Kamu Bukan Muslim!

04 November 2012 09:28:34 Dibaca :

“Ni bu shi Muselin!”(1). Suara lelaki itu tangkas, keras, disertai seringai. Sinar matanya terasa menusuk. Kulayangkan pandangan ke mata lelaki berkepala plontos didepanku, berkilat sinar aneh disana..mengejek.. sinis? Lelaki itu terlihat gesit ber-multitasking. Mengipas-ngipas sate domba dan sapi disisi kanannya dengan gerakan cepat dan kuat. Disisi kirinya beberapa sate sayap ayam dan terong. Tangan-tangannya bergerak cepat antara mengipas sate, menabur bumbu diatasnya, mengipas, membolak-balik sate, ngobrol denganku, sesekali ngobrol dengan tamu lain, mengipas, memindahkan sate ke atas piring, menaruh sate-sate baru, mengipas..terus dan terus. Diatas semua itu, matanya sesekali melirik cepat ke arahku. Memperhatikan wajahku. Tetap dengan kilatan sinar yang sama...

Rasa tak nyaman mulai merambat. Juga sedikit rasa tak aman. Pisau dimana-mana sekitar mereka. Tusuk sate terbuat dari alumunium pun berserakan di dekat kakinya, di meja sebelahnya, juga didepannya.. Dari tatapan matanya, caranya berkomentar, serta isi komentar awalnya tentangku itu sudah bikin pikiran jauh melayang, 'apa yang kira-kira orang-orang ini akan lakukan terhadapku, yang mengaku muslim, tapi mereka tak percayai karena suatu hal yang masih belum kutahu apa?' Ngga dapat petunjuk atas pertanyaanku sendiri membawa pikiran melayang ke sebuah komunitas di tanah air yang mengklaim diri mereka pasukan pembela agama. 'Apa yang kira-kira mereka akan lakukan terhadapku?' Aku bergidik. Aktifitas melempar tusuk-tusuk sate habis pakai ke kardus khusus yang hanya berjarak 60-an sentimeter dari kakinya pun ngga menolong rasa tak aman ini.

Ia tak sendiri. Disampingnya berdiri 2 orang lelaki muda lain. Berderet. Melakukan aktifitas yang sama, kecuali ngobrol. Hanya lelaki plontos ini yang aktif membuka mulut. Gerakan mereka cepat dan tangkas karena banyak pesanan, untuk yang makan ditempat maupun bawa pulang sepertiku. Hanya karena semua serba cepat. Untunglah di tengah rasa tak nyaman, akal sehat masih bersuara, “Come on, relax!..Jangan terbawa rasa takut..atau kekhawatiran yang belum terbukti. Seberapa gila seorang pedagang akan melukai konsumennya sendiri yang sama sekali tak menyerang secara fisik maupun kata-kata?”.

Kurasakan mataku menyipit, mulut merapat dengan sudut bibir kiri bergerak menyudut ke arah pipi kiriku. Mengambil satu tarikan napas dalam, terhenti beberapa detik. Wajahku terasa membeku sesaat ingin mengucap, lalu menghembus napas perlahan. Sadar bahwa kemampuan berbahasa lokalku amat minim untuk mengeluarkan apa yang ada dikepala, akhirnya hanya kuangkat kedua bahu sambil tengadahkan kedua telapak tangan kearah langit. Kulempar senyum enggan serta alis terangkat. Kutatap lurus mata lelaki itu sambil berucap, “I don't know...whatever you say.”

Melihat ekspresiku, mata si plontos bolak balik antara panggangan dan aku yang berdiri berhadapan dengan mereka, terpisah oleh panggangan panjang diantara kami. Ia tak bicara atau mengerti bahasa Inggris..kutahu sejak awal obrolan singkat kami sore itu. Jarak antara kami berdiri hanya 1 meter. Kemudian si plontos yang wajahnya mewakili fitur umum suku etnis cina minoritas itu mencondongkan muka ke muka pemanggang disebelahnya, berbisik dengan suara masih dapat kudengar, “Ta bu shi muselin!”(2) sambil menggeleng dan mencibir. Saat mengucap matanya menatapku tajam beberapa detik, lalu kembali fokus pada panggangannya. Pemuda disampingnya tak mengucap sebuah bunyipun. Tak juga mengalihkan pandangan dari panggangan. Tangan kanannya sibuk mengipas cepat, tangan kirinya bergantian membolak-balik panggangan dan sesekali mengisap rokok. Aku merasa sedikit lebih nyaman melihat sikap lelaki yang lebih muda itu. Namun, tak tahan juga untuk menjawab sambil memandang lurus ke mata si plontos yang dugaanku berusia sekitar 40-an, “Wei san ma?(3)...because I am not wearing this?”(4). Tanyaku dalam bahasa campuran, sambil memperagakan gerakan berkerudung dengan tangan kanan.

Si Plontos terlihat berpikir beberapa detik, sambil menatap mataku denga tangan kanan tetap mengipas cepat panggangan, lalu menunjuk ke arah restoran lainnya disebelah restoran ini, restoran darimana seorang pelayan mengantar makanan pesananku beberapa menit lalu, “Bu! Yin wei ta shi…kafilun”(5). Sejenak kucoba cerna kata-katanya, dan, aaah, ngertilah aku apa maksudnya. Ia coba bilang kalo restoran itu bukan restoran muslim. Jadi olahannya pun dianggap tak halal. “Meishi..zhige qiezi he doufu!”(6), jawabku dengan tangan kiri mengangkat dan menunjukkan kantong plastik berisi 2 jenis menu olahan favoritku dan teman seasrama kampus; terong dan tahu tumis.

Lelaki itu mencibir, “bu shi..”(7) terhenti sejenak dengan mulut terbuka mencari kata. Matanya bolak balik cepat antara mataku dan sate-sate yang sedang dikipasnya. Lalu memajukan bibir bawahnya sambil menggeleng kepala beberapa kali, dan berkata sambil sekilas melempar pandangan dan wajah ke arah restoran dimaksud, “..buneng chi!”(8). Kupandang bergantian wajah dan gerak gerik lelaki plontos itu. Dari gerak gerik dan cara memerintah beberapa pemanggang lain ia terkesan sebagai bos restoran itu. Restoran yang ruang makan-nya berukuran sekitar 6 x 5 meter.

Masih tak percaya pada sikap dan perlakuan si plontos itu, aku pun kembali menghela napas dalam dan melepas perlahan. Kurasakan sesekali angin dingin menerpa pipi dan rambut sebahuku. Untungnya, paduan celana musim dingin pas dibadan, celana pendek jeans, 2 lapis kaos dalam tipis, jaket wool La Senza yang lembut , dan sepatu ceper musim panasku cukup menyelamatkan tubuh dari suhu kota yang baru 6 derajat Celcius namun cukup berangin. Walau ada kesal terhadap si plontos, faktor perbedaan pemahaman teks religi dan keterbatasan bahasa lokal lah yang membuatku memutuskan untuk tidak melayani sikap tak menyenangkan dia.

Walau demikian, masih juga si plontos berkicau beberapa kali mengatakan hal yang sama, “Ni bu  shi muselin” padaku langsung, atau...”Ta bu  shi muselin!” pada pemanggang disebelahnya sambil menunjuk-nunjuk ke aku. Seolah meyakinkan kami semua yang ada disitu bahwa aku pembohong. Bukan hanya pembohong, tapi juga pembohong dan kafir. Beberapa saat ada rasa geram dalam hati. Bukan atas apa yang ia ucap, karena buatku lagi-lagi, itu persoalan pemahaman dan interpretasi teks agama. Aku hargai dan hormati perbedaan di area itu. Tapi kegeraman tertuju pada kekasaran sikap yang ia beri sore itu.

Dalam salah satu pembicaraan dengan tamunya yang kelihatan ia kenal cukup baik, ia bahkan mengomentari sesuatu tentang Indonesia. Juga memberi informasi--entah apa--tentangku pada si tamu. Dalam bahasa yang tak kupahami tentunya. Tapi salah satu gerakan dan bahasa tubuh saat ia berusaha menjelaskan adalah gerakan meninju atau mungkin berkelahi? Entah. Aku tak peduli. Aku hanya ingin cepat sateku jadi, bayar, pulang, dan ngga akan pernah kembali ke restoran ini.

Terletak di luar restoran, tepatnya di atas pintu dan deret jendela, papan nama warna biru dengan tulisan karakter cina dan bahasa arab. Masih di papan itu juga, tertera deretan gambar menu, yang tak begitu jelas apa jenis makanannya. Cat papan itu mulai memudar. Posisi yang terlalu tinggi untuk dilihat detilnya pun tak menolong mata minusku – sekitar 3 meter dari lantai. Panjang panggangan sate yang menghadap jalan raya itu sekitar 2 meter-an dengan lebar sekitar 25 sentimeter. Area panggangan ini terletak di luar restoran, seperti umumnya restoran sate muslim lain di negeri ini.

Di pojok kiri terjauh dari posisiku berdiri ada sebuah meja persegi. Disana terlihat beragam kaleng bumbu tabur dan oles khas restoran Xinjiang, sebuah baskom besar entah untuk apa, pisau dapur besar besar, nampan persegi ukuran sekitar 30 x 20 sentimeter, dan pernak pernik lainnya. Di meja itu pula para pemanggang menyiapkan sate-sate sebelum dan sesudah di panggang. Para pemanggang itu adalah si lelaki plontos, pemuda berjaket kulit sintetis hitam ala rock star dan berambut gondrong sebahu, serta satu lagi pemuda yang keliahatannya usia 18-an tahun bertubuh kurus tinggi, yang sekaligus mondar mandir mengantar panggangan untuk para konsumenyang makan ditempat.

Dibelakang para pemanggang ada 2 lemari besar penyimpan sate mentah dan sayuran. Serta, tumpukan kerat minuman. Kerat minuman yang tingginya hampir mencapai langit-langit teras restoran. Kuperhatikan sejenak kerat-kerat itu, jelaslah itu kumpulan botol-botol...bir?! Restoran muslim dan alkohol. Sejenak tertegun. Namun segera, aku merasa tudingan sinis dan sikap kasar pemanggang sate ini menguap entah kemana...tak meninggalkan arti. Setitikpun. Aku hanya ingin pulang, menikmati sate Xinjiang, tahu dan terong tumisku.

Glosari:

(1)  Ni bu shi muselin: anda bukan muslim

(2)  Ta bu  shi muselin: dia bukan muslim

(3)  Wei san ma?: Kenapa?

(4)  Because Im not wearing this?: Karena saya tidak mengenakan ini (kerudung)?

(5)  Bu! Yin wei ta shi..kafilun: Bukan! Karena restoran itu non-muslim/kafir/tidak halal.

(6)  Meishi..zhige qiezi he doufu: Ngga apa-apa, ini Cuma terong dan tahu – untuk bilang ngga ada daging babi yang jelas identik dengan makanan haram buat muslim.

(7)  Bu shi..: bukan itu maksudnya..

(8)   Buneng chi: Jangan/ngga bisa dimakan – untuk mengatakan bahwa makanannya tak halal, atau kira-kira kata lain dari ‘muslim jangan makan disana’.

Inda Nurmah

/aktifistri

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Ditengah berbagai kelucuan-kegilaan dunia, menulis jd medium penghibur tuk jaga kewarasan. Maka disinilah saya, Menulis untuk menulis.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?