflle Kabinet lebih mencerminkan terjadinya politik dagang sapi baru demi memperkokoh status quo kekuasan hingga tahun 2014.

Reshuffle Kabinet juga tidak menjawab tuntutan aspirasi publik tentang agenda pemberantasan korupsi karena ada 2 Menteri  yaitu Menpora dan Menakaertrans  yang tidak mampu menjaga institusinya dari aksi kasat mata korupsi dan diduga terkait dengan masalah didalamnya. Demi kepentingan keseimbangan politik, Presiden SBY tampaknya lebih memilih 'tutup mata' terhadap persoalan yang telah membuat kegaduhan politik berbulan-bulan ini dan sempat mendegradasi kredibilitasnya.

Ditengah sikap apatis dan pesimis masyarakat, ternyata publik masih sedikit menaruh 'harapan' ketika sosok Dahlan Iskan (Dirut PLN) dianggkat  menjadi Menteri BUMN.  Namun  secercah sinar harapan itu  diyakini t tidak  mampu mencerahkan berbagai aspek kehidupan  berbangsa dan bernegara yang memiliki tumpukan persoalan sangat  kompleks.

Kompleksnya persoalan berbangsa dan hampir menyeluruh dalam segala aspek kehidupan itulah yang tidak dijadikan dasar bagi Presiden SBY untuk membenahi Kabinetnya. Dahlan Iskan yang mampu menumbuhkan optimisme publik ternyata hanya diserahi tugas sebagai Menteri BUMN yang wilayah teritorialnya sungguh masih sangat terbatas.

Sebagai Menteri BUMN  bagi Dahlan Iskan tentu bukan menjadi tantangan ekstra berat yang harus dihadapi mengingat rekam jejaknya yang brilian dalam memimpin ratusan peruasahaan  Swasta  meski dengan kondisi dan dengan modal yang sangat terbatas. Kisah sukses Dahlan Iskan membangun kerajaan Bisnis Media Jawa Pos dan menyehatkan PLN dalam tempo yang relatif singkat adalah modal sangat besar untuk memberi tugas yang lebih menantang, jauh diatas sekedar  menjadi  Menteri BUMN.

Dalam konteks inilah Presiden SBY terlihat tidak paham dan kurang cerdas dalam membaca potensi Dahlan Iskan serta sekaligus memberikan tugas  yang lebih besar dan menantang. Presiden SBY mestinya memberikan posisi kepada Dahlan Iskan  sebagai    CEO pemerintahannnya  atau mengangkatnya sebagai Perdana Menteri (PM).

Kelas Dahlan Iskan Mestinya Perdana Menteri, Bukan sekedar Menteri BUMN yang memiliki peran dan posisi sangat terbatas untuk melakukan recovery dan akselerasi (percepatan) pencapaian tujuan berbangsa dan bernegara. Tidak mungkin akselerasi pemerintahan SBY ini dapat terwujud jika yang berhasil adalah hanya di sektor   BUMN saja, sementara birokrasi tetap lamban,  berjiwa elitis  dan syarat dengan guritas korupsi yang hingga kini tidak pernah tahu arah penyelesaian yang sesungguhnya.

Ada beberapa alasan yang mestinya Presiden SBY bisa menempatkan Dahlan Iskan sebagai Perdana menteri;

1. Bahwa Presiden SBY dan  Wapres Boediono memiliki karakter  yang sama yaitu cenderung sangat hati-hati, lamban  dan keduanya selalu tampil sebagai 'pengerem'.  Dengan karakter seperti maka sangat  sulit  akselerasi sektor kehidupan berbangsa  dan bernegara menjadi sulit diwujudkan karena pucuk pimpinan nasional dikendalikan oleh figur-figur yang kurang berani melakukan eksekusi.

2. Dahlan Iskan  adalah tife pekerja tulen dan tidak pernah bersentuhan dengan kekuatan politik praktis manapun juga. Dahlan      Iskan selama ini tidak memiliki orientasi   (pamrih) kekuasaan politik sehingga diyakini tidak akan menelikung kekuasaan SBY, terkeculi lebih membantunya untuk menggenjot  kearah  akselerasi pembangunan dalam segala bidang sehingga tidak hanya mandek dalam dataran reorika semata.

3. Dahlan Iskan bukanlah tife orang yang senang bersolek ciutra dan mencari popularitas politik. Tokoh seperti ini adalah yang dapat menutupi kekurangan  Presiden SBY yang selalu dituduh sebagai pemimpin yang suka bersolek citra. Dahlan Iskan tak butuh Citra, popularitas, protokoler, berbagai fasilitas mewah  karena semuanya telah dimiliki dan dilampauinya  sehinggfa dirinya dapat fokus Kerja.., kerja... dan kerja...

4. Jika Dahlan Iskan  diangkat jadi PM maka dirinya dapat mendorong seluruh Kementerian yang ada untuk bekerja cepat demi  mewujudkan cita-cita Presiden SBY bagi akselerasi pemerintahannnya pada 3 tahun terakhir. Jika hal ini dilakukan maka SBY tak perlu mengeluh kalau banyak instruksinya  tidak dijalankan oleh sebagian para  Menterinya.

5.   Jika Dahlan Iskan  diangkat menjadi PM niscaya politisasi birokrasi akan 'dibabat habis'  karena faktor inilah yang menjadi penyakit paling berbahaya, sangat ganas  dan terus memperpuruk kehidupan berbangsa dan bernegara karena sumber-sumber keuangan negara sangat mudah dikorupsi secara sistematis  demi kepentingan politik oleh beberapa kelompok  kepentingan  semata.

Terhadap persoalan itu, tampaknya SBY tidak menyadarinya sehingga potensi besar Dahlan Iskan sama sekali tidak dilirik sebagai panglima untuk mewujudkan akselerasi pembangunan. Jika Presiden SBY serius dengan program akselerasinya, mestinya Dahlan Iskan ditempatkan sesuai kelasnya sebagai Perdana Menteri.

Namun dengan komposisi reshuffle Kabinet yang seperti itu, tampaknya SBY tidak paham dengan kelemahannya   dirinya sendiri  yang peragu, lamban dan kurang berani sehingga program akselerasi pembangunn diperkirakan  hanya berhenti menjadi  retorika dan pepesan kosong belaka, terkeculai di Kementerian yang dipimpin oleh Dahlan Iskan.

Jika SBY mau dan berani serta berniat tulus mengabdikan kepemimpinannya untuk rakyat, sekarang belum terlambat segera angkat dan posisikan Dahlan Iskan sebagai PERDANA MENTERI. Upaya ini   juga pernah  dilakukan oleh Presiden Soekarno ketika mengalami masa-masa sulit.

Aly Imron DJ

/alyimrondj

TERVERIFIKASI

Tuhan Tidak Tidur (Gusti Mboten Sare). email: alyimrondj@yahoo.com, Hp. 085866940999
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL politik

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana