PILIHAN HEADLINE

Menelisik Potensi Pantai Santolo dan Cilaut Eureun di Garut Selatan

16 Maret 2017 08:58:12 Diperbarui: 17 Maret 2017 09:12:49 Dibaca : 72 Komentar : 0 Nilai : 4 Durasi Baca :
Menelisik Potensi Pantai Santolo dan Cilaut Eureun di Garut Selatan
dokumentasi pribadi

KETENARAN Pantai Santolo di Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, kalah jauh pamornya dengan Pantai Pangandaran di Kabupaten Ciamis. Padahal, Pantai Santolo sudah dikenal sejak zaman Belanda. Selain itu, kedua pantai ini sama berada di Laut Selatan. Akan tetapi, perkembangan Pantai Santolo, jauh tertinggal ketimbang pantai lainnya, terutama kehidupan para nelayannya.

Letak Pantai Santolo di antara Kecamatan Pameungpeuk dengan Kecamatan Cikelet. Sementara di sebelahnya, ada Pantai Sayang Heulang. Kedua pantai ini dipisahkan aliran sungai yang bermuara ke Cilauteureun. Jika dari arah Kota Garut, jaraknya sekitar 88 km atau tiga jam perjalanan dengan kendaraan. Jalan menuju Pantai Santolo sudah bagus dan mulus. Sementara itu, dari kota Kecamatan Pameungpeuk jaraknya sekitar 7 km.

Cilauteureun adalah sebuah laguna yang airnya seperti berhenti mengalir. Eureun artinya berhenti, itulah sebabnya dinamakan demikian. Padahal, di sebelah timurnya ada Curugan, tempat unik dan langka, bahkan di seluruh dunia. Di Curugan, bukan air sungai yang mengalir ke laut, tetapi sebaliknya, air laut yang mengalir ke sungai kemudian berpadu di Cilauteureun tadi. Fenomena ini hanya ada di Garut dan Perancis.

Di sini ada jembatan loci yang menghubungkan pantai di sebelah utara dengan Pulau Santolo, tapi kini sudah tak ada, hanya tiang pancang jembatan yang dibangun Belanda itu masih tampak. Begitu juga pelabuhan yang dibangun zaman Belanda, masih ada. Dari pelabuhan inilah, dikapalkan hasil perkebunan seperti karet dari perkebunan karet Miramareu dan teh dari perkebunannya di Cikajang.

Tampak jajaran perahu nelayan di dermaga muara Cilauteureun. Terlebih saat paceklik seperti sekarang ini, akibat musim tak menentu. Perahu yang besar dan kecil nyaris memenuhi laguna itu. Pemandangan ini sebenarnya suatu yang eksotis bagi para fotografer atau pelukis.

Namun, bagi para nelayan, ini merupakan penantian yang membosankan. Sebab dalam musim yang tak tentu ini, nelayan seperti kata pepatah “ibarat makan buah simalakama, tak dimakan bapa mati, dimakan ibu mati”. Jika nelayan melaut hasil yang didapatkan tak sebanding dengan pengeluaran, namun jika tak melaut, tak ada penghasilan.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

“Seharusnya pada saat paceklik ini, pemda Garut harus turun tangan membantu para nelayan,” ujar Dadang (54) salah seorang nelayan di Pantai Santolo.

Bagaimanapun antara pariwisata dan nelayan seperti dua sisi mata uang. Satu sama lain tak bisa dipisahkan. Kehidupan para nelayan juga merupakan daya tarik wisata pantai. Sementara jika masa melaut sedang paceklik, sektor wisata harus dapat menghidupi nelayan.

“Padahal Pantai Santolo lokasinya dari Kota Bandung lebih dekat ketimbang Pantai Pangandaran,” kata Dermawan Rusli (38) yang berlibur bersama keluarganya. “Bahkan saat ini, sudah ada jalan tembus ke Pangandaran, jadi jika ke Pantai Santolo pulangnya bisa ke Pangandaran atau sebaliknya,” lanjutnya. Kehadiran wisatawan dapat membantu nelayan yang sedang tak melaut. “Jangan sampai nelayan kerja ke kota atau menjadi buruh tani,” katanya.

Dia juga menyarankan, adanya event seperti pesta laut dan festival layang-layang atau acara lainnya sehingga dapat menghidupkan gairah para nelayan ketika berhenti melaut. “Setidaknya para nelayan punya penghasilan sampingan,” katanya.

Dibangunnya jalan jalur Selatan, dapat membangunkan potensi Garut Selatan yang lama tertidur. Boleh jadi, kehadiran jalan ini merupakan awal kemakmuran daerah Garut Selatan. Seperti dalam sebuah uga atau ramalan yang menyebutkan: isuk jaganing isi geto di basisir Garut kidul bakal ngadeg leuit salawe jajar, Saban jajarna aya salawe leuit nu masing-masingna dieusian salawe caeng. (Kelak suatu hari nanti di tepian Pantai Garut Selatan ada dua puluh lima lumbung padi, setiap lumbung masing-masing berisi dua puluh lima caeng, se-caeng berisi 22 ikat padi, red.).

Ramalan ini hanya tinggal ramalan jika pemda Garut dan Pemda Jabar tak kreatif dan inovatif menggarap potensi daerah Selatan. Jangan sampai nanti ada wacana kawasan Garut Selatan untuk memisahkan diri akibat tak diperhatikan.

Alief El-Ichwan

/aliefel-ichwan

mantan wartawanI Penulis LepasI Menulis artikel-cerpen-puisi-perjalan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL wisata

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana