Mengapa Aku Tobat Dari Islam Liberal?

29 Mei 2012 21:48:36 Dibaca :
Mengapa Aku Tobat Dari Islam Liberal?
Bersama kang Iyeng dan kang daniel, dua pemuda Islam yang aku kagumi,terutama kang daniel(berkaca mata) yang selalu membantu panti panti asuhan di tanah air.dok pribadi

Dulu, diriku  termasuk anak muda yang mengandrungi pemikiran pemikiran produk Islam liberal, tapi itu dulu, sekarang aku  sudah tobat dari Islam liberal. Tentu ada yang bertanya,mengapa aku memutuskan tobat dari Islam liberal? Dalam perjalanan hidup aku pernah merasa kebosanan yang amat sangat dengan kajian kajian Islam model lama kemudian tampa sengaja aku menemukan Islam Liberal, mereka menawarkan sesuatu yang ''baru'' dalam mengkaji Islam. Namun setelah ke sini sini aku pun menyadari bahwa ternyata apa yang mereka lakukan tidak lain hanyalah menyontek, ya, Islam liberal memang meniru Yahudi Liberal. Lihatlah bagaimana kaum Yahudi Liberal merontokan pondasi pondasi dasar agama Yahudi, di mana mereka setuju dengan pernikahan sejenis bahkan membuka jasa konsultasi pernikahan sejenis. Menurut mereka agama Yahudi bisa saja di rombak sesuai dengan perkembangan zaman. Bandingkan dengan Islam Liberal, bagaimana mereka mendukung penuh Irshad Manji seorang aktivis lesbian, para aktivis Islam liberal juga telah menulis sebuah buku aneh yang mereka beri judul,'' Indahnya kawin sesama jenis''. Apa enggak serem? Kedepannya bisa jadi mereka akan merombak ajaran Islam secara besar besaran sebagaimana yang telah di lakukan oleh seniornya dari kalangan Yahudi Liberal. Tanda tandanya udah ada, lihat saja bagaimana mereka secara gigih mendukung RUU kesetaraan gender. Padahal sudah dari sononya laki laki dan perempuan itu beda. Berbagai pemikiran aneh bin ajaib akan terus mereka keluarkan. Saat ini  banyak generasi muda Islam yang mengagumi Islam liberal, saya kira wajar aja mengingat generasi muda masih dalam proses pencarian. Menurutku, Islam ya Islam, enggak ada Islam liberal, Islam moderat atau Islam radikal, itu semua adalah asesoris yang sengaja di tempelkan sehingga Islam tampak mempunyai banyak wajah. Sekarang aku hanya menjalankan Islam tampa berminat lagi dengan pemikiran pemikiran aneh. PR umat Islam juga menumpuk, mengapa kita begitu asyik dengan dunia pemikiran yang melangit sedangkan kita sekarang masih tinggal di bumi? Menurutku  menyantuni anak yatim, mengayomi fakir miskin lebih bermamfaat daripada tenggelam dalam dunia pemikiran aneh tapi tampa daya gerak dalam mengentaskan persoalan umat. Umat Islam yang miskin tidak butuh pemikiran aneh tapi mereka butuh uang untuk membeli beras dan minyak sayur. Daripada tenggelam dalam dunia pemikiran yang aneh aneh mengapa kita tidak menyibukan diri membantu janda janda tua, abang abang becak, mbok mbok yang berdagang sayur. Daripada asyik masyuk dengan berbagai teori yang jelimet tentang Islam lebih baik kita terjun langsung ke lapangan, ikut bersih bersih lingkungan, mungutin sampah di jalanan atau membersihkan sungai sungai kita yang kotornya, nauzubillah. Ya, sekarang aku lebih suka dengan generasi muda Islam yang mempraktekan Islam secara nyata daripada anak muda Islam yang kutu buku tapi diam saja melihat tetanganya kerja bakti. Aku lebih respek dengan generasi muda Islam yang bersih bersih got daripada anak muda Islam yang bangga paham berbagai teori teori tentang ajaran Islam tapi penampilannya dekil karena jarang mandi. Aku suka dengan generasi muda Islam yang menjadi solusi nyata bagi lingkungan sekitarnya daripada generasi muda Islam yang asyik berdiskusi sampai pagi sehingga sholat subuhnya  kelewat. Aku senang dengan generasi muda Islam yang kamar kostnya tampak rapi dan bersih walau mereka tidak menguasai filsafat Ibnu Arabi. Daripada generasi muda islam yang katanya sudah banyak membaca teks teks berat tapi kamarnya berantakan seperti kapal pecah. Sekarang, aku sudah tobat dari yang namanya Islam liberal dan kembali ke pangkuan Islam tampa embel embel.

Mukti Ali Bin Syamsuddin Ali

/alimukti37

TERVERIFIKASI (BIRU)

Ayahnya Davi, Deniez dan Defa..
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?