Mohon tunggu...
Ali Akbar
Ali Akbar Mohon Tunggu... Freelancer - Mahasiswa

instagram : Aliakbar347

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tidak Punya Keluarga Menjadi Alasan Mereka Mengemis

12 Maret 2020   03:34 Diperbarui: 12 Maret 2020   03:37 387
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Demi memenuhi kebutuhan ekonominya sebagian kecil masyarakat di Kota Tangerang memilih untuk mengemis, bagi mereka mengemis merupakan jalan satu-satunya untuk memenuhi kebutuhannya.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya SDM (sumber daya  manusia) lahan pekerjaam semakin berkurang dan semakin sulit didapat dan dampaknya adalah angka pengangguran semakin meningkat di setiap tahunnya. 

Bagi sebagian orang yang memiliki ide kreatif tentu akan memanfaatkan kesempatan itu untuk berwirausaha atau membuat usaha kecil-kecilan yang tentunya dapat memenuhi kebutuhan ekonomi,pendidikan dll.

Tapi bagi sebagian orang, "Mengemis" adalah suatu solusi dan bahkan dijadikan sebagai profesi utamanya , biasanya hal ini terjadi di kota-kota besar di Indonesia dan tak menutup kemungkinan mengemis juga bisa terjadi di kota-kota kecil bahkan saat ini mulai mewabah ke kawasan pedesaaan. 

Alasan mereka mengemis pun beragam , mulai dari susahnya mencari pekerjaan,tak mempunyai keluarga dll

Lia (60 tahun) merupakan salah satu dari pengemis di Tangerang yang setiap hari melakukan aksinya itu di jembatan penyebrangan di kawasan Tang City .

"Iya saya sudah lama mengemis disini, saya juga engga sendiri ada temennya yang lain ikut bareng" ucap Lia. "Alasan saya mengemis karena saya udah engga punya keluarga makanya saya harus mengemis buat makan sehari-hari sama buat bayar kontrakan juga" tambahnya. Dia juga tidak menjelaskan lebih lanjut kemana keluarganya yang sebenarnya.

Lia juga menyebutkan dari hasil mengemis tersebut berpenghasilan sekitar Rp 30.000,- sampai dengan Rp 50.000 sehari bahkan bisa melebihi itu. Dari penghasilannya itu ia bisa membayar kontrakan, makan dan memenuhi kebutuhan lainnya, di usianya yang terbilang renta memang sudah tidak memungkinkan untuk melakukan pekerjaan yang berat dan mengingat fisiknya yang sudah melemah.

Dibalik kisah nya, banyak para masyarakat yang merasa terganggu oleh kehadiran pengemis- pengemis jalanan itu salah satu pejalan kaki yang sering kali melewati jembatan penyebrangan Tang City itu merasa risih dan tenganggu.

"Iya , mengganggu kenyamanan khususnya pejalan kaki seperti saya karena jadi kelihannya kumuh dan terkesan jorok juga" ujar Futri , "Untuk saran sih mungkin untuk petugas keamanan supaya bisa mengamankan pengemis supaya bisa diberi penyuluhan dan dapat kelayakan supaya tidak mengemis lagi " tambahnya lagi.

Memang benar yang di ucapkan oleh kebanyakan masyarakat bukan hanya terganggu tapi menyebabkan tempat-tempat menjadi kumuh, terutama di jembatan penyebrangan, banyak sampah plastik dan tempat makanan dan terkadang banyak tumpukan makanan yang sudah basi dan di biarkan membusuk ditempat . 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun